IoT Monitoring Pompa Air: Tentang Sensor Voltage

Tadinya saya ingin menyalakan sistem monitoring ini hanya ketika pompa menyala. Jadi sumber dayanya saya ikutkan ke colokan listrik pompa air yang terhubung dengan mekanisme mati-nyala otomatis yang ada di toren di atas. Ketika menyalakan sistem kamera Raspberry Pi, saya baru kepikiran mekanisme ini akan membuat komputer sering mati tanpa shutdown yang mana tentu saja ini tidak baik.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil catu daya sendiri dari listrik utama untuk sistem Raspberry Pi. Problemnya, saya jadi perlu sensor untuk mendeteksi kapan pompa mati kapan pompa menyala.

Saya pakai sensor tegangan ZMPT101B yang murah tersedia banyak sekali di toko online. Ini adalah sensor analog. Kalau diplot, data yang tampil berupa gelombang sinusoidal. Ya memang tegangan listrik rumah adalah AC (alternating current) yang bentuknya gelombang sinus dengan frekuensi 50Hz.

Saya kurang mengerti bagaimana hitungan untuk mendapatkan angka tegangan yang didapatkan sensor (misalnya 220 Volt), tapi untungnya dalam kasus ini, angka presisi tidak diperlukan karena hanya perlu mendeteksi kondisi mati dan menyala saja. Jadi yang saya lakukan adalah mendapatkan angka maksimum sensor dan angka minimum sensor. Selisih angka ini menjadi dasar deteksi menyala atau mati. Dalam kalibrasi, jika selisih lebih dari 100 berarti menyala, jika kurang dari itu, berarti mati.

Hasil pembacaan sensor ini dibaca oleh sebuah microcontroller. Saya memakai WeMos D1 Mini bekas project IoT monitor energi listrik rumah. Microcontroller ini kemudian melakukan pemanggilan Web API melalui HTTP untuk memberitahukan kondisi tegangan. Saya tidak berhasil menghubungkan WeMos D1 Mini ini ke Raspberry Pi (otak monitoring) melalui mekanisme GPIO. Jadi di Raspberry Pi saya buatkan sebuah web server yang menerima inputan 1 dan 0 dari HTTP. API ini akan update database untuk pengolahan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *