Journey Menuju Hidup Sehat. It’s Tough!

Membiasakan diri untuk hidup sehat itu seperti membiasakan diri untuk menabung. Tantangannya berat baik dari internal atau eksternal! Kalau di keuangan, tekanan eksternal itu adalah budaya kita yang konsumtif, belanja ini itu yang tidak penting, nongkrong di kafe, sampai liburan ke luar negeri. Tekanan itu datang bertubi-tubi lewat Instagram, WhatsApp group, dan Facebook. Sudah membudaya. Adalah aneh jika kita membelanjakan uang untuk berinvestasi atau berasuransi. Selain aneh, tak bisa dipakai buat humblebrag — pamer.

Sama seperti hidup sehat. Budaya kita bukanlah budaya yang sehat. Mana ada kuliner yang sehat? Coba cari kuliner yang tidak mengandung unsur berbahaya ini: nasi putih, minyak goreng, tepung, susu sapi, dan gula pasir. Kenapa saya sebut berbahaya? Hanya dengan cara inilah kita bisa mulai mengendalikan ketergantungan kita terhadap lima unsur itu. Dengan menanamkan mindset bahwa benda ini berbahaya untuk dimakan.

Setidaknya saya sudah berhasil menghindari mie instan dan ayam goreng tepung KFC MacDonald’s, dan gorengan pinggir jalan. Saya belum bisa lepas dari nasi putih (di luar rumah susah sekali mencari nasi merah), tepung-tepungan (roti, mie, kue yang enak-enak itu), gula pasir (karena benda ini juga sangat populer seperti halnya nasi putih). Hanya saja saya sudah bisa menguranginya dalam jumlah yang banyak.

Hal yang susah dilakukan juga adalah kebiasaan berolahraga. Sesungguhnya olahraga itu membosankan karena sifatnya berulang-ulang. Berenang menyenangkan, tapi jalan ke tempat berenang itu yang perlu usaha dan waktu khusus. Belum lagi kalau hujan atau kerja lembur. Gagal sudah jadwal yang sudah diatur. Metode interval HIIT seperti Freeletics dan CrossFit bisa dilakukan di rumah, tapi selama ini saya hanya tahan maksimal 2,5 bulan melakukannya secara rutin, setelah itu harus jeda 2-3 bulan.

Jadi begitulah. Memang perlu lingkungan yang selalu memotivasi. Hidup sehat dengan harapan bisa hidup lebih lama. Buat anak-anak.

Di kebun raya Cibodas dengan Zafran yang baru berumur setahunan

Ini tahun 2015. Berat badan 92 kg. Foto ini yang selalu memotivasi saya. Hampir kena diabetes. Ini kali pertama saya memfollow-up hasil MCU yang menunjukkan angka kolesterol trigliserida dua kali lipat dari seharusnya.

Di Bandung, polo shirt yang sangat jarang dipakai setelah itu

Setelah itu, ini foto tahun 2017. Titik terkurus saya. 75 kg. Di sinilah godaan muncul dua kali lebih hebat dari sebelumnya. Karena merasa sudah sampai tujuan. Secara perlahan, saya kembali ke berat badan 84 kg di tahun 2019. Naik sembilan kilo dalam waktu dua tahun.

Bulan Mei tahun 2019, saya mulai Freeletics lagi. Setelah kembali dari penugasan di induk perusahaan. Ternyata jauh lebih susah turun daripada dulu. Saya berhenti Freeletics dan fokus ke makanan dengan mengikuti ceramah dr. Zaidul Akbar. Menghindari lima unsur makanan yang berbahaya itu. Hasilnya mulai terlihat. Sekarang saya ada di 79 kg. Tapi mentok ga bisa turun lagi.

Jadi mulai tadi malam, saya buka lagi aplikasi Freeletics yang secara tidak sengaja subscriptionnya diperpanjang otomatis (padahal kalau saya tahu saya akan berhenti subscribe). Ya sudah, mari kita mulai kembali!

Mulai berolahraga lagi di Kalimantan Timur

Foto ini adalah progress bagaimana 84 kg ke 79 kg dengan susah payah. Baju hijau adalah bulan Mei 2019 mulai Freeletics lagi. 84 kg. Diakhiri bulan September 2019. Sekitar 80 kg. Dan paling kanan adalah kondisi tadi malam. Entah berapa beratnya.

Postingan ini dibuat untuk memotivasi diri sendiri bahwa progress itu memang ada walaupun kecil. Ketimbang berat badan, sepertinya foto lebih bisa memotivasi. Timbangan itu kesannya lebih menakutkan.

2 thoughts

  1. Maaaasss… Aku susah banget kalau mau olahraga. Kalau untuk makan, sepertinya bukan masalah ya buatku. Maksudku, mengatur makan bukan kendala besar karena memang pada dasarnya aku susah makan. Jadi, pas mengurangi ini itu ya mudah saja. Tapi, olahraga ini lho yang susah banget. Huhuhu.

    1. Harus cari teman yang satu visi lalu bikin komunitas kecil kayak selebgram itu lho, Kimi. Ngumpul aja di taman yang mudah diakses sama semuanya, terus nggelar yoga mat di situ. Atau kalau ada budget lebih bisa ikut komunitas gym (ndak harus Fitness First atau Celebrity yang mahal), ikutan yang di-endorse selebgram itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *