Hasil Program Diet “The New Me”

Tiga bulan sejak postingan ini telah berlalu, artinya program diet dari kantor yang diberi judul “The New Me” telah selesai. Dalam tiga bulan ini, saya berhasil turun 5,1 kg. Jadi berat saya sekarang 81 kg. Jika dibandingkan dengan waktu MCU tahun ini, saya sudah turun 11 kg (dari 92 kg). Hitungan BMI (Body Mass Index) menunjukkan saya masih overweight, tapi saya sudah lolos dari jamaah obesitas.

Meskipun tidak menjadi pemenang (juaranya berhasil turun 14 kg!), ada banyak pelajaran di program ini. Dan saya merasa bahwa inilah diet yang benar itu.

Ada banyak sekali metode diet, ada OCD yang populer, ada food combining, ada diet mayo, dan sebagainya. Tetapi di program ini, sebelum menerapkan metode diet, yang direparasi pertama kali adalah mindset. Diet pikiran. Bahwa ini bukanlah diet sementara, tetapi bahwa inilah yang akan menjadi gaya hidup. Mindset diubah dari “saya tidak makan ini karena dokter melarang saya” menjadi “saya tidak makan ini karena ini tidak baik buat saya“.

Saya merasa justru inilah yang paling penting dan paling memakan waktu. Bagaimana saya yang hobi makan ini bisa meninggalkan itu semua? Apalah arti turun berat badan jika setelah itu ada sesi balas dendam yang membuat berat badan naik kembali lagi ke titik semula? Saya tidak mau kembali ke berat badan 92 kg.

Dokter gizi kami, dokter Eva menerapkan diet seimbang. Artinya makan tetap tiga kali sehari (bahkan lima kali karena ada dua kali snack time) tapi dengan kalori yang rendah. Saya memakai aplikasi MyFitnessPal dari App Store untuk mengontrol dan mengetahui jumlah kalori per hari. Kalau rajin sih. Kalau lagi malas ya dikira-kira saja.

Langkah pertama saya adalah nasi. Saya mengganti nasi putih ke nasi merah. Saya sempat berseloroh ke istri saya kalau nasi merah itu diciptakan Allah supaya manusia bisa mensyukuri betapa nikmatnya nasi putih. Kemudian setelah itu belajar mengurangi porsi. Dari porsi kuli menjadi enam sendok makan saja. Untuk yang ekstrem sebenarnya tiga sendok makan. Tapi saya batasi saja di enam sendok makan. Masih manusiawi. Masih achievable. Lama-lama terbiasa saja. Nasi merah sama nikmatnya dengan nasi putih. Dan ketika saya makan porsi saya dulu, rasanya menjadi terlalu kenyang dan tidak nyaman.

Langkah kedua adalah belajar menghindari gorengan. Saya baru menyadari ternyata mayoritas makanan Indonesia adalah digoreng. Tempe goreng. Ayam goreng. Ikan goreng. Karena tidak mungkin menghindari semuanya, jadi saya mengurangi gorengan secara bertahap. Saya senang sekali ketika bisa menolak camilan gorengan di meja. Singkong goreng, mendoan, molen, tempe, bala-bala. Abang-abang kaki lima itu pakai minyak goreng apa? Sudah buat berapa kali goreng? Apa iya tidak dicampur plastik?

Seorang Galih menolak camilan gorengan? Tidak pernah terjadi sebelumnya, hehehe…

Berikutnya adalah gula. Saya bersyukur saya tidak kecanduan kopi atau teh. Saya ini programmer aneh, programmer kok tidak suka kopi. Saya lebih suka air putih berliter-liter. Begini saja sudah terancam diabetes, apalagi kalau saya masih minum kopi atau teh. Saya jadi lebih aware minuman-minuman dalam kemasan. Saya cek kandungan gulanya. Masya Allah. Lihat saja komposisi gula di dalam Teh Botol, S-Tea, Teh Pucuk, bahkan di minuman yang terkesan sehat seperti Buavita, Pulpy Maid. Semua bergula tinggi.

Menu harian saya menjadi mayoritas masakan rumah. Dua minggu pertama masih idealis. Tumis dan rebus. Saya stres. Akhirnya menu saya kembali normal dan tidak terlalu idealis. Tapi paling tidak saya belajar untuk mengurangi. Di sini saya tidak ingin terlalu memaksakan diri dalam frame tiga bulan ini. Saya tidak mengejar juara. Saya ingin menjadikan ini menjadi gaya hidup seterusnya.

Lebih Aktif

Konsep berikutnya yang dikenalkan tim ISMC adalah hidup lebih aktif. Saya dibekali pedometer, alat penghitung langkah. Sehari harus habis 10 ribu langkah. Tidak ada olahraga khusus yang diharuskan. Kita hanya diharuskan jalan kaki 10 ribu langkah. Setiap hari. Kira-kira itu sama dengan 4 atau 5 km. Sementara rata-rata langkah orang kantoran sehari itu hanya 1500-3000 langkah saja. Belum kalau pesan makan siang ke OB. Bisa lebih sedikit lagi.

Melahap 10.000 langkah itu urusan gampang. Tapi jadi super sulit kalau harus setiap hari. Saya hanya mematok target 5000-6000 saja sehari. Itu saja harus sudah aktif sekali. Saya parkir motor di gedung sebelah. Lalu ada 15 menit sampai setengah jam jalan kaki putar-putar di lapangan parkir gedung itu. Biasanya itu saja sudah 2000-an langkah sendiri. Siang makan siang menyumbang 1000 langkah lagi. Saya tinggalkan botol minum 1,5 liter saya dan mengganti dengan gelas 500 ml. Setiap kali habis, saya paksakan untuk jalan kaki ke lounge mengambil air. Untuk menambah jumlah langkah.

Lalu, setiap minggu ada sesi exercise. Ada instruktur yang memandu kami senam. Semacam senam aerobik dan ada latihan ototnya. Tapi berbeda dengan latihan otot yang di gym, semua latihan yang diperkenalkan menggunakan berat badan sendiri sebagai bebannya. Bahkan tidak perlu barbel. Ada latihan squat, push up, sit up. Pak Diding mengajari bagaimana latihan gerakan yang benar. Saya pikir ini yang mahal dan tidak bisa tergantikan oleh Youtube.

Bertahan

Jadi begitulah, hari ini program sudah berakhir dan saya harus melanjutkannya sendiri. Saya masih mempertahankan pola makan saya (sudah lama sekali saya tidak makan bubur ayam belakang kantor). Selain itu, saya memulai “tirakat” dengan mencoba konsisten puasa Senin-Kamis. Semoga ini tidak hanya karena ingin diet, tapi juga karena sisi spiritual-nya. Puasa ini saya niatkan sebagai doa saya kepada Allah (istilah Jawanya tirakat).

Saya sedang berpikir bagaimana mempertahankan langkah kaki ini. Setelah program selesai, hitungan langkah saya turun ke 3000-an langkah. Saya sedang berpikir apakah saya perlu beli treadmill di rumah. Juga bagaimana supaya saya bisa senam sendiri di rumah. Masih sulit memulainya karena sepulang kantor badan sudah capek.

Saya juga memulai kebiasaan baru berenang di kolam renang korps Marinir Cilandak setiap Minggu. Cuma musim hujan ini kolam renangnya jadi kotor dan bikin malas berenang. Harus segera mulai lagi ini.

Overall, saya mulai merasakan manfaat hidup sehat dan aktif ini. Saya merasa lebih enteng dan lincah. Baju dan celana saya sudah kegedean semua dan sekarang saya pakai celana lama waktu awal-awal masuk kantor dulu. Stamina saya juga membaik. Saya tidak merasa gampang capek. Pusing dan sakit kepala yang sering saya rasakan dulu sekarang hilang. Bahkan low back pain saya juga hilang. Semua itu adalah alasan yang lebih dari cukup untuk membuat saya harus bertahan dengan pola hidup seperti ini.

Semangat!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. weh keren, alhamdulillah..
    saran saya sih daripada beli treadmill mending jalan kaki atau jogging keliling komplek, bisa sambil berhai-hai sama penduduk sekitar hehehe atau beli sepeda #halaghteteup 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *