Catatan Mudik: Nyetir Mobil di Saat Puasa

Dengan jarak tempuh Jakarta-Tulungagung yang 750 km, sebenarnya sangat boleh untuk tidak puasa. Tapi saya mau mencoba, kalau masih kuat ya lanjut sampe Maghrib, kalau enggak ya buka di jalan. Mengganti puasa di hari biasa itu lebih berat soalnya, hehe…

Kami memulai perjalanan mudik tanggal 11 Juli, berangkat jam setengah enam pagi dengan tujuan rumah mertua di Cirebon untuk transit istirahat semalam. Kondisi jalanan sudah ramai karena sudah masuk H-6 lebaran. Kami kena macet mulai Cikarang karena gerbang tol Cikarang Utama. Setelah itu lancar sampai masuk ke tol Cipali. Antrian di gerbang tol Cikopo sekitar 1 km. Setelah itu lancar lagi, kecepatan rata-rata 90 km/jam.

Menurut standar keselamatan di kantor, setiap tiga jam mengemudi harus istirahat minimal 20 menit dan maksimal sehari hanya boleh 12 jam mengemudi terus menerus. Melihat kondisi tol Cipali yang diam-diam lancar tapi rawan, saya berhenti di rest area KM 102. Rest area masih dalam pembangunan, debu di sana-sini. Toilet-nya juga masih baru.

km102Kondisi di Rest Area KM 102 Tol Cipali

Saya memeriksa akun Twitter Radio Elshinta, NTMC Lantas Polri, dan Pantau Mudik untuk melihat kondisi jalan. Dilaporkan terjadi antrian parah sampai 15 km menjelang gerbang tol Palimanan. Terkonfirmasi Waze yang saya nyalakan terus, saya keluar di exit tol Sumberjaya, lalu lewat jalur biasa sampai masuk Cirebon. Atas saran pengguna Waze juga, saya masuk kembali ke tol Palimanan – Kanci melalui gerbang tol Plumbon. Selamat dari terjebak kemacetan.

Menginap semalam di rumah mertua, Twitter menginformasikan kalau jalur Pantura sudah sangat padat. Ada kemacetan di tol Palikanci, Kanci Pejagan, dan Pejagan Brebes yang masih konstruksi tapi sudah dibuka sebagai jalur darurat. Jadi saya mengajak istri untuk berangkat lebih pagi. Jadilah kami berangkat jam tiga subuh. Untung Zafran ngga rewel pas dibangunin.

Jam empat pagi kami sampai di Tegal. Kami berhenti untuk sahur dan sholat Subuh di Masjid Ittihad Tegal. Cuaca dingin dan berangin. Khas pantai ya. Jam lima pagi kami melanjutkan perjalanan. Bensin tinggal 1/4 setelah dari Jakarta hampir penuh dan dipakai muter-muter ke rumah kerabat di Cirebon. Saya isi bensin full tank di SPBU Tegal.

tegalDi depan Masjid Ittihad, Tegal

Jam delapan pagi kami sampai di kawasan Alas Roban. Istri saya mengingatkan untuk beristirahat karena sudah tiga jam. Jadi kami berhenti di SPBU di jalur lama Alas Roban. Sudah banyak pemudik yang parkir di sini. Saya tiduran di mushola karena rasanya agak pusing nggliyeng gitu. Banyak yang orang yang menawarkan jasa pijat buat para pemudik. Yang saya butuhkan tidur pak, bukan pijat.

Setengah jam tidur-tidur ayam, badan segar kembali. Kami melanjutkan perjalanan. Masuk tol Krapyak – Banyumanik Semarang alhamdulillah lancar. Langsung bisa ngebut di tol Ungaran – Bawen. Lanjut terus ke Salatiga lalu Boyolali. Sampai sini saya sudah kenal jalurnya karena dulu pernah mengemudi Tulungagung – Boyolali waktu berkunjung ke rumah Mas Dennis yang masih dinas di Boyolali.

Masuk kota Solo jam 12 siang. Kami mencari makan siang untuk Zafran. Jadilah kami ke Pizza Hut di Jl. Slamet Riyadi. Saya juga ditawari berbuka sama istri karena mungkin melihat muka saya yang mulai pucat (dan kurus). Saya merasa masih kuat untuk berpuasa sampai sore. Setelah makan siang, kami sholat Dzuhur jamak-qasar Ashar dan saya numpang tidur sebentar di mushola-nya Pizza Hut.

Sekitar pukul setengah dua kami melanjutkan perjalanan. Wisata kulinernya nanti saja pas arus balik (lha lagi puasa je). Saya memilih jalur Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo karena tidak ingin terjebak kemacetan di jalur Caruban – Ngawi – Madiun. Ternyata jalur Wonogiri – Ponorogo tidak sebagus dulu. Jalannya tetap kecil dan naik turun, ditambah berlubang-lubang di beberapa tempat. Kalau tadi masih excited karena pengalaman baru lewat jalur Pantura, yang ini sudah ingin cepat-cepat sampai rumah.

Jam lima sore masuk kota Ponorogo. Berhenti sebentar saja karena saya ingin melewati bukit Ponorogo – Trenggalek sebelum Maghrib. Gelap kalau lewat situ malam-malam.

Saya berbuka puasa dengan minum air di bukit Ponorogo-Trenggalek itu. Alhamdulillah ternyata kuat mengemudi Cirebon – Tulungagung dalam kondisi berpuasa. Jam tujuh malam akhirnya sampai rumah dan disambut dengan suka cita oleh kakek, nenek, dan pakdenya Zafran. Bagaimana rasanya setelah dua tahun ngga pulang? Luar biasa.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. Mudik saya naik kereta dari Jakarta ke Jogjakarta, tapi justru lebih lama karena transit (wisata) ke Bandung dulu. 😀
    Baca-baca testimoni pemudik mengenai Cipali itu kok kayaknya sesuatu banget ya…

  2. ditunggu kelanjutan ceritanya, etapi menurut saya sih jalur wonogiri-ponorogo masih lumayan bagus lah, ya kalo dibandingkan jalan tol ya jelas beda, tapi menurutku bagus kok..cuma tikungan & tanjakan-turunannya emang lumayan soalnya kmaren kan pernah njajal jalan itu, dari jogja berangkat naik sepeda, pulangnya naik mobil hehehe

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *