Formasi Baru Sabyan, Warna Musik yang Lebih Segar

Sabyan dengan personil baru di konser Live in Aceh

Sabyan Gambus baru saja ditinggalkan personilnya: Anisa Rahman (vocal), TB (biola), dan beberapa personil yang lain. Wajar terjadi ketika sebuah band ada di puncak popularitas, apalagi jika sebelumnya mereka adalah band kampung yang tidak terkenal.

Payung Teduh juga begitu kan? Gagap ketika menghadapi popularitas. Ketika Akad yang memiliki warna musik berbeda dari biasanya meledak, lebih ngepop, mereka malah bubar. Yang keluar malah vokalisnya, Istiqamah Djamad yang nyentrik. Seniman sejati dia, bukan pebisnis ulung.

Salah satu statement yang muncul dari Anis adalah bahwa Sabyan Gambus telah kehilangan warna musik gambus dan berubah menjadi pop religi. Dia lalu bersama TB dan dua personil Sabyan lain yang keluar (gitar dan drum) mendirikan grup musik gambus baru bernama Not Tujuh. Saya bisa mengerti. Talenta Anis terlalu besar kalau hanya jadi backing vocal. Sementara TB di Not Tujuh malah pegang keyboard, sepertinya dia ingin jadi Ayus. Menjadi motor band. Dengan nuansa gambus yang masih kental.

Penampilan Not Tujuh di video ini seperti menggambarkan ekspresi mereka karena tidak bisa berkembang di Sabyan. Anis menjadi lead vocal. Ega sang gitaris menjadi intro pembuka dengan porsi yang cukup panjang, sesuatu yang sepertinya tidak pernah ada di Sabyan.

Memang kalau dilihat video-video Sabyan sebelum populer, seperti contoh di bawah ini, ketika mereka manggung di acara hajatan di kampung, warna musik gambus sangat dominan. Gesekan biola dan suara rebana sangat mendominasi. Peran TB sangat menonjol di situ, sementara peran Ayus sang motor band pemegang keyboard, seringkali hanya jadi background suara biola.

Masalahnya waktu Sabyan meledak viral, selain karena faktor Nissa yang cantik imut-imut bersuara lembut, juga karena musiknya yang ngepop abis. Lagu-lagu cover Youtube awal mereka seperti Deen Assalam, Ya Asyiqol, Ya Jamalu adalah musik pop, bukan musik gambus. Bahkan lagu Ahmad Ya Habibi bernuansa jazz bossa-nova.

Jadi biar bagaimanapun juga, mereka sudah bergeser dari musik gambus. Bahkan awal-awal mereka populer, mereka dikritik karena musiknya yang sangat sederhana. Kasarnya, seperti musisi pop kampung yang tidak pernah sekolah musik formal.

Sekarang setelah empat personil itu hengkang, Sabyan memakai additional player baru. Ada tambahan keyboard, drum, dan gitar. Ayus dengan keyboardnya menggantikan peran TB untuk mengisi suara biola.

Hasilnya positif sih menurut saya. Meskipun makin jauh dari warna musik gambus yang biasa ditemui di acara-acara hajatan. Lebih ngepop, gambusnya masih ada dengan sentuhan modern. Aransemen musiknya jadi lebih kaya, sangat kaya malah, jika dibandingkan dengan musik-musik sebelumnya. Seperti musik pembuka di konser live di Banda Aceh yang saya embed di atas. Si keyboardis malah baca partitur. Sangat sekolahan sekali.

Bravo buat Ayus yang berhasil mengatasi krisis di Sabyan. Dengan popularitas sekarang, tentu tanggung jawab makin besar di pundaknya. Sabyan hari ini tidak sesederhana Sabyan yang dulu manggung di kampung-kampung di acara hajatan kawinan dan khitanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *