Ide Membuat Monitoring Pompa Air

Masalah pompa air di rumah ini cukup krusial. Rumah saya belum ada jaringan PDAM yang lewat — agak mengherankan juga karena masih masuk wilayah DKI. Jadi masih mengandalkan jetpump air tanah. Air ini dinaikkan ke toren di atas atap yang tidak seberapa besar sebagai buffer sementara.

Beberapa kali kami kehabisan air karena pompa ini tidak bisa bekerja semestinya. Beragam masalah terjadi seperti filter bawah bocor, lumpur memenuhi pipa sehingga air tidak mau naik ke atas, air tanah yang sudah turun sehingga harus diperdalam, sampai hal yang paling simpel seperti masuk angin. Simpel karena hanya perlu mematikan pompa, lalu “memancing” air naik ke atas dengan mengisi pipa dengan air. Begitu pompa dihidupkan lagi, kalau tidak ada masalah yang lebih serius, air akan naik lagi dengan normal.

Masalahnya justru ketahuannya ketika sudah air buffer di toren sudah habis. Tidak ada air lagi buat memancing pompa. Harus minta air tetangga. Dari sinilah muncul ide bagaimana jika membuat sebuah sistem monitoring yang akan memberikan peringatan dini ketika air tidak bisa naik sehingga bisa ketahuan sebelum buffer air di toren habis.

Begini spesifikasinya. Harus high-tech biar menantang dan menarik. Berbasis internet of things yang bisa memberikan peringatan ke ponsel saya. Syarat selanjutnya, harus menggunakan biaya seminimal mungkin, memanfaatkan barang-barang yang sudah dipunya.

Ketika pikiran saya mengarah ke ide IoT, saya terpikir sensor apa yang bisa dipakai. Di pompa air terdapat indikator tekanan (pressure gauge) analog yang tukang pompa menyebutnya sebagai Ampere. Ini bisa saya ganti jadi sensor tekanan digital yang bisa disambung ke Arduino, data lalu dikirimkan ke server. Jika kondisi pompa menyala tapi tekanan di bawah treshold, sistem akan mengirimkan notifikasi ke email saya.

Syarat pertama soal high-tech sudah terpenuhi. Syarat berikutnya sayangnya tidak. Untuk Arduino saya sudah punya sebuah NodeMCU. Tapi sensornya ternyata harganya mahal, 200-an ribu sendiri. Mari cari alternatif lainnya.

Ide berikutnya adalah mengawasi indikator tekanan itu dengan sebuah kamera. Ini mestinya lebih sederhana dan alternatifnya banyak. Saya punya webcam dan raspberry pi yang tidak terpakai. Ini bisa diprogram untuk mengambil gambar secara periodik. Alternatif lain, saya masih ada handphone Mi A1 yang kondisinya masih bagus tapi tidak terpakai. Tantangannya, saya harus bikin program di Android supaya bisa akses kamera dan mengirimkannya ke server.

Semua syarat terpenuhi. High-tech dan biaya murah. Tapi cukup merepotkan. Setelah mendapatkan gambarnya, saya harus bisa membedakan mana gambar jarum tekanan yang ada airnya dan mana yang tidak. Yang tidak itu yang harus saya deteksi dan men-trigger sinyal untuk mengirimkan notifikasi bahwa pompa saya tidak beres.

Cara yang kepikiran saat ini: menggunakan machine learning. Saya tinggal bikin data set untuk training sistem supaya dia mengenali dua macam gambar ini. Wah, malah makin high-tech ini.

Tapi saya tahu ada constraint berikutnya yang seringkali menghalang-halangi terwujudnya ide-ide saya. Waktu. Saya ini kebanyakan ide dan punya sedikit waktu buat mengeksekusinya, hehehe… Tidak mengapa, yang penting ditulis dulu. Langkah pertama adalah membuat Raspberry pi tua saya jalan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *