Dari dulu saya merasa Nikon itu paling jago kalau motret warna-warna kuning kecokelatan begini. Sekali lagi foto ini membuat saya yakin. Haqqul Yaqin.

Perjuangan pemberian ASI eksklusif itu luar biasa. Ladang jihad tak terkira oleh para ibu. Terpujilah para ibu yang setiap tetes air susu untuk anaknya adalah pundi-pundi pahala tak terkira. Setiap kesakitan karena lecet, bengkak, mastitis, adalah penggugur dosa-dosa. Insya Allah.

Lalu lintas di Jakarta itu mengikuti deret eksponensial. Kemarin berangkat jam 05:28, sampai kantor jam 06:55. Hari ini berangkat keluar rumah jam 05:23, sampai kantor jam 06:05. Harus presisi sampai ke menitnya karena setiap satu menit begitu bernilai. Jarak rumah ke kantor kurang lebih 14 km. Moda transportasi menggunakan kendaraan roda empat. Kalau roda dua deret matematikanya masih deret linear.

Akhirnya upgrade juga ke WordPress terbaru. Ada fitur baru, post type, yaitu Asides, catatan pinggir. Theme bawaannya juga keren, bikin semangat nulis. Saatnya bikin blog ini lebih kaya tulisan, meskipun ga penting kayak begini, hehehe…

Adanya Twitter dan Facebook membuat kemampuan menulis secara rapi, baik, dan benar menurun. Bahkan untuk menulis satu buat post yang utuh saja tantangan tersendiri dan sering numpuk di Draft tidak pernah terpublish.

Mungkin karena saya sendiri jadi memberlakukan “aturan” layak posting. Sehingga posting-posting ga penting seperti ini ga bisa masuk. Lho, blog aja kok banyak aturan. Yang penting nulis dulu.

Hari ini Zafran pertama kalinya bisa duduk sendiri. Caranya dari posisi mau merangkak, mundur-mundur sampai duduk. Sepertinya dia tidak akan melalui fase merangkak, kalau iya, ya sama kayak bapaknya dulu, hehe..