Dimensi Waktu dan Relativitas

Gara-gara nonton video Prof. Brian Cox (Is Time Travel Possible?) mengenai bahwa time travel itu memungkinkan, saya jadi berpikir ulang, sebenarnya apa sih ukuran waktu itu? Kenapa Albert Einstein memasukkan waktu dalam teori relativitasnya? Dan mengapa dalam analogi yang dijelaskan Prof. Cox tersebut menggunakan lampu yang bergerak? Apa hubungannya antara waktu dengan objek yang bergerak secepat kecepatan cahaya?

Setelah saya renungkan kembali, akhirnya saya tersadar. Dimensi waktu adalah dimensi yang erat kaitannya dengan gerak. Bagaimana kita mengukur waktu? Bagaimana kita menghitung penanggalan? Dengan mengacu ke gerak semu matahari (revolusi bumi) dan gerak rotasi bumi dan revolusi bulan! Yang pertama namanya kalender syamsiah, dan yang kedua kita sebut kalender qomariyah.

Dari pemahaman itulah saya mulai bisa memahami bahwa waktu adalah hal yang relatif. Buat manusia yang ada di bumi, waktu sehari semalam adalah waktu yang dibutuhkan bumi berotasi relatif kepada matahari. Buat manusia yang tidak mengacu ke bumi, ukuran sehari semalam tentu berbeda lagi.

Dari sini jugalah akhirnya saya mentadaburi ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa satu hari akhirat sama dengan sekian tahun (40 tahun atau bahkan 1000 tahun). Ayat ini menjadi terasa begitu teknis dan ilmiah, bukan lagi terasa spiritual.

Apa jadinya jika bumi tidak berotasi dan ber-revolusi? Tentu tidak ada dimensi waktu. Apa jadinya jika kita tidak mengenal waktu? Apa jadinya jika sepanjang hari melulu gelap? Atau terang terus tidak ada perbedaan intensitas pagi siang sore? Dee Lestari dalam novel Gelombang menggambarkan sunyavima, tempat ketika Alfa jatuh dari Asko. Sesuatu yang gelap, mengambang, tanpa ada harapan ada perubahan. Sesuatu yang mengerikan ketika itu bisa saja abadi.

Mungkin itu juga yang dimaksud ayat pertama Surat Al-Ashr. Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali…

Waktu hampir semacam ilusi seolah-olah hidup ini adalah sebuah timeline. Tapi jika dimensi ini ditarik, maka sesungguhnya kita ini hanya semakin menua dan menunggu saat kita melanjutkan hidup ke alam yang tidak dibelenggu oleh dimensi waktu. Maka jika waktu yang sebentar ini tidak diisi dengan beramal sholih dan beribadah kepada Allah, alangkah ruginya.

Begitu.

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *