Catatan Mudik: Arus Balik

Setelah hampir sepuluh hari di kampung halaman, akhirnya tiba saatnya kembali ke Jakarta. Rencana awal kami pulang hari Sabtu, transit di Cirebon, sehingga Minggu sore sudah sampai rumah. Tetapi melihat kondisi Zafran, dan setelah ditakut-takuti tante saya tentang keponakannya yang sakit setelah diajak mudik, saya memutuskan untuk pulang sehari lebih awal dengan tambahan pit stop untuk menginap.

Berkebalikan dengan ketika hidung mobil masuk halaman rumah ketika mudik, rasanya berat sekali harus meninggalkan rumah dan kembali ke Jakarta. Apalagi hari itu pas lebaran Syawal. Anak-anak tetangga mulai menerbangkan balon plastik berbahan bakar minyak tanah. Tapi saya harus segera jalan kalau tidak ingin terjebak macet parah di Durenan yang sedang merayakan lebaran ketupat.

Jadi jam setengah tujuh pagi kami berangkat. Menyusuri jalur mudik kemarin. Masuk kota Trenggalek jalur dialihkan petugas untuk melintasi ring road, tidak boleh masuk kota. Di sini kami sudah bertemu dengan mobil-mobil plat B yang nampaknya juga kembali ke kota asalnya, Jakarta.

Sekitar waktu shalat Jumat, kami masuk kota Solo. Saya tidak shalat Jumat karena sedang safar, memilih mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar dijamak qasar. Di Solo, kami mampir ke Serabi Notosuman, lalu bermaksud beristirahat di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta.

Ternyata alun-alun kraton menjelma menjadi pasar darurat karena terbakarnya Pasar Klewer beberapa waktu yang lalu. Di bawah pohon di alun-alun itu, kami sekeluarga makan siang. Lauknya Tengkleng khas Solo yang dijual di pojokan Pasar Klewer – Masjid Ageng. Antrinya luar biasa. Memang enak sih ya.

Baru pukul setengah dua kami meninggalkan Solo menuju ke Semarang. Kepadatan arus balik sudah mulai terasa. Di Boyolali lagi-lagi petugas tidak mengizinkan untuk masuk kota. Eh malah masuk daerah Bonso, tempat Mas Dennis dulu tinggal di rumah kontrakannya yang “horror” itu. Saya masih ingat gang masuknya.

Arus lalu lintas tersendat lepas Salatiga. Ternyata ujungnya sampai pintu masuk tol Bawen. Layar Waze menunjukkan kemacetan parah di tol Krapyak yang menuju ke arah Jakarta. Tapi syukur perjalanan cukup sampai di sini dulu. Kami transit dulu di Semarang. Menginap di Fave Hotel, atas rekomendasi teman yang di Path. Saya booking sehari sebelumnya via Agoda. Kebetulan ada promo, tarif satu malamnya Rp. 300.000 saja.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *