Demi Ego yang Terpuaskan

Hari Senin pagi seperti biasa lalu lintas lebih macet daripada hari yang lain. Tapi tadi di pertigaan H. Montong Ciganjur, lalu lintas lebih macet dari biasanya. Seperti motor matic lain, saya bisa menyusup ke celah-celah yang bisa dilewati dan akhirnya sampai ke depan di sumber kemacetan.

Ternyata ada yang lagi beradu mulut. Motor sama motor. Saya lihat tidak ada yang luka atau lecet. Dua pria bercelana loreng melawan satu pria yang sepertinya sipil. Tapi saya lihat yang sedang naik darah yang sipil ini karena saya sempat menangkap dia teriak, “Jangan sok jagoan lu!”. Besar nyali juga berani lawan tentara. Kemungkinan Marinir pula (ada markas Marinir di Cilandak).

Saya kadang-kadang agak geli juga, orang kok gampang marah-marah di jalan. Namanya hari Senin, lalu lintas ramai. Tersenggol dikit wajar lah ya. Namanya juga hidup di Jakarta. Jakarta ini keras bung. Kalau sudah begitu ya ga ada yang benar ga ada yang salah. Yang ditabrak salah karena mungkin dia motong jalan tidak mau mengalah. Yang menabrak juga salah karena dia gagal mengantisipasi.

Seperti tabrakan beruntun di tol. Siapa yang salah? Yang ngerem mendadak? Menurut saya yang salah justru yang di belakang. Dia gagal mengantisipasi dan gagal memberi jarak aman.

Terus kalau sudah marah-marah begitu apa yang mau dikejar? Paling hanya berusaha mempertahankan ego merasa benar sendiri itu. Iya kalau menang, lha kalau lawannya juga naik darah karena ego yang sama? Bisa-bisa kepala benjol, pikiran tambah stress. Senin pagi lagi.

Biasanya saya kalau terlibat cek-cok di jalan itu, seringnya malah tersenyum dan segera melipir pergi. Celakanya, dipikir saya ini tersenyum ngeledek. Jadi naik darah dua kali lipat. Saya merasa orang merasa lebih terpuaskan jika lawannya sama-sama marah, lalu dia yang (merasa) menang. Egonya sukses terlampiaskan dengan tuntas. Kepuasan ini tidak ada kalau lawannya tidak ikut naik darah. Karena tidak ada buat pelampiasan.

Entahlah, keep safe. Selalu terapkan defensive driving ketika di jalan. Semoga kita semua selalu dihindarkan dari insiden di jalan raya. Amin.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Jalanan memang tingkat stress-nya tinggi, mas Galih. Udah panas, udaranya penuh polusi, pengendaranya banyak yang ngawur. Tindakan preventif-nya ya berdoa supaya nggak ada insiden hari ini plus defensive driving tadi 😀

    Cuma soal yang ini, “Yang ditabrak salah karena mungkin dia motong jalan tidak mau mengalah. Yang menabrak juga salah karena dia gagal mengantisipasi.”, agak kasuistis juga. Beberapa kali saya alami, orang nyalib trus tau-tau di depan berhenti, Biasanya motor/angkot. Belum pernah menemui yang mobil. Itu kalau yang di belakang nggak pelan banget, mustahil untuk menghindari tabrakan. Masalahnya, kalau di jalan besar kan orang nggak mungkin pelan banget karena bakal menghalangi belakangnya?

    1. Tetep mas, artinya itu gagal mengantisipasi bahwa setiap saat akan ada yang motong jalan seenaknya. Defensive driving gunanya untuk itu, emang sih kalau diterapkan 100% paling kita jalan 40 km/jam aja di jalan sepi hehehe…

  2. saya sering berteriak keras: woyy! pada pengendara yg cuek menerabas lampu merah sementara dari arah saya sudah ijo, tapi ya sekedar melepaskan kesel gitu aja, wong pengendaranya jg cuek dan terus melaju gitu je, dipikir2 rugi juga ya keel tapi digratisin gitu heheheh

    1. Dulu waktu saya kuliah di Surabaya, saya gampang banget teriakin orang, “hoeee cukkkkk!”. Ternyata di Jakarta malah membuat saya jadi kalem, padahal lalu lintasnya lebih parah. :mrgreen:

  3. Biasa terjadi. Tabrakan kendaraan bermotor, dan kedua pihak saling menyalahkan. Kenapa kamu memotong jalur saya? Kenapa kamu tidak antisipasi kalau saya mau lewat? Begitu saja terus debat Kusir, tidak akan pernah selesai sampai sekalipun Farhat Abbas jadi presiden.

    Kalau saya justru menyalahkan guru SD masing-masing pihak. Kenapa orang-orang ini tidak diajari logika? Sudah tahu kendaraannya rusak ditabrak, kenapa bukan perbaiki kendaraan, malah pilih berantem dulu?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *