Nasib Kamera (dalam Arti yang Sesungguhnya)

Saya kemarin ke IKEA. Saya bawa kamera MLS saya yang Fuji Film itu. Baru tiba di lobi, saya mulai foto sana-sini. Awalnya masih pakai HP. Xiaomi Mi A1. Biasa saja. Terus saya tidak sengaja melihat ada pengunjung yang bawa kamera MLS juga. Akhirnya saya keluarkanlah itu kamera Fuji. Baru dapat dua jepretan, sudah dihampiri Satpam. Tidak boleh memotret di lingkungan IKEA.

Nah kan. Sudah saya duga. Sepuluh tahun yang lalu saya sudah biasa mendapatkan peringatan begitu. Padahal jaman sekarang, kamera HP sudah sama kualitasnya dengan kamera biasa. Bahkan kalau dibandingkan dengan kamera saku, sudah lebih baik kamera HP. Malah buat flagship smartphone semacam P30 Pro, S10+, mereka sudah bisa merekayasa bokeh nyaris secara natural.

Alih-alih memanjangkan/membesarkan lensa — yang konon ada konvensi bahwa kamera HP tidak boleh pakai lensa optik besar — mereka memasang 3 lensa dengan panjang fokal berbeda-beda, lalu dari 3 lensa itu dilakukan rekayasa digital dengan AI untuk membuat bokeh yang natural.

Lalu para Satpam tetap menganggap yang begini hanyalah HP biasa, yang tidak perlu ditegur.

Saya tidak marah atau tersinggung. Saya 100% memaklumi. Para Satpam sekadar menjalankan tugas. Kamera MLS ke atas akan dianggap sebagai “kebutuhan komersial” sementara kamera HP akan tetap menjadi “koleksi pribadi” yang tentu saja diperbolehkan.

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *