Pemilu 2019

Buat saya, tentang siapa yang akan saya pilih di Pilpres 2019 adalah hal yang mudah. Pilpres 2019 hanyalah tanding ulang antara Pak Jokowi vs Pak Prabowo. Saya sejak 2014 adalah pendukung Pak Jokowi, sehingga 2019 menjadi pilihan yang mudah: mencoblos Pak Jokowi lagi untuk melanjutkan apa yang telah berjalan hingga 2024 nanti. Pilihan yang membuat saya kehilangan beberapa teman, menjadi minoritas di kota yang kaum muslimnya sedang bersemangat hijrah ini, hanya karena saya mengikuti hati nurani dan hak pilih saya.

Anyway, Pilpres buat saya sudah selesai. Cebong sejati.

Lain halnya dengan Pileg. Saya sampai tiga hari menjelang Pemilu belum memiliki pilihan tentang siapa yang nanti akan saya coblos. Saya tidak ingin memilih caleg petahana karena kinerja DPR 2014-2019 ini buruk sekali. Apakah saya akan memilih caleg dari partai baru seperti PSI atau Perindo?

Masalahnya di era informasi begini, informasi mengenai caleg sangat minim. Semua orang terlalu fokus dengan bongpret Pilpres. Bahkan PSI yang menggembar-gemborkan semangat baru, informasi mengenai caleg di situs resminya sangat sedikit. Apa visi dan program kerja seorang Tsamara Amany? Apakah dia benar-benar bisa bekerja atau hanya pintar berdebat dengan cerewet di TV? Jika berhasil masuk ke Senayan, apakah anak-anak yang sangat belia ini bisa melawan politisi-politisi kawakan? Saya kuatir mereka ini akan terlalu lugu dengan politik yang serba cerdik dan licik.

Jika saya membaca CV Tsamara — saya bayangkan saya seperti sedang screening CV pelamar kerja yang akan masuk tim saya — sama sekali tidak impresif, ini adalah tipe-tipe CV yang tidak akan saya follow up. Ternyata Tsamara Amany ini SMA-nya adalah Kejar Paket C, kemudian melanjutkan ke Universitas Paramadina, tempat ia mulai menapaki “karier” politiknya sewaktu magang di Balai Kota DKI Jakarta. Kenapa bukan SMA Negeri atau Swasta? Tidak ada keterangan lebih lanjut. Sebagai seorang fresh graduate, ia tidak menyertakan daftar kursus/diklat, pengalaman organisasi, juga riwayat penghargaan. Praktis, persepsi saya hanyalah yang saya dapat dari TV tempat dia berdebat setiap hari.

Jika seorang Tsamara Amany yang begitu populer saja tidak terlalu mudah mendapatkan informasi, jauh lebih susah di tingkat DPRD dan DPD. Mayoritas tidak pernah muncul di media. Saya tidak tahu siapa sebenarnya yang beramai-ramai cetak poster dengan foto editan maksimal oleh para tukang cetak di Bendungan Hilir. Membaca visi Liliana Tanaja di posternya yang nempel di setiap pohon, rasanya hambar: hanya kata-kata bagus tanpa makna.

Mungkin memang beginilah kualitas wakil rakyat kita yang diperoleh dari proses yang amat mahal. Tidak ada orang-orang yang benar-benar berkualitas mau masuk parlemen karena biaya politiknya sangat mahal.

Saya ingin memilih PSI yang menawarkan hal yang baru, tapi mungkin mereka masih terlalu muda. Lagipula, penyandang dananya juga misterius. Mungkin perlu melihat apa yang akan dilakukan PSI lima tahun ke depan jika ia tidak lolos electorl treshold 4%.

Entahlah.

One thought

  1. Saya ingin memilih PSI yang menawarkan hal yang baru, tapi mungkin mereka masih terlalu muda. Lagipula, penyandang dananya juga misterius. Mungkin perlu melihat apa yang akan dilakukan PSI lima tahun ke depan jika ia tidak lolos electorl treshold 4%.

    ah, kok sama mikirnya. Aku juga mau nyoba PSI karena menawarkan hal baru daripada memilih partai yang lama tapi seringkali mbikin kecewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *