IoT Project Update: Mengumpulkan Peralatan

Saya condong ke solusi mengawasi pompa dengan kamera. Non-invasif. Yang membuat menarik adalah nanti ada machine learning tentang mengenali gambar. Skripsi S1 saya dulu juga soal pengenalan gambar. Dengan teknologi yang ada saat itu: mengenali pola fraktal. Sekarang dengan perkembangan komputasi dan penyimpanan, metode machine learning lebih efektif dan efisien.

Solusi yang lebih IoT adalah pakai sensor. Tapi invasif — harus ada intervensi langsung ke pompa air. Mengganti pressure gauge dengan sensor tekanan. Atau memasang sensor aliran air di pipanya. Memotong pipa, kemudian menyisipkan sensor ini. Invasif sekali. Belum tentu juga berhasil. Pengalaman dengan sensor analog begini kurang menyenangkan waktu bikin IoT pencatatan konsumsi energi listrik rumah.

Mesin penangkap gambar.

Saya ada handphone Xiaomi Mi A1. Tapi rasanya kok ndak worth it ponsel yang masih bagus itu cuma buat kamera begitu. Mendingan buat nge-game. Lagian ada challenge yang saya tidak yakin bisa diselesaikan dengan mudah: Bikin program Android yang bisa mengambil gambar meskipun sedang tidak aktif. Saya tidak terlalu menguasai pembuatan software di Android.

Saya memilih pakai pendekatan Raspberry Pi. Sudah pernah ada pengalaman bikin CCTV dengan Raspberry Pi. Tahun 2013. Waktu menempati rumah baru wkwkwk… Saya ada Raspberry Pi 2 jadul yang tidak terpakai. Saya cek ternyata masih jalan dengan baik. Hanya perlu diformat ulang dan diberi sistem operasi baru. Saya memasang Raspbian Buster sebagai sistem operasi.

Untuk kamera, saya ada webcam Logitech yang pernah dipakai buat CCTV. Saya cari webcam-nya ternyata tergantung di luar rumah. Kehujanan dan kepanasan. Colokan USB-nya karatan. Saya coba ke notebook masih terdeteksi sebagai webcam. Sayang gambar yang terambil sudah tidak bagus. Ngeblur. Berarti harus beli modul kamera baru. Saya pilih modul kamera bawaan Raspberry Pi. Tidak terlalu mahal dan sudah bisa menangkap gambar HD.

Kemudian saya memerlukan adanya bantuan cahaya. Lokasi pompa air ini tertutup kotak seng. Kalau malam hari gelap gulita. Pilihannya adalah bikin lampu LED pakai high power LED. Cuma ini perlu rangkaian tambahan yang disebut driver. Ribet. Jadi saya memilih solusi pakai lampu bohlam AC biasa tapi yang LED. Untuk urusan nyala mati-nya diatur pakai relay. Relay-nya akan dikendalikan dari pin GPIO Raspberry Pi — yang artinya bisa dikendalikan program.

Jadi ini daftar belanja saya untuk melengkapi project ini:

  • Raspberry Pi camera modul. Tokonya bilang kompatibel dengan Raspberry Pi 4 dan 3. Punya saya seri 2. Mudah-mudahan kompatibel juga.
  • Relay DC input 5V 1 channel
  • Konektor/jumper female-to-female untuk mehubungkan pin GPIO Raspberry Pi ke relay module
  • Power supply Raspberry Pi 3A. Perlu arus yang besar karena akan ada kamera dan relay

Sementara itu dulu. Masalah koneksi saya berharap akan bisa melalui Wi-Fi. Kalau tidak bisa karena lokasinya di belakang rumah, terpaksa harus ngolor kabel LAN buat disambung ke switch router rumah.

Demikian updatenya. Sekarang menunggu kiriman paket itu datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *