Sekolah Favorit

Ini adalah Top 10 SMP terbaik se-DKI Jakarta berdasarkan hasil rata-rata nilai UN. Diambil dari situs Puspendik. Inilah SMP-SMP “Favorit” di Jakarta. Rata-rata nilai UN-nya adalah 93,78. Gila nggak, ini rata-rata lho, berarti ada banyak yang nilainya di atas 95 bahkan 100.

Terminologi “favorit” ini sudah ada sejak jaman saya SD. Ibu saya seorang guru SD, Ayah saya guru SMP. Sejak kecil kami sudah dididik dan didoktrin (dituntut) untuk juara kelas. Orang tua kami berinvestasi di pendidikan sejak dini. Apapun permintaan saya dituruti kalau berhubungan soal sekolah. Meskipun mahal, ibu akan selalu bilang ada uang, ga perlu mikir soal itu. Padahal setelah itu Ibu akan cari hutangan ke tantenya. Sebaliknya, merengek-rengek minta dibelikan PlayStation dan mobil Remote Control, tidak pernah dibelikan sampai akhirnya punya gaji sendiri dan akhirnya beli dengan uang sendiri. Sekadar buat, “Hehehe… keinginanku yang dulu tidak pernah dikabulkan ibu akhirnya punya juga”.

Bapak dan Ibu waktu itu memiliki sasaran yang jelas: bisa menembus sekolah di kota Tulungagung. Pada waktu itu, sekolah favorit di kota adalah SMPN 1 dan SMPN 2. SMA-nya juga, SMA 1 dan SMA 2 yang waktu saya masuk berubah menjadi SMUN 1 Kedungwaru dan SMUN 1 Boyolangu. Apakah sekarang empat sekolah itu masih favorit? Entahlah. Mudah-mudahan.

Bertahun-tahun, bisa dikatakan KPI dari sekolah bagus itu adalah nilai rata-rata UN. Ini menjadi perdebatan tiada henti karena banyak sekali yang meng-kritik kalau sistem pendidikan kita terlalu fokus ke kemampuan kognitif. Padahal setiap anak memiliki kecerdasannya sendiri-sendiri. Anak yang pintar olahraga dan seni seperti tidak dihargai di sini.

Para pebisnis yang jeli melihat peluang, punya solusi instan buat itu, yaitu Bimbel! Banyak cerita ajaib, bagaimana guru yang sama sekali ga enak didengerin di kelas, menjelma menjadi guru jenius yang menyenangkan sekali di kelas Bimbel.

Karena tujuan akhir adalah menjawab soal dengan benar, di Bimbel dilakukan drill bagaimana menjawab soal dengan benar dan cepat. Mereka sudah melakukan riset model soal-soal yang sering keluar (dan selalu keluar), mencari cara cepatnya, lalu diajarkan ke siswa Bimbel. Begitu saja setiap hari sampai saya nyaris hapal. Sama sekali tidak diajarkan “Why”? Mengapa hukum pitagoras itu ada? Dari mana? Mengapa ada yang namanya unsur gas mulia? Apakah ada gas yang tidak mulia? Saya cuma tahu kalau gas mulia itu “Heboh Negara Arab Karena Xeksi Ratunya). Mengapa Helium itu masuk gas mulia? Tidak ada yang tahu.

Jadi dilihat dari sini saja, ada yang salah dengan sistem ini. Sudah hanya fokus di kemampuan kognitif, kehilangan konsep pula. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah sistem yang berjalan. Mau tidak mau kalau mau menimba ilmu di Indonesia, harus ikut sistem ini.

Dulu, awal masuk SMA, saya ikutan teman main brik-brik-an. Itu lho, radio pemancar buat komunikasi. Sosmed jaman dulu. Saya dulu beredar di gelombang FM 80 Mhz sambil kucing-kucingan dengan petugas ORARI yang sedang razia frekuensi. Nama udara saya: Foxie. Teman saya mulai banyak. Ikut kopdar, bertemu dengan seleb-seleb idola bersuara cantik nan merdu, yang ternyata sudah ibu-ibu. Seiring dengan bertambahnya jumlah kenalan (kalau sekarang mungkin follower), makin jeblok nilai saya. Di peringkat kelas, saya terlempar jauh sekali di bawah. Boro-boro masuk liga Champion, liga Eropa pun tidak. Maksudnya, setiap kali orang tua diundang mengambil rapot, selalu diumumkan peraih “the best ten” sekolah. Orang tua dipanggil ke atas panggung sebagai apresiasi. Itu maksudnya liga Champion. Kalau liga Eropa, ya lokal kelas saja begitu.

Meskipun bapak bilang tidak mengapa, saya jelas melihat rasa kecewa di sinar matanya. It had broken my heart. Apalagi Ibu.

Besoknya, antenna pemancar saya robohkan. “Studio” saya ubah jadi kamar belajar. Radio FM saya pertahankan, stay tune di Radio Suara Tulungagung Jaya FM dan Patria FM. Mendengarkan Britney Spears dan Spice Girls. Saya beli buku-buku terbitan Erlangga yang lebih mahal, tapi kertasnya tebal dan grafisnya menarik bikin semangat belajar. Buku tulis Sidu yang tebal yang selalu ada kata mutiara “Never put off til tomorrow what you can do today”.

Dua tahun berikutnya, saya ndak mengenal waktu istirahat pagi, bel pulang sekolah jam setengah 2 siang tetap diam di kelas karena jam setengah 3 sore pindah belajar ke Bimbel. Sampai rumah jam 6 sore, mandi, makan malam. Jam 7 malam masuk kamar lanjut belajar. Sering bapak mengetuk pintu, “Ayo, istirahat dulu, jangan belajar melulu…”

Tapi ya begitulah namanya pengorbanan. Jadi nerd. Ndak punya pacar. Boro-boro, cewek-cewek pada takut sama saya, padahal saya cuma melihat doang hahaha… Pelan-pelan saya bisa masuk Liga Eropa dan bahkan Liga Champion, berkenalan dengan para bintang sekolah yang sudah terkenal sejak SMP.

Jaman sekarang, apalagi di Jakarta begini, ada sangat banyak pilihan. Jalan melalui prestasi kognitif hanyalah salah satu jalan menuju sukses. Beda dengan saya dulu, satu-satunya jalan hanya itu. Saya ndak ingin anak-anak saya mengikuti jalan yang saya telah lalui, kecuali kalau mereka memang suka di bidang itu. Yang penting adalah memfasilitasi mereka sebaik mungkin. Menyediakan sarana pendidikan yang sesuai dengan yang mereka minati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *