IoT Monitoring Pompa Air: Setelah Satu Bulan Berjalan

Di postingan sebelumnya, ada komentar dari Mas Reza Prama Arviandi, sbb:

Keren sekali mas, kalau sudah beberapa bulan mohon di bandingkan mas, ketika penggunaan sistem ini dan ketika tidak memakai.

Mungkin bisa kelihatan seberapa manfaat besarnya.

Oh ya, salam kenal mas.

Setelah sebulan berjalan, ternyata alat ini sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi dari pompa air. Dan benar, ketika ada masalah, bisa dideteksi dari awal. Ada pengetahuan baru lagi soal per-pompa-an yang bisa didapatkan selain untuk mendeteksi pompa yang air gagal naik.

Setelah seminggu alat ini saya pasang, saya mendapatkan rata-rata running time untuk pompa ini adalah sekitar 35 menit. Tentu saja tergantung air yang terpakai. Jika dipakai mandi semua orang, pompa bisa bekerja sampai sejam lebih. Tapi kalau dipakai untuk wudhu aja, hanya sekitar 10 menit air toren sudah terisi penuh. Dari situ didapatkan angka rata-rata sekitar 35 menit.

Ini waktu pemakaian rata-rata mulai naik ke satu jam

Kemudian tiba-tiba saya perhatikan angka rata-rata ini naik terus. Pompa mulai sering menyala lebih dari 3 jam. Bahkan 4 jam. Padahal amper pressure gauge normal. Rata-rata ini dari yang awalnya 35 menit menjadi 60 menit lebih. Pasti ada yang tidak beres pikir saya. Saya segera memanggil tukang pompa langganan untuk memperbaikinya.

Sayang sekali orangnya tidak memberikan solusi karena pompa masih bisa mengisi toren sampai penuh. Saya bilang, iya bisa penuh tapi lama sekali. Dia jawab ya karena airnya dipakai banyak aja itu pak. Saya minta buat pipanya diangkat buat dibersihkan dari lumpur seperti yang sebelum-sebelumnya. Tapi bapaknya menjawab orang yang biasa menangani itu sudah mudik. Waktu itu adalah hari terakhir Ramadhan, besoknya lebaran. Kondisi PSBB tapi orang masih bisa mudik. Begitulah ya.

Baiklah kalau begitu. Tapi saya tidak puas karena alat monitoring saya menunjukkan gejala tidak beres. Akhirnya lagi-lagi saya nonton Youtube buat cari referensi mengenai pompa air.

Yang pertama saya buka dulu lubang tempat pancing, lalu saya nyalakan pompa air. Pressure gauge menunjukkan angka 0 tapi air masih bisa keluar. Dan benarlah, tak lama kemudian keluar lumpur cokelat dari situ. Lumayan banyak. Ini yang menyebabkan pressure gauge menunjukkan angka 1 psi lebih tapi tidak ada air yang ikut naik ke atas. Tapi saya tetap tidak bisa membongkar pipa buat membersihkan lumpur. Dari Youtube ada cara untuk membersihkan pipa tanpa harus angkat. Tapi saya masih belum berani mengotak-atik pompa sampai sejauh itu.

Kondisi ini saya biarkan sampai menunggu weekend datang. Pompa tetap bekerja lama sekali. Rata-rata running time terus naik sampai 75 menit. Saya harus bisa memastikan jumlah air yang bisa dibawa. Pressure gauge ternyata bukanlah indikator yang menunjukkan aliran air, hanya tekanan saja. Tapi saya tidak ada akses naik ke toren di atas atap lantai dua (dan tidak berani) untuk melihat seberapa kecil debit airnya.

Akhirnya saya menemukan ide untuk mengalirkan air keluar melalui jalur pancingan air. Saya bikin jalur pipa dengan stop kran (ball valve) sebagai pengatur tekanan. Sementara aliran pipa dari pompa menuju toren utama di atas saya tutup penuh stop krannya.

Kemudian saya nyalakan pompa dan mengatur-atur stop krannya. Aliran air masih baik dan stabil. Tapi dengan pengaturan stop kran yang sebelumnya, membuat aliran air terlalu kecil. Tekanan air tinggi (ditunjukkan pressure gauge di atas 1), tapi akibatnya debit air sangat kecil. Ini yang membuat pompa masih bisa mengisi air toren sampai penuh tapi butuh waktu sangat lama. Sebaliknya, jika stop kran dibuka lebar, debit air membesar, tapi akan membuat pompa kehilangan tekanan sehingga air tidak bisa naik. Nah, di sini kita harus mengatur stop kran supaya mendapatkan hasil yang optimal. Untuk mendapatkan air sebanyak-banyaknya, kita harus membuat tekanan sekecil-kecilnya, tapi tidak sampai membuat aliran air mati karena kehilangan tekanan. Tekanan terkecil yang stabil adalah pengaturan yang optimal.

Ini saya tidak ketahui sebelumnya. Saya pikir dengan mengatur pressure gauge naik di atas 1, aliran air juga akan besar. Ternyata tidak begitu cara kerjanya, hehehe…

Akhirnya sampai sekarang pompa air bisa berjalan normal. Angka rata-rata running time turun drastis ke angka 28 menit saja. Saya hitung kasar debit air yang diproduksi sekitar 4 liter per menit. Sangat optimal. Sekarang tekanan yang ditunjukkan oleh pressure gauge antara kondisi ON dan OFF hampir tidak ada bedanya. Sistem machine learning saya sudah gagal membedakan mana yang ON dan mana yang OFF. Saya saja sudah tidak bisa membedakan. Perlu dibuat training data set lagi kalau kondisi tidak normal adalah ketika jarum menunjukkan angka 0. Kalau seperti yang di gambar ini berarti normal. Saya harus membuka lubang pancingan dan menyalakan pompanya lalu sistem akan mengumpulkan data pada waktu kondisi tidak normal.

Tapi itu nanti saja. Jangan otak atik pompa yang sedang bekerja dengan baik. Takut malah rusak hehehe…

Kondisi terbaru. Rata-rata running time adalah 28 menit. Di bulan Juni ini, total waktu pompa menyala adalah 77 jam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *