Kelas Menengah yang Haus Pengakuan

Kadang-kadang saya heran melihat teman-teman yang sudah punya anak namun gaya hidupnya tetap tidak berubah.

Ayah, masih menekuni hobi yang mahal macam sepeda gunung yang harga frame-nya bisa buat beli Brio baru. Atau fotografi (emang hobi ini masih ngetren ya? Kayaknya sudah tidak serame dulu sejak smartphone dan IG menguasai dunia fotografi). Atau modifikasi mobil/motor.

Sementara Ibu juga tidak mau kalah. Tampil sebagai sosialita tanpa cela. Atau sosialita kekinian yang syar’i dengan jargon hijrah-nya. Hijab dan baju mahal dengan asesoris tas mulai dari Coach. Naik sedikit Fendi atau Tory Burch. Ndak puas atau panas ketika tahu sahabatnya juga bisa pakai, naik kelas lagi ke LV. Begitu seterusnya sampai Hermes, kalau mampu.

Apakah mereka tidak sadar jika di masa yang tidak terlalu lama lagi, biaya pendidikan anak sudah menunggu. Hey, mungkin saya julid, sirik ya, namanya juga punya banyak uang. Orang kaya mah bebas. Tapi kebanyakan, mereka tidak sekaya itu. Mereka hanya ingin terlihat kaya. Mereka adalah keluarga kelas menengah yang penghasilannya yaaa kurang lebih rata-rata lah. Memang ada yang benar-benar kaya ya, dari keluarga pengusaha sukses turun temurun. Tapi jumlahnya tidak banyak.

Kelas menengah memang butuh pengakuan. Butuh definisi. Makanya sekuat tenaga untuk berada di tingkat gaya hidup yang maksimal. Penghasilan habis buat menghidupi gaya hidup. Pagi Starbucks, siang restoran cepat saji, malam kedai kopi yang fancy. Kemana-mana naik mobil baru yang dibeli lewat leasing lima atau enam tahun yang nanti ketika sudah lunas segera ambil mobil baru lagi. Smartphone iPhone atau Samsung dari tipe terbaru dan termahal. Di akhir tahun, jalan-jalan ke luar negeri pakai tiket yang dibeli dari Travel Fair setahun sebelumnya. Lalu foto-foto demi konten di Instagram. Atau jika keluarga tersebut sedang semangat berhijrah, setiap tahun pergi umrah pakai agen travel hemat. Jangan lupa nanti foto-foto di depan Masjid Nabawi dan Ka’bah dengan menyertakan tagline yang khas “Masyaallah, Tabarakallah”.

Gaya hidup konsumtif atau hedonis ini adalah gaya hidup standar di kota besar Jakarta. Tidak ada yang mencoba mengingatkan. Bahkan gerakan hijrah yang digandrungi sama sekali tidak menyentuh area ini. Bukannya mengerem tapi malah mengkapitalisasi. Mungkin justru karena inilah gerakan hijrah ini mendapat sambutan yang luar biasa. Hanya perlu mengubah gaya bahasa (antum, ana, akhi, ukhti, qadarullah, masyaallah), kebiasaan konsumtif tidak dilarang (hanya saja berubah jadi “syar’i” ya). Ustadz-ustadz-nya malah membuka lini bisnis baru seolah-olah tidak mau ketinggalan potensi pasar yang terbuka lebar.

Padahal ketika orang itu benar-benar kaya, mereka bergaya hidup sederhana. Seperlunya saja. Paradoks uang. Ketika uangnya tidak ada atau ada sedikit saja, semua ingin dibeli. Ketika uangnya tersedia melimpah, malah tidak ingin apa-apa. Saya sudah sering melihat teman-teman yang benar-benar kaya, gaya hidupnya biasa-biasa saja. Ya mungkin karena tidak perlu pembuktian lagi. Tidak perlu pengakuan lagi.

Entahlah, saya hanya merasa prihatin dan khawatir kalau teman-teman saya itu tidak menyadari bahwa anak-anak itu butuh uang banyak buat sekolah. Seberapa banyak? Banyak sekali sampai saya kadang-kadang ndak berani hitung karena menyadari kalau jumlah tabungan saya tidak mencukupi. Nanti saya bahas detailnya di postingan berikutnya. Tadinya mau di postingan ini, tapi malah jadinya nyinyirin kelas menengah, hehehe…

Tapi bukannya anak-anak itu punya rezekinya sendiri? Jadi santai saja gimana nanti. Kalau saya berpendapat berbeda. Bagaimana jika rizki kita hari ini sebenarnya adalah rizki anak-anak yang dikasih lebih awal dari waktunya? Allah telah mengamanahkan rizki anak kita hari ini untuk dikelola dengan baik. Bukan digunakan untuk menghidupi gaya hidup yang ndak ada manfaatnya itu.

5 thoughts

  1. Ckckck… Anda ini julid sekali. *digaplok Mas Galih*

    Jokes aside, ini tulisan bagus. Semoga kaum kelas menengah ngehe banyak yang baca. Aku yo sering kzl gemes geregetan juga, Mas, lihat mereka yang banyak gaya itu. Apa sih yang dicari? Kenapa sih butuh banget pengakuan? Ah, entahlah. Semoga aku selalu dijauhkan dari sifat yang seperti itu.

    1. Kalau menurutku, hasrat ingin menikmati kerja keras, diakui sebagai orang yang mapan finansial, punya pengalaman banyak, buat meningkatkan rasa percaya diri. Sampai pada suatu titik dimana dia bisa berhenti atau bablas tak terkendali sampe akhirnya bangkrut 😀

  2. Artikel ini benar-benar mengejawantahkan apa yang ada di benak saya kalau sekilas mengamati fenomena saat ini. Fenomena haus pengakuan, fenomena hijrah dan syar’i. Era socmed memang makin memanjakan seseorang untuk pamer.

    Kirain saya dan istri doang yang berpendapat begini 😀

    1. Njih mas, sekarang ada terlalu banyak cara buat pamer, bahkan dengan santun dan rendah hati nan bijaksana. Humblebrag hehehe…

  3. saya jd tersummon gara2 sepeda
    tapi mas, sepeda saya kui murah kok
    saya masih mikir logis terkait hobi
    iya kadang logis, sering ngga hihi
    *ngebela diri :)))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *