Tentang Program “The New Me”

Hampir selalu setiap Mecial Check Up (MCU), saya kena obesitas karena Body Mass Index (BMI) saya sekitar 30-an. Tapi MCU tahun ini yang paling menakutkan karena selain obesitas, kolesterol saya juga tinggi. Ditambah lagi faktor tekanan darah tinggi. Dokter Arif, dokter kantor saya, waktu mereview MCU saya seperti sangat tertekan waktu memaparkan risiko-risiko penyakit yang bisa mengancam.

Saya ingin melihat Zafran tumbuh besar dan dewasa.

Jadi saya harus menurunkan berat badan, suka atau tidak suka. Waktu MCU, berat badan saya 92 kg. Ini posisi berat badan saya terberat sepanjang masa. Untunglah setelah itu bulan puasa datang. Berbeda dari bulan-bulan puasa tahun sebelumnya yang berat badan malah naik, saya menjaga asupan makanan waktu bulan puasa tidak berlebihan. Tidak ada “balas dendam” setelah bedug Maghrib tiba.

Hasilnya, berat badan saya di sepuluh hari terakhir Ramadhan turun hingga 85 kg. Ujian sesungguhnya hadir ketika Idul Fitri tiba. Siapa yang sanggup menolak Lodho Sego Gurih dan jajanan khas lebaran yang manis-manis? Walhasil, hidup normal setelah lebaran berat badan saya mentok di 87-88 kg.

Nah, saat ini, klinik kantor saya memiliki program yang bagus bernama “The New Me”. Ini adalah program diet rame-rame yang difasilitasi kantor. Ini semacam kompetisi balapan siapa yang paling banyak turun berat badannya selama tiga bulan ini. Metodologi diet-nya adalah diet seimbang. Jadi kami diberikan daftar menu rendah kalori. Tidak ada itu istilah jendela makan. Jadwal makan tetap tiga kali sehari ditambah dua kali snack buah dengan kalori yang dikontrol.

Selain itu, peserta dipinjami alat penghitung langkah yang namanya pedometer. Jadi selain jumlah kalori dikurangi, peserta diharapkan juga membiasakan bergaya hidup aktif. Sehari minimal berjalan 10 ribu langkah. Itu kira-kira sekitar 6-7 kilometer sehari. Setiap hari Rabu, ada sesi kelas senam setiap jam istirahat.

(null) Ini kali pertama saya menembus angka 10 ribu langkah

Dua minggu program berjalan, berat badan saya langsung turun menjadi 83,5 kg. Dan tantangan sesungguhnya pun datang: konsistensi.

Tidak mudah membiasakan makan makanan “sehat” setiap hari. Nasi merah enam sendok, tumis brokoli, secuil dada ayam rebus tanpa kulit. Padahal saya terbiasa makan nasi putih dua centong, ayam goreng, tempe goreng. Atau lauk berkuah bersantan. Belum lagi godaan dari kantor saya yang kebiasaannya tidak pernah sepi dari cemilan dan gorengan.

Soal berjalan kaki itu pun juga susah. Sekali dua kali sih gampang melahap jatah 10 ribu langkah. Tapi ini setiap hari bo’. Kaki saya setengah bengkak setelah hari Minggu kemarin berjalan kaki memutari kawasan Ciganjur – Cipedak. Akhirnya target saya turunkan ke level minimum, yaitu target angka yang dibutuhkan supaya pedometer ini menjadi hak milik, yaitu 600 ribu langkah dalam tiga bulan. Artinya setiap hari harus melangkah sekitar 7000 langkah.

Saya tahu, program diet yang baik jika diikuti dengan benar akan berhasil. Saya optimistis saya bisa turun ke 75-80 kg waktu nanti di akhir program. Tapi justru di situlah masalahnya. Saya kuatir begitu program ini selesai, pola makan saya kembali dan akhirnya usaha tiga bulan sia-sia karena badan menyesuaikan beratnya ke 85-90 kg lagi.

Diet, seharusnya memang bukan menjadi program diet. Tapi menjadi gaya hidup. Secara makrifat harus menjadi kebiasaan. Bukan karena sedang diet, tapi memang gaya hidupnya seperti itu. Makan makanan sehat rendah kalori dan aktif bergerak.

Sampai ketemu di tiga bulan lagi. When the new me is me. Kwkwkwkw…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

Leave a Reply to Eko Suhariyadi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *