Perahu Pinisi

Perahu pinisi di pelabuhan Sunda Kelapa, kota tua Batavia, Jakarta. Digambar dengan aplikasi Sketchbook di iPad Mini 6 dengan Apple Pencils sebagai stylus-nya.

Oke. Password sudah direset langsung di database-nya. Jadi sebenarnya, alasan tidak menulis karena lupa password itu tidak valid. Ya karena lagi nggak mau nulis saja. Kalau lagi tiba-tiba pengen nulis, ya nulis saja. Begitu.

Oke, next skill adalah melukis. Ini salah satu akibat dari definisi siswa teladan tahun 90-an yang mem-project bahwa seorang siswa teladan itu haruslah pintar di segala bidang. Sebuah konsep yang untungnya hari ini sudah diperbaiki menjadi: bahwa seorang anak memiliki kepandaiannya masing-masing, tidak harus kognitif. Masalahnya: saya terlanjur menjadi korban. Selain di-drill pelajaran sekolah, saya juga dimasukkan buat ikut les melukis. Dikarbit beberapa hari supaya bisa menari. Dimanipulasi supaya bisa nembang (menyanyi) macapat Jawa.

Dari sekian banyak skill yang harus dipelajari, saya ampun-ampunan di bidang olahraga. Just don’t try me to take a sport. Sampai hari ini. Tidak ada ekskul olahraga di kantor yang saya ikuti. Itu, yang kalau level bos-bos, ekskul-nya main golf.

Tapi jaman sekarang, melukis tidak perlu berlepotan cat air atau cat minyak. Cukup buka aplikasi tablet dan sebuah stylus yang baik.

Perahu pinisi ini inspirasinya dari postingan-postingan lama saya, yang alhamdulillah kok masih ada.

Ini dia:

3 comments

  1. wah, pinter ngelukis pula, apa sih yg njenengan ga bisa? dan olahraga, kata siapa ga bisa, itu buktinya punya sepeda hehe

Leave a comment

Your email address will not be published.