Berkunjung ke Sanrio Hello Kitty, Thomas Town, dan Legoland Malaysia Lewat Singapura (Bagian 5 – Habis)

Hari ketiga: Pulang!

Hari minggu pagi, seperti dua hari sebelumnya, kami memulai sarapan pagi di restoran hotel. Tidak bisa disebut enak karena hambar kurang berasa. Packing sudah dilakukan semalam, yang cukup rumit karena kopernya beranak. Semua isi mainan dari Thomas Town dan Lego Land. Berharap tidak terlalu bermasalah di imigrasi, khususnya di Woodlands. Pagi itu tidak banyak yang kami lakukan, hanya bersiap-siap dan menunggu Pakcik Ahmad menjemput kami.

Sekitar jam setengah 10 pagi kami dijemput sesuai percakapan melalui WA. Check out dari hotel lancar. Saya menilai keramahtamahannya masih kalah dengan hotel-hotel di Indonesia. Tapi masih ramah — berbeda dengan pengalaman waktu di hotel Fairmont Mekah waktu umroh tahun 2012, petugas hotelnya tidak ada yang tersenyum.

Pagi mendung gerimis yang cukup menyenangkan. Menikmati jalanan Johor Bahru, mengarah ke Singapura melalui Woodlands. Saya minta mampir ke ATM buat ambil uang ringgit buat bayar taksi. ATM-nya CIMB tanpa embel-embel Niaga. Ternyata CIMB Malaysia juga termasuk dalam jaringan ATM Bersama.

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Alhamdulillah, lancar di imigrasi Woodlands. Masuk Singapura, lagi-lagi seperti masuk negeri dongeng. Rapi, bersih. Aspalnya yang berwarna abu-abu muda, bukan abu-abu gelap seperti di Indonesia. Seperti aspal sirkuit. Kami diantarkan sampai ke Queen’s Street Terminal tempat taksi Johor Bahru ini mangkal. Sebenarnya saya minta buat diantarkan ke Mustafa Center buat cari oleh-oleh, tapi ternyata taksi JB ini tidak boleh keliling-keliling di Singapura. Hanya boleh di trayeknya saja. Tapi Pakcik Ahmad berbaik hati menawarkan bagasi belakangnya buat naruh koper sementara.

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Lalu kami naik taksi ke Mustafa Center yang jaraknya hanya 1,5 kilometer dari Queen’s Street. Bayarnya sampai Rp. 50 ribuan wkwkwk… Pas kena tarif atas. Mungkin BlueBird-nya sana lah kira-kira. Mustafa Center letaknya di Little India, rasanya seperti ITC Kuningan saja. Sempit dan semrawut. Ndak ada bau-bau Singapuranya. Selesai beli oleh-oleh (cokelat, apalagi), kami segera kembali ke pool taksi JB. Naik taksi lagi.

(Saya sebaiknya tidak terlalu banyak bercerita tentang Singapura ya, teman-teman sidang pembaca lebih tahu negara ini daripada saya tentu saja).

Baiklah, setelah mengucapkan banyak terima kasih dengan Pakcik Ahmad, berfoto bersama sebagai kenang-kenangan sambil berharap suatu hari bertemu kembali (tapi entah kapan, mungkin kalau anak-anak sudah gede), kami memesan Grab untuk kembali ke Changi Airport. Waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Pesawat AirAsia yang akan membawa kami kembali ke Jakarta masih jam lima sore. Tapi saya tidak ingin jalan-jalan lagi di Singapura ini. Kalaupun mau ke Sentosa, waktunya sudah tidak cukup.

New photo by Galih Satriaji / Google Photos
New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Lagi-lagi sopir Grab-nya sudah tua, kali ini membawa mobil Toyota Corolla Altis tahun 2010. Sampai di T4 Changi sekitar pukul 2 siang. Sebelum check-in, kami makan siang dulu di McDonnald di lantai 2. Pemesanan dilakukan secara mandiri di layar sentuh, bayarnya cashless pakai kartu kredit. Berhubungan dengan manusianya hanya saat mengambil makanan. Selamat datang di Singapura. Sekitar pukul 3 sore, saya mengajak untuk segera ke ruang tunggu, mengingat waktu terbang tinggal 2 jam lagi. SOP standar penerbangan internasional, 2 jam sebelum terbang harus sudah proses check-in dan imigrasi.

Ternyata proses check-in di T4 juga dilakukan secara mandiri. Di situ ada banyak komputer-komputer berlayar sentuh untuk check-in sendiri. Buat yang membawa bagasi, printer di sebelah komputer mencetak stiker penanda yang harus ditempelkan sendiri. Setelah itu bagasi di bawa ke ban berjalan dan ditaruh ke situ. Di situ lagi-lagi ada komputer dengan barcode scanner. Setelah kita scan barcode, barulah kita taruh bagasi di ban berjalan. Hanya ada satu dua petugas dari AirAsia yang memandu penumpang yang mengalami kesulitan.

Selanjutnya kami masuk ke imigrasi (lagi). Sebenarnya di situ juga autogate, tapi karena kami membawa bayi, proses imigrasi dilakukan secara manual. Alhamdulillah lancar juga. Petugas imigrasi biasanya tampangnya seram dan tidak ramah, tapi di T4 Changi ini tumben ramah-ramah dan sempat menyapa anak-anak. Lepas dari imigrasi, kami berjalan ke ruang tunggu terminal. Lokasinya jauh betul ada di ujung.

New photo by Galih Satriaji / Google Photos

Sekitar pukul 4 sore kami sampai di terminal. Pesawatnya belum nampak. Saya cek di aplikasi FlightRadar24, pesawat yang akan kami tumpangi ternyata masih di atas Riau. Walah, alamat delay lagi. What do you expect from low cost carrier? Betul juga, tak lama kemudian ada pengumuman bahwa pesawat AirAsia yang menuju Jakarta delay hingga pukul 7 malam. Bhaiiqq…

Kami tidak menemukan ada musholla di T4 ini. Setelah mengambil wudhu dari wastafel toilet, kami menunaikan sholat Dzuhur – Ashar jamak takhir di ruang tunggu bergantian. Untung ruang tunggu masih sepi jadi tidak terlalu menarik perhatian. Setelah itu dengan sabar menunggu pesawat datang. Ada petugas yang mengumpulkan troli-troli — lagi-lagi sudah tua.

Akhirnya jam 7 malam kamipun terbang meninggalkan Singapura. Alhamdulillah. Saya tidak suka Singapura. Rapi, modern, tapi minim interaksi personal. Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sudah pukul 9 malam di Terminal 3 Ultimate. Serba semrawut, tidak teratur. Tapi bahagia karena artinya kami telah sampai di rumah.

Alhamdulillah.

-Selesai-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *