Cerita Terkena COVID-19

Waktu diobservasi di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan

Saya menulis ini dengan motivasi supaya teman-teman lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Bahwa protokol kesehatan mungkin tidak cukup.

Jadi bulan lalu, awal Februari, setelah hampir setahun kucing-kucingan dengan virus ini, saya akhirnya kena juga. Saya dan istri dinyatakan positif. Anak-anak dan mbak ART negatif, alhamdulillah.

Saya termasuk yang sangat strict dan parnoan menghadapi pandemi ini. Saya mengatur di rumah hanya keluarga inti saja yang berinteraksi. Idul Fitri dan Idul Adha tidak mudik. Anak-anak completely locked down di rumah ga pernah kemana-mana. Keluar hanya seperlunya, ke supermarket dan ke kantor kalau lagi jadwal WFO. Tidak ke mall, tidak ke restoran. Semua take away. Jalan-jalan hanya di dalam mobil: masuk tol dalam kota, mutar sekali, keluar mampir ke drive thru MacD, lalu pulang lagi. Saya melakukan kegiatan-kegiatan DIY untuk mengisi kebosanan.

Tapi fatigue itu nyata. Pandemi ini berlarut-larut dan orang-orang mulai keluar rumah. Pemerintah mendorong orang-orang untuk tidak takut keluar rumah agar ekonomi berjalan dengan memperkenalkan Protokol Kesehatan 3M: Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak. Plus Menjauhi Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas.

Saya tidak bisa memaksa tetap lockdown sendiri sementara lingkungan sudah tidak mendukung. Pelan-pelan standar keamanan saya menurun. Anak-anak mulai saya izinkan ikut turun ke supermarket dan mampir ke toko mainan buat sekadar melihat-lihat. Sekalian membiasakan mereka untuk memakai masker, faceshield, dan semprot-semprot hand sanitizer di tangan. Sekali saya ajak ke Kuntum Nursery di Bogor atas pertimbangan lokasinya outdoor dan kami datang pagi-pagi sekali. Begitu mulai ramai orang-orang datang, kami kabur pulang.

Saya selalu waspada dan observasi jika kami melakukan hal-hal yang berisiko itu, dan setiap kali “sukses”, saya tidak sadar ternyata kewaspadaan saya mulai menurun dan mulai percaya bahwa protokol kesehatan itu memang bisa menghindarkan kita dari pandemi.

Saya perlu menjelaskan latar belakang masalah ini supaya teman-teman mendapatkan gambaran bagaimana kami menghadapi pandemi ini.

Hingga di satu titik peristiwa di akhir Januari 2021. Tante kami meninggal dunia di Cirebon setelah sakit selama sebulan. Tante ini adalah adik dari ibu mertua saya. Mertua saya tinggal di Cirebon (kampung halaman ibu mertua) selama pandemi ini.

Istri ingin datang takziah. Sekalian ketemu orang tua. Ya sudah ayo berangkat, sehari saja pulang pergi. Ini akan jadi perjalanan keluar kota pertama kami. Bulan November, kami juga sudah sempat akan ke Cirebon, cuma tiba-tiba di hari kami akan berangkat, saya sakit Bell’s Palsy untuk kedua kalinya setelah 20 tahun (tapi ini cerita di posting berbeda saja ya).

Kami mengabari keluarga di Cirebon akan datang takziah. Tentu saja orang tua kami senang mendengarnya. Tentu saja juga, sampai sana jenazah sudah dimakamkan. Tidak mengapa, yang penting datang. Di sini, adik istri dan sepupu istri yang bekerja di Jakarta ingin ikut.

Ini kelengahan pertama saya: mengizinkan orang di luar keluarga inti masuk ke dalam mobil, confined space. Inipun masih ada 2 lagi saudara yang ingin ikut, tapi terpaksa saya tolak karena mencapai kapasitas yang diizinkan aturan PSBB. Jadi isi mobil adalah saya (A), istri saya (B), sepupu istri (C), dan adik kandung istri (D).

Di sepanjang perjalanan, kami memakai masker. Tapi ternyata C belum sempat sarapan karena buru-buru dari kantornya. Akhirnya mampir ke rest area Cipali buat beli makanan. Saya bilang, makannya gantian, supaya yang buka masker hanya satu.

Di perjalanan pulang di sore harinya, C tidak ikut karena akan menemani orang tuanya dulu dan akan kembali ke Jakarta naik kereta api. Karena takut makan di tempat umum, kami drive thru KFC di rest area. Bahkan kami tidak makan di rumah orang tua karena tidak ingin membahayakan orang tua kami. Tapi mungkin justru di sini transmisi virus itu terjadi. Sambil menyetir mobil balik, saya disuapi istri. Istri saya cuci tangan dengan hand sanitizer (di rumah sudah cuci tangan waktu wudhu sholat). Saya biasa disuapi ketika sedang nyetir, btw.

Di lokasi takziah, kami ketemu saudara-saudara yang sedang berduka. Saya pakai masker. Istri malah pakai tambahan face shield. Tidak salaman, tidak pelukan, bahkan waktu ketemu orang tua. Saya duduk di teras, istri duduk di dalam (karena memang ini keluarga besar dari istri). Orang-orang tidak ada yang menerapkan prokes. Masker kain yang seringnya hanya di dagu, dan tidak ada jaga jarak, karena ruangannya kecil. Di rumah duka sekitar 20 menit, kami lalu bermobil ke makam. Di makam sekitar 15 menit, lalu singgah ke rumah orang tua. Ngobrol sebentar dan shalat bergantian. Lalu pamitan untuk kembali ke Jakarta. Total waktu di Cirebon hanya 3 jam.

Gejala

Saya merasakan gejala beberapa hari setelah itu. Awalnya sakit kepala, lalu meriang seperti masuk angin. Malam harinya demam, berangsur panas mulai 37.5 – 39 derajat. Semalaman tidak bisa tidur karena kepala sakit sekali. Saturasi oksigen di Oxymeter 95%. Normalnya 95-99%. Saya cukup pede (atau denial) kalau ini Covid. Ini adalah flu biasa. Saya pegangan pada prokes dan anosmia (hilang bau). Saya tidak mengalami anosmia. Saya juga tidak diare.

Tapi setelah saya analisis ulang, ada beda antara flu dengan Covid meskipun bedanya tipis:

  • Sakit kepalanya jauh lebih sakit, sampai tidak bisa tidur
  • Kalau flu, sebelum demam, biasanya bersin-bersin atau tenggorokan sakit. Ini tiba-tiba setelah sakit kepala langsung demam
  • Kata dokter, saturasi 95% itu sudah berbahaya, yang bahaya bukan sesak nafasnya, tapi gagal nafasnya yang sering membuat “bablas”. Sekarang setelah sehat kalau dites oxymeter ada di 97%-99%
  • Hidung mampet, tapi tidak mbeler, dan selama isolasi itu tidak pernah mbeler
  • Demam terjadi hanya 2 hari. Di hari ketiga, suhu tubuh normal, tapi badan lemes dan kepala nggliyeng/puyeng. Lihat bahayanya. Viral load sedang tinggi-tingginya, tapi suhu sudah normal. Saya sangat bisa nulari siapapun. Rasa nggliyeng ini berlanjut sampai kira-kira seminggu.

Meskipun denial, saya berjaga-jaga langsung tidur pisah kamar sama istri dan anak-anak sejak sakit kepala dan demam itu. Isolasi di kamar sendirian. Mandi makan bekerja WFH di situ. Istri merawat dan menyiapkan semua kebutuhan saya. Hari keempat sudah merasa baikan, tidak lemas, tapi kepala pasing terasa nggliyeng. Bukan sakit ya, tapi berputar.

Nah di hari keempat inilah saya dikabari kalau saudara sepupu, si C, rapid antigennya positif waktu akan naik kereta api dan sedang akan test PCR. Saya langsung tidak punya pilihan selain laporan ke kantor bahwa saya kontak erat dan sedang bergejala flu. Oleh dokter disuruh test PCR sekeluarga.

Kalau tidak ada si C yang terkonfirmasi positif, tentu saya tidak akan PCR test karena menganggap ini flu biasa. Apalagi hari keempat sudah baikan. Tapi kemudian kesadaran baru menghantam saya: berapa banyak orang yang seperti saya? Kena Covid tapi tidak pernah merasa kena karena tidak pernah dites? Lalu beraktivitas bekerja seperti biasa pada saat viral load sedang tinggi-tingginya. Lha wong gejalanya sama persis kayak masuk angin atau flu. Hanya akan ketahuan kalau di test PCR.

Hasilnya. Saya positif dengan CT Value 17. Istri positif sebagai OTG (CT Value 34). Anak-anak negatif. Mbak-mbak ART negatif. Saya disuruh ke IGD RS Mayapada Kuningan buat diobservasi. Sementara istri bisa isoman di rumah. Tapi bagaimana cara ke rumah sakitnya? Kalau dijemput ambulan bisa bikin heboh tetangga sekitar. Kalau naik taksi/grab bisa nularin orang. Akhirnya saya nyetir sendiri ke rumah sakit. Setelah foto-foto sama anak bungsu saya yang sedang ulang tahun ke-4, saya berangkat. Alhamdulillah hasil test darah dan CT Scan paru-paru aman tidak perlu dirawat inap, bisa lanjut isolasi di hotel. Saya lanjut menyetir ke hotel Mercure Jakarta Kota dan menghabiskan 15 hari “dikurung” di sana sampai hasil PCR test menyatakan negatif.

Setelah dua minggu dikurung, siap-siap pulang setelah PCR test menyatakan negatif

Dari Mana Bisa Kena?

Kemungkinan pertama: si C sudah membawa virus dan transmisi terjadi di dalam mobil waktu makan. Ini membuat saya menyesal beberapa hari. Mungkin ceritanya beda kalau saya tidak turun kewaspadaan dengan tidak mengajak si C ikut masuk ke dalam mobil.

Tapi hipotesis ini gagal karena si D hasil PCR testnya negatif. Dan kemudian ketika keluarga Cirebon (kontak erat dengan C) melakukan test PCR ramai-ramai: ada 9 yang positif, termasuk mertua saya. Ini yang kemudian membuat kondisi istri saya jadi drop dan akhirnya bergejala dan bahkan harus rawat inap. Beruntung bisa dapat kamar di RS Mayapada. Saya panik sekali waktu itu. Saya dikurung di hotel, istri dirawat inap, anak-anak di rumah hanya sama mbak-nya. Saya tidak berani mengabari orang tua saya karena kalau sampai bapak/ibu nekat ke Jakarta, akan menambah risiko yang tidak perlu. Saya hanya mengabari kakak yang untungnya ada di Jakarta juga sehingga bisa ikut mengawasi dari jauh.

Jadi hipotesis kedua lebih masuk akal. Saya kena di tempat takziah. Hipotesis ini berdasarkan pernyataan saudara di group WA keluarga besar menanggapi bahwa 9 orang kena. Dia cerita kalau istrinya baru negatif 3 hari kemarin. Artinya, pada waktu di takziah, ia sedang positif! Dan ternyata ia ada di sebelah istri saya!

Dari sini ketahuan faktor “Menjaga Jarak” tidak dipatuhi, bisa langsung kena meskipun 2M lainnya dipathui. Artinya sebenarnya yang kena duluan adalah istri. Tapi mungkin kondisi imunnya bagus, jadilah OTG, sementara saya ngedrop karena kelelahan menyetir Jakarta Cirebon PP. Lalu hari minggunya saya sempat kehujanan. Akhirnya saya duluan yang bergejala. Istri saya langsung bergejala dan harus dirawat karena mendengar kabar orang tua dua-duanya positif. Ada komorbid pula. CT Valuenya langsung ngedrop ke 27 dan CT Scan paru-paru menunjukkan gejala awal pneumonia (radang selaput paru-paru — khas Covid) sehingga perlu mendapatkan perawatan.

Penutup

Apakah jadinya prokes masker tidak berguna? Justru saya rasa sebaliknya. Maskerlah yang jadi penyelamat kami dari gejala yang berat. Sembilan orang bergejala ringan hingga sedang, termasuk mertua yang punya komorbid. Bisa jadi ceritanya berbeda kalau kami tidak patuh protokol kesehatan. Prokes bukanlah benteng yang kuat buat menghadapi serangan virus, tapi kalaupun bentengnya jebol, jumlah yang masuk tidak akan sebanyak kalau tidak ada benteng ini, sehingga gejala yang timbul hanya ringan hingga sedang.

Alhamdulillah, semua sudah lewat, semua selamat melalui krisis ini. Menjadi pelajaran berharga bagi kami semua. Dan semoga postingan ini menjadi pengingat buat teman-teman juga, supaya tidak pernah mengendorkan kewaspadaan sedikitpun. Saya, sekali keluar kota, langsung kena. Mungkin ada pertanyaan — yang agak ngiri — kenapa mereka yang kelihatannya tidak patuh prokes malah tidak kena? Bisa jadi beruntung, atau bisa juga yang lebih mungkin, mereka pernah kena, tapi dianggap masuk angin biasa karena setelah diminumi jamu tolak angin, tiga hari sudah sembuh lagi.

Akhirul kalam, semoga kita semua sehat-sehat selalu, jangan kendorkan kewaspadaan. Pandemi masih akan berlangsung lama…

1 comment

  1. yg pertama, alhamdulillah blog ini kembali update, hehe berguna ini mas ceritanya biar orang-orang pada waspada dengan penyakit yang ga main-main ini.

    dan iya walaupun kita sudah ketat sekali dengan prokes, tp kalo sdh kejadian, ada aja jalannya tertular virus entah dari siapa dan bagaimana.

    semoga ga ada infeksi lanjutan ya mas, dan kita sehat2 semua. bagi yg tetap berkeras denial dan tidak mematuhi prokes, ya mau gimana lg, cuma bisa berdoa semoga mereka ga tertular penyakit yg bener-bener ga asik ini..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *