Cost of Money

Ini video yang bagus dari Youtuber otomotif terkenal, Ridwan Hanif. Dia share cara beli mobil secara cash yang jauh lebih hemat daripada dibeli dengan kredit. Intinya sih nabung, dan di sini ditunjukkan mengapa cara kredit jauh lebih mahal daripada beli secara cash, sehingga, jika kita bisa sedikit lebih bersabar, maka kita bisa hemat puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Dan itu benar. Saya sudah menghitung mengalami sendiri dengan sadar.

Tanpa harus membahas dosa riba, secara ekonomi memang kredit itu memang terasa mencekik dan rasanya pihak kreditor mau menangnya sendiri dan mengambil untung sebanyak-banyaknya dari kita-kita kaum kecil ini. Karena tak sanggup bayar bunga, seringkali orang langsung menghakimi bahwa bunga bank adalah dosa riba. Tapi biarkan saya berhenti di sini: bunga bank apakah riba atau bukan merupakan masalah khilafiyah di antara para ulama, meskipun mayoritas ulama memasukkannya sebagai riba yang haram.

Saya ingin membahas bunga kredit ini secara ekonomi. Bunga kredit adalah cost of money. Biaya atas uang. Karena yang kita pakai adalah uang orang lain yang kita ambil manfaatnya di depan. Kita menarik manfaat sesuatu di masa depan ke masa sekarang. Beda dengan menabung, kita menunggu manfaat atas uang yang kita tabung itu buat digunakan nanti di masa depan. Tentu saja tidak ada biayanya. Duit-duit sendiri ini.

Contohnya ya kredit mobil ini. Kalau kita nabung, saat ini kita belum mampu buat beli mobil. Mobil akan bisa dibeli waktu uangnya sudah terkumpul. Itu ada di masa depan, mungkin lima tahun lagi. Kalau dengan cara kredit, kemampuan lima tahun lagi itu kita bawa ke hari ini. Pakai duit orang lain. Di sinilah muncul biaya atas uang alias cost of money.

Berapa biayanya tergantung si kreditor. Suka-suka yang punya duit. Asal semua biaya-biaya ini disampaikan dan disepakati dan disadari sepenuhnya oleh debitor, saya rasa tidak ada masalah di sini. Yang sering jadi masalah adalah debitor jarang mempelajari secara detail klausa-klausa akad kreditnya. Juga sering jadi masalah adalah debitor menyepakati sebuah perjanjian kredit yang berada jauh di atas kemampuannya untuk membayar.

Sering lihat kan sekarang banyak sekali kios-kios kecil di pinggir jalan menawarkan kredit motor/mobil dengan syarat yang sangat ringan. Hanya dengan uang muka 500 ribu sudah bisa bawa pulang motor. Bahkan ada yang tanpa DP! Tentu saja dibalik segala keringanan itu, ada konsekuensinya. Pokok hutangnya jadi sangat besar sehingga total bunga sebagai cost of money juga sangat besar, sudah bisa buat beli satu motor lagi. Belum lagi klausul-klausul denda jika terjadi keterlambatan dan sebagainya. Detail ini sayangnya jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.

Lagian sebenarnya, membeli mobil baru itu rugi. Karena harganya segera turun drastis. Akan jauh lebih rugi lagi membelinya secara kredit, sudah harganya jatuh, kita harus bayar bunganya.

Tahun 2014, kami membeli mobil secara kredit (leasing). Dengan sangat sadar atas konsekuensi atas biayanya. Saya hitung-hitung, setiap tahun kami harus mengeluarkan biaya sekitar 12 juta selama masa kredit itu. Itu seperti kami menyewa mobil setiap bulan dengan biaya sejuta rupiah. Ini masih di luar biaya bensin, pajak kendaraan, perawatan mobil, dll. Makanya namanya leasing. Sewa mobil yang nantinya mobil itu jadi milik pribadi.

Kalau saja pada waktu tahun 2014 itu kami mau menunda beli mobil dengan kredit, tentu saja biaya 12 juta itu tidak perlu ada. Uangnya bisa dipakai buat hal-hal lain. Biaya taksi online rasa-rasanya tidak sampai sebanyak itu. Cuma memang tantangannya, kadang-kadang kita tidak bisa menabung sebanyak yang harus dikeluarkan untuk cicilan kredit bulanan. Lebih santai dan sering terpakai buat yang lain.

Tapi tidak mengapa, namanya juga kebutuhan. Life is a matter of choices. Waktu itu kami ingin lebih fleksibel dengan punya mobil. Taksi online juga belum ada, jadi biaya transportasi keluarga bisa tinggi sekali kalau naik taksi. Sekalian beli mobil baru bukan second supaya bisa pakai lama sampai lebih dari 10 tahun. Selain itu, ada satu hal kecil yang kadang-kadang jadi besar tanpa disadari: gengsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *