Sinyal-Sinyal Tubuh

Saya memang agak terlalu lama “menikmati” hidup pasca sembuh dari Covid Februari tahun lalu. Maksudnya, saya tidak membatasi makanan dan malas berolahraga seperti waktu sebelum kena Covid. Walhasil, pelan-pelan saya menggemuk seperti dulu hehe…

Hingga akhirnya tiba saatnya hasil MCU tahunan tiba. Tentu saja yang pertama: obesitas tingkat 1. Dan obesitas adalah awal dari penyakit-penyakit mengerikan yang terkenal sebagai pembunuh senyap: jantung koroner, diabetes, stroke, dkk. Beberapa indikator darah dan urine memberi peringatan saya terhadap ancaman bahaya itu. Semua ada di border atas lebih sedikit. Gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan asam urat.

Saya memang merasa sehat-sehat saja, tapi ya itu, kita tidak tahu kapan serangan itu datang.

Oleh dokter internist saya diberi obat penurun indikator itu dan disuruh minum selama sebulan untuk kemudian diobservasi kembali. Dan saya harus diet menurunkan berat badan. Memang ancaman penyakit adalah motivasi terbesar buat menjalani hidup cermat seperti sebelum kena Covid.

Seminggu ini minum obat, rajin olahraga (jogging di atas treadmill, sepeda statis, dan sepeda lipat keliling-keliling kota di weekend biar ndak bosan), saya merasa ada perubahan. Kepala terasa enteng (saya baru nyadar kalau selama ini saya mengalami semacam sakit kepala terus menerus — dan itu tidak dirasa). Tekanan darah waktu dicek sudah normal. Terus soal asam urat, ternyata saya bisa menggenggam jari-jari dengan lebih erat. Saya baru nyadar kalau selama ini seperti ada yang menghalangi jari kelingking saya untuk menggenggam erat. Rasa itu lama-lama hilang. Belum hilang, tapi berkurang.

Ternyata badan itu sudah memberikan sinyal-sinyal peringatan, tapi seringkali diabaikan karena tidak dirasa atau sudah terbiasa. Makanya MCU itu penting supaya objektif.

Sehat-sehat selalu teman-teman.

Leave a comment

Your email address will not be published.