Mulai Baca Buku Bumi Manusia

Sembilan tahun yang lalu, saya mulai membaca Pramoedya Ananta Toer. Mulai dari Anak Semua Bangsa, gara-gara dengar kabar kalau roman seri satunya, Bumi Manusia adalah cerita yang sedih. Khas roman sih. Siti Nurbaya juga kisah tragedi kan.

Waktu muncul film Bumi Manusia (Hanung Bramantyo) yang kontroversial karena mengambil cast Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, saya tidak menonton karena yakin pasti filmnya tak akan mampu menginterpretasikan novel dengan baik. Saya tambah yakin ketika akhirnya saya membaca buku ini, di awla tahun 2020.

Sampai sekarang belum selesai saya bacanya. Menikmati betul halaman demi halaman. Seperti menaiki mesin waktu lalu kembali ke tahun 1900-an. Ke Wonokromo yang masih berhutan. Membayangkan bagaimana bentuk dan suasana pabrik gula Tulangan Sidoarjo pada masa jayanya. Pabrik gula adalah sisa peninggalan masa lalu yang masih sangat terasa auranya sampai sekarang. Lihatlah rumah-rumah dinas di depan atau di samping pabrik. Model Belanda, halaman luas. Bayangkan pejabat-pejabat pabrik yang bergitu berwibawa dengan pakaian Eropa-nya.

Gambaran kecil ini modal saya untuk membayangkan suasana di novel Bumi Manusia. Kesan saya, Indonesia jaman dulu lebih multinasional daripada jaman sekarang. Begitu banyak orang Eropa. Ya iyalah, namanya juga lagi dijajah Belanda. Dan orang Jawa yang sangat feodalistik dengan tata bahasa yang rumit dengan tiga tingkatan yang otomatis membikin jarak.

Itu saja dulu. Sedikit-sedikit saja review-nya. Seperti bukunya yang konfliknya berjalan pelan-pelan dengan santai dan detail.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *