Catatan Pasca Pemilu

Pemilu telah selesai (meskipun belum bagi pihak yang kalah). Petahana akan kembali meneruskan pemerintahannya di periode kedua. Di sini saya cuma mau mengomentari kehebatan berpolitik Jokowi, kalau tidak mengatakan kejeniusan. Dan parahnya lagi, sampai hari ini masih saja banyak yang meremehkannya karena potongannya yang nggak banget untuk menjadi seorang presiden. Padahal dia adalah politikus yang cerdik selicin Machiavelli.

Banyak orang yang lupa bahwa ia terlalu cepat naik dari walikota menjadi presiden hanya dalam kurang dari lima tahun. Bagaimana dia memanfaatkan dan membesarkan prestasinya merelokasi PKL Solo dan isu Esemka sebagai amunisi untuk popularitas yang menjadi kendaraan menjadi Gubernur DKI. Dan bagaimana pula secepat itu langsung ikut Pilpres menantang seorang yang telah berjasa membawanya menjadi Gubernur. Kalau bukan politisi yang cerdik dan licin, apa lagi namanya?

Dia menang tipis di Pilpres 2014, dan kalah cukup telak di parlemen. Koalisi Indonesia Hebat melawan Koalisi Merah Putih. KMP menjadi oposisi yang kuat. Lalu apa yang dia lakukan? Memecah KMP dari dalam. Pecah Golkar dan PPP menjadi dua, dan kasih kubu yang mendukungnya posisi menteri di kabinet. Tidak lama, Golkar dan PPP berhasil dikuasai. Dan KMP pun bubar menyisakan Gerindra dan PKS yang menjadi oposisi yang lemah.

Sisa ceritanya adalah sejarah sampai Pilpres 2019 dimulai. El Classico, sekuel 2014 dimulai.

Meskipun menyandang predikat petahana, sebenarnya posisi Jokowi cukup terdesak. Prabowo punya cukup modal dengan kemenangan Pilkada DKI yang fenomenal, juga kemenangan Donald Trump yang menjadikan strategi firehose of falsehood (FoF) menjadi semacam senjata yang ampuh. Jadi wajar jika strategi Pilkada DKI akan dilanjutkan. Luka Pilpres 2014 masih membekas dan tinggal dikipas-kipas kembali dengan isu lama: agama dan PKI.

Sayangnya, orang lupa, bahwa Jokowi bukanlah Ahok.

Narasi kebangsaan telah terbukti gagal membendung narasi agama. Bagaimana Ahok menjadi bulan-bulanan di Pilkada DKI tanpa sedikitpun solusi yang manjur sudah cukup menjadi bukti.

Jadi, Jokowi tidak pakai strategi itu. Dia menunjukkan kejeniusan dengan memilih KH. Ma’ruf Amin (KMA) menjadi cawapres, menyingkirkan Mahfud MD yang hanya dijadikan pengalih perhatian hingga detik terakhir. Seorang yang menjadi penyebab kekalahan telak Ahok yang menjadi wakil gubernur Jokowi di 2012-2014. Seperti yang dibilang banyak pengamat, KMA mendatangkan dua keuntungan: mengunci lawan memainkan narasi agama dan mengandangkan suara ormas Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama.

Setelah itu apapun narasi agama yang coba dimainkan jadi terasa hambar. Memang masih berlanjut, tapi efeknya sudah sangat berkurang dibandingkan 2014. Memang ada efek negatifnya, yaitu pendukung Ahok yang kecewa dan mengancam menarik dukungan. Tapi hitungan politik Jokowi sangat akurat. Ahok yang baru keluar penjara secara implisit mendukung Jokowi, bahkan ia menunjukkan dengan mendaftar menjadi anggota PDIP. Dia jelas dilarang secara eksplisit mendukung Jokowi. Dan apa pula gunanya Ahok kembali masuk ke gelanggang politik? Karir politiknya sudah hancur dengan tuntutan Jaksa. Ahok muncul hanya agar pendukung Ahok yang mendukung Jokowi kembali. Dan sampai hari ini, ia tidak muncul lagi kan?

Lagi-lagi, it’s just politics. It’s just the game. It’s just the game of thrones. Atau jika mengutip Don Corleone: it’s just business, nothing personal.

Kejeniusan kedua: dia melawan politik firehose of falsehood (FoF) ala Donald Trump dengan cara yang sama. Ia tidak memainkan strategi defensif ala Ahok, tapi menyerang balik dengan cara yang sama. Dia mem-blow-up isu Prabowo bukan seorang muslim yang taat. Bahwa agama hanyalah alat politik saja, tidak lebih. Beberapa kali jubir BPN cukup kerepotan menangkis serangan ini, dengan menuduh bahwa lawan juga memainkan strategi FoF. Masing-masing berusaha menjadi politisi yang bersih. Padahal sama saja. Jokowi tidak mengikuti Michelle Obama yang bilang When they go low, we go high. Sebaliknya, When they go low, we go lower!

Strateginya adalah untuk menang, bukan untuk menampilkan permainan yang indah. Dan hasilnya sudah kita lihat semua, Jokowi kalah di daerah luar Jawa (Sumatera malah kalah telak). Tapi dia menang sangat telak di daerah-daerah gemuk seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Berhasil menang tipis di DKI, dan bertahan sekuat tenaga di Jawa Barat dan Banten. Itu sudah cukup untuk menang. Kalau sepakbola, Jokowi kalah di penguasaan bola tapi bisa memasukkan gol lebih banyak.

Pada akhirnya, semua ini hanyalah permainan politik bagi-bagi kekuasaan. Kita ini, rakyat Indonesia, hanya faktor yang tidak penting. Sekadar indikator statistik. Tidak ada yang peduli bahwa masyarakat telah terbelah, silaturahmi putus, pertemanan merenggang, hanya karena beda pilihan politik. Padahal elit di atas sana sudah siap-siap berkonsolidasi, bernegosiasi siapa dapat apa. Bagi-bagi kekuasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *