Berkunjung ke Sanrio Hello Kitty, Thomas Town, dan Legoland Malaysia Lewat Singapura (Bagian 2)

Cerita sebelumnya: Bagian 1.

Pesawat AirAsia kami yang sedianya dijadwalkan terbang pukul 11:10, harus mengalami penundaan satu jam dan baru masuk pesawat pukul 12 siang. Setelah di dalam pesawat, ada pemberitahuan dari pilot bahwa bandara Changi Singapura ditutup karena cuaca buruk sampai jam satu siang. Pesawat baru lepas landas sekitar pukul satu siang. Dan karena habis ditutup, bandara Changi jadi sangat sibuk dan harus antri mendarat. Cukup lama pesawat berputar-putar di holding point di atas kepulauan Riau. Baru jam setengah lima sore waktu setempat kami sampai di terminal 4 Changi Airport.

Ini sudah di luar rencana awal. Rencana saya, jam 2 siang waktu Singapura kami tiba, bisa makan siang dulu dan jam 3 akan pesan Grab Car untuk menyeberang ke Johor Bahru. Masih cukup waktu agar tidak terjebak di kemacetan imigrasi Woodlands atau Tuas Link. Akibat penundaan ini, saya memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan karena sudah sore. Untung anak-anak sudah makan Marugame Udon dengan kenyang di Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Saya bertanya ke meja informasi dimana bisa memesan Grab dan ditunjukkan ke area penjemputan di terminal 4. Kami pun segera menuju ke area penjemputan. Ayah, bunda, anak laki-laki 4 tahun, anak perempuan 2 tahun. Satu koper besar dan satu koper kecil. Semua baru pertama kali mendarat di Singapura. Let’s start the adventure!

Sebelumnya, saya riset baca-baca bagaimana transportasi dari Changi ke Johor Bahru, tepatnya di daerah Legoland. Pada dasarnya ada beberapa alternatif moda, ringkasannya saya ambil dari situs resmi Legoland, detailnya saya baca dari browsing-browsing banyak blog yang menceritakan itu:

  • Naik shuttle bus (WTS Travel) dari Singaporean Flyer
  • Naik bus umum Causeway Link dari Queen’s Street Terminal
  • Naik bus ke Woodlands Train Checkpoint, lanjut pakai kereta KTM untuk menyeberang ke JB.

Awalnya saya cari mana yang paling murah. Alternatif yang paling murah tentu saja naik MRT, kemudian lanjut naik bus umum Causeway Link sampai daerah Legoland. Kelemahannya, di imigrasi Singapura-Malaysia, kita harus turun bus membawa segala macam bagasi, cek paspor, lalu naik bus lagi. Tapi mengingat banyaknya bagasi yang saya bawa dan anak-anak yang masih kecil, saya merasa itu tidak mungkin. Naik taksi jelas terlalu mahal. Saya mencari-cari hingga menemukan rekomendasi dari Google Maps untuk menggunakan Grab! Tarifnya hanya sekitar SGD 49. Ini tentu saja sangat menarik jika dibandingkan menyewa mobil dari Changi yang rata-rata di atas SGD 100. Atau jika dirupiahkan di atas satu juta.

Estimasi Google Maps hanya sekitar SGD 34, sedangkan kalau buka aplikasi Grab, estimasinya sekitar SGD 54. Dihitung-hitung dibandingkan dengan naik shuttle bus, bedanya cuma sedikit. Worth it banget.

Ini teori di atas kertas. Praktiknya: gagal total! Layanan Grab tidak bisa dipakai untuk menyeberang  dari Singapura ke Malaysia! Ketika saya tekan tombol Book, aplikasi mengeluarkan pesan error tersebut. Saya jelas tidak berani menekan tombol Book ini ketika melakukan simulasi, kuatir ada sopir Grab yang nyamber padahal masih di Indonesia.

Saya mulai panik, sudah tidak ada waktu lagi buat browsing-browsing cari jalan. Suasana mendung. Rencana A dan B tidak berjalan, mari kita jalankan rencana C, kalau belum ada rencana C, mari buat sekarang. At all cost, begitu kata saya ke istri saya yang juga sedang kebingungan karena si adik pup di diapers-nya.

Waktu itu saya sama sekali tidak kepikiran untuk kembali ke meja informasi untuk sewa mobil (yang at all cost itu hehe). Saya berpikir praktis saja, naik Grab sejauh yang Grab bisa, yaitu ke perbatasan, lalu dari sana ganti taksi yang bisa menyeberang ke Johor Bahru. Kayak kalau kita lagi mencegat taksi Blue Bird di pinggir jalan begitu. Ada dua pilihan: ke Woodlands atau Tuas Link. Saya pilih ke Tuas Link karena Google Maps menyarankan begitu. Ini ternyata keputusan bodoh berikutnya.

Pesanan Grab Car saya segera ada yang mengambil. Sopir Grab-nya sudah tua, membawa mobil Toyota Prius hybrid yang ada baterainya. Biasa dapat Avanza atau Ayla di Jakarta, saya agak kikuk masuk mobil mewah begini untuk sekelas Grab Car biasa. Dan ternyata memang kebanyakan sopir taksi sana memang sudah kakek-kakek dan mobilnya bagus-bagus.

Begitu mobil berjalan saya langsung cerita kalau sebenarnya kami ingin ke Johor Bahru, karena Grab tidak bisa menyeberang jadi saya jalan saja dulu ke perbatasan dan mencari kendaraan yang bisa menyeberang ke sana. Muka si bapak langsung berubah dan ikut berpikir keras. Ia bilang tidak semua mobil bisa lalu-lalang menyeberang ke JB, dan tidak ada apa-apa di sekitar perbatasan itu. Jadi kalau sampai di sana malah akan kesulitan cari kendaraan yang bisa menyeberang. Beberapa kali ia menarik nafas panjang. Situasinya cukup sulit, kata dia, kalian bawa bagasi besar dan bawa anak-anak.

Akhirnya ia mengubah arah ke tengah kota. Ia tanya apakah saya bisa change destination di aplikasi Grab. Ternyata tidak bisa (atau waktu itu saya tidak menangkap dia sebenarnya minta apa).

Ternyata saya diantarkan ke Queen’s Street Terminal tempat si bus umum Causeway Link mangkal. Di sebelahnya ada taksi Malaysia jurusan Johor Bahru – Singapura. Bapak sopir Grab-nya baik alhamdulillah, ia hanya mengizinkan semua turun mobilnya setelah saya dapat taksi. Setelah dapat, ia mengantarkan kami semua dan membantu memindahkan koper-koper ke bagasi mobil. Saya membayar tarif Grab-nya sebesar SGD 41, tarif ke Tuas Link, meskipun tujuannya setengah lebih dekat daripada ke Tuas Link. Itupun karena saya tidak bisa change destination di Grab. Tidak mengapa. At all cost. Lagipula nilai bantuan ini tak ada apa-apanya daripada kami terlantar di perbatasan. Setelah semuanya beres, bapaknya say goodbye dan melambaikan tangan dengan ramah ke anak-anak saya yang sedang dadah-dadah. Terima kasih Pak Lim.

Taksi Johor Bahru Singapura adalah sebuah Toyota Innova. Ketika saya tanya berapa ongkosnya, dijawab SGD 70. Saya tidak menawar karena situasi kondisi waktu itu. Jadi seharusnya angka ini bisa lebih murah lagi. Pikiran saya waktu itu, yang penting bisa menyeberang dan sampai ke hotel dengan selamat agar bisa segera beristirahat. Anak-anak mulai cranky karena capek, apalagi si Adek yang pup di diapers.

Saya lumayan lega karena petualangan kembali pada jalur yang benar. Waktu menunjukkan pukul 18:00. Waktu Maghrib baru pukul tujuh malam lebih. Karena belum menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar, saya minta izin bapak sopir untuk shalat dulu di kendaraan. Saya tidak menemukan ada mushola di Terminal 4 Changi. Tayamum, kemudian menunaikan shalat jamak qasar Dzuhur dan Ashar, bergantian dengan istri saya.

Sekitar pukul 18:20 tiba di Woodlands CIQ (Customs and Immigration Quarantine). Jalanan melewati imigrasi sudah macet parah karena jam orang pulang kantor. Satu jam lebih waktu untuk antri di imigrasi. Tapi karena pakai mobil, kami tidak perlu turun dari mobil dan membawa bagasi. Proses imigrasi dilakukan di dalam mobil seperti kalau kita keluar dari parkiran mall. Mungkin karena bawa anak-anak dan mereka sedang tidur kelelahan, kami tidak dipersulit. Bahkan istri dan anak-anak tidak perlu cap jempol. Bagasi mobil hanya dibuka dan tidak diminta dibukakan koper. Pelajaran pentingnya adalah: meskipun Johor Bahru dan Singapura hanya berjarakJakarta – Bekasi, biar bagaimanapun ini beda negara. Jadi jangan menggampangkan. Saya jadi berpikir, mungkin pilihan Jakarta – Johor Bahru langsung bisa lebih baik.

Pukul delapan malam baru lepas dari imigrasi Malaysia dan mobil meluncur ke arah Puteri Harbour, Johor Bahru. Pukul sembilan malam baru sampai di hotel. Kami menginap di hotel Somerset Puteri Harbour. Check in. Lancar. Alhamdulillah. Lega sekali rasanya setelah melalui perjalanan melintasi dua negara yang cukup seru.

Mari beristirahat dulu dan memulai petualangan lagi besok.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *