Berkunjung ke Sanrio Hello Kitty, Thomas Town, dan Legoland Malaysia Lewat Singapura (Bagian 1)

Anak pertama saya, Zafran, suka sekali dengan kereta Thomas, dan ia fans berat Ryan Toys Review di Youtube. Sementara anak perempuan saya, Kinanti, suka Hello Kitty. Si Zafran beberapa kali menyebutkan ingin ke Thomas Town dan Legoland setiap kali melihat video Ryan Youtube yang berkunjung ke Thomas dan Legoland. Waktu itu saya hanya tertawa dan berkata mari berdoa supaya ada rezeki buat ke sana.

Alhamdulillah, ada rezeki sehingga jika saya hitung-hitung bisa ke sana meskipun dengan mode backpacker. Masalahnya, bagaimana bisa anak 4 tahun dan 1,5 tahun ini diajak backpacking? Saya belum pernah baca ada backpacker yang bawa sekeluarga begini. Instagram juga hanya menampilkan foto-foto teman-teman yang jalan-jalan ke luar negeri tanpa menjelaskan bagaimana cara mereka ke sana dengan biaya berapa.

Masalah berikutnya, kami belum pernah ke luar negeri. Saya hanya punya pengalaman ke luar negeri waktu pergi umroh. Itupun semua sudah diatur oleh agen perjalanan umroh, jadi tinggal ngikut apa kata panitia.

Saya berunding dengan istri saya dan sepakat untuk menekan biaya perjalanan seminimum mungkin dengan tetap memperhatikan kondisi anak-anak. Jadi tidak pakai agen perjalanan. Itinerary diurus sendiri. Mestinya tidak sulit karena jaman sekarang informasi ada di mana-mana. Kemudian kami juga menggunakan pesawat low cost carrier. Tidak ada acara jalan-jalan untuk Ayah dan Bunda, semua adalah untuk kepentingan anak-anak. Saya bilang ke istri saya, kita adalah EO untuk anak-anak. Jangan sampai karena ayah bunda pengen ke suatu tempat, misalnya belanja, anak-anak jadi kelelahan karena hal yang mereka tidak bisa nikmati.

Daftar Paspor

Hal yang pertama kali kami lakukan tentu saja adalah mendaftarkan paspor untuk semua. Paspor saya juga sudah habis berlakunya. Saya mengurus paspor di Kantor Imigrasi kelas 1 Jakarta Selatan.

Kualitas pelayanan kantor Imigrasi sudah jauh lebih baik daripada waktu saya mengurus paspor di tahun 2012. Tidak ada lagi berangkat subuh-subuh dan antri berdiri di depan mesin antrian yang baru dinyalakan pukul 7 pagi oleh petugas. Sekarang antrian ada aplikasinya sendiri yang bisa didownload di Google Play Store. Ada kuota setiap harinya, jadi kita tidak bisa sembarangan datang tanpa bawa bukti antrian ini. Waktu saya buka aplikasi ini, saya baru mendapatkan kuota untuk minggu depan. Saya daftar dan mendapatkan receipt dan pemberitahuan untuk datang pada siang hari pukul 1 siang. Bahkan tidak perlu datang pagi, aplikasinya canggih ya heheh…

Pada hari yang ditentukan, kami ke kantor imigrasi (saya, istri, anak-anak) di lantai dua. Di situ ada meja resepsionis untuk check-in dan kemudian diberikan nomor antrian. Anak kedua saya masih dihitung bayi sehingga dapat antrian prioritas. Tapi hanya dia saja, tidak bapak ibu dan kakaknya. Saya pikir kalau satu paket keluarga akan bisa dilayani oleh satu petugas saja. Inilah kesalahan saya. Ternyata meskipun anak-anak, akan diproses sendiri. Akibatnya, karena antrian yang urut, saya, istri, anak pertama, anak kedua, dipanggil oleh petugas yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Jadilah saya pontang-panting sambil dapat bonus dimarah-marahi oleh petugas imigrasinya.

Pelajaran kedua adalah: tidak ada istilah perpanjangan paspor, adanya penggantian paspor. Serupa tapi tak sama. Jika sudah pernah punya paspor, Anda hanya bisa mengajukan pergantian pasporMeskipun paspor sudah habis, Anda harus membawanya dan diproses melalui pergantian paspor. Tidak bisa melalui proses permohonan paspor baru.  Ini kejadian pada paspor istri saya. Paspornya sudah habis lama sekali dan tidak ketahuan dimana. Dipikir mirip SIM, kalau sudah habis ya mengajukan SIM baru dan ujian lagi — tidak bisa pakai perpanjangan. Ternyata paspor berbeda. Permohonan paspor istri saya ditolak karena tercatat sudah pernah punya paspor. Akhirnya setelah dicari-cari, paspor lama itu masih ada, jadi tidak perlu bikin surat kehilangan . Akhirnya mengajukan permohonan lagi melalui pergantian paspor dan akhirnya permohonan diterima.

Rugi Rp. 350.000, karena sistem baru memberitahukan permohonan ditolak karena sudah pernah punya paspor setelah kita bayar. Sayang sekali kenapa sistem tidak memvalidasi ini sebelum bayar. Petugas ibu-ibu yang jutek itu cuma bilang, ini kalau kamu sudah pernah punya paspor permohonan ini ditolak lho. Cuma waktu itu istri saya lupa paspor itu ada dimana dan dipikir karena sudah lama data itu belum dimasukkan di sistemnya imigrasi. Juga karena mindset SIM itu. Ya ndak apa-apa, harga untuk sebuah pengalaman.

Beli Tiket Pesawat dan Karcis Masuk

Setelah paspor selesai, saya mulai beli-beli tiket. Kebetulan ada diskon masuk Legoland sampai 30% dari website resminya. Juga ada diskon masuk Thomas Town dari Traveloka.

Untuk pesawat, ada beberapa alternatif menuju Johor Bahru, yaitu melalui penerbangan langsung Jakarta-Johor Bahru, melalui Kuala Lumpur, atau Singapura kemudian menyeberang ke Johor Bahru. Air Asia ada penerbangan langsung ke bandara Senai Airport. Sayangnya hanya ada dua kali seminggu dan waktunya tidak bagus. Untuk berangkat hanya ada hari Kamis pukul 9 malam. Jadi diperkirakan mendarat pukul 12 tengah malam. Itu pun kalau tidak delay (dan melihat sejarah penerbangan LCC, jarang sekali tepat waktu kalau sudah terbang malam). Saya pikir ini tidak masuk melihat kondisi kami yang bawa pasukan anak-anak. Kalau saja anak-anak sudah agak gede sedikit, mungkin bisa jadi pilihan yang menarik.

Alternatif melalui Kuala Lumpur juga saya coret dengan pertimbangan masih sangat jauh dari Johor Bahru. Saya hitung saya harus transit kereta api beberapa kali. Jarak Kuala Lumpur ke Johor Bahru adalah 500-an km, seperti jarak Jakarta-Semarang. Kecuali kami jalan-jalan dulu ke KL, opsi ini tidak masuk buat saya.

Jadilah saya memilih opsi terbang ke Singapura dulu lalu melanjutkan dengan jalan darat ke JB karena jarak Singapura-Johor Bahru hanya 70-an km saja. Saya beli tiket Air Asia karena masih lebih murah daripada Batik Air, apalagi Garuda Indonesia, apalagi Singapore Airlines. Lion Air saya coret dari daftar karena alasan delay-nya yang tidak manusiawi (saat saya beli tiket ini belum ada kejadian JT-610). Saya mulai riset-riset moda transportasi yang cocok, termasuk opsi Grab. Saya cukup percaya diri dengan persiapan saya ini, tanpa menyadari ada kesalahan fatal dari rencana saya yang kejadian setelah mendarat di Singapura.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *