Tentang Gelombang

Saya selalu menyukai novel yang detail. Novel yang mampu menerbangkan imajinasi sehingga pembaca seolah-olah berada di waktu dan tempat si tokoh novel. Salah satu alasan saya menyukai seri novel Supernova karena detailnya. Mulai Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (Diva), Akar (Bodhi), Petir (Etra), Partikel (Zarah Amala), dan terakhir Gelombang (Alfa), semua menunjukkan detail dan kedalaman riset penulis. Saya sengaja tidak mau menonton film Supernova yang baru itu karena tidak ingin merusak imajinasi saya.

Gelombang memikat saya sejak awal karena kedetailannya menggambarkan Sianjur Mula Mula, Karo. Saya beruntung pernah ikut tur Geotrek Indonesia menyusuri Danau Toba mulai dari ujung air terjun Sipiso-piso, menyusuri lembah pegunungan Sibayak-Sinabung, melihat tanah Karo dimana suku Batak berasal, lalu masuk pulau Samosir dari belakang, bukan menyeberang dari Parapat yang lebih populer. Ketika membaca Gelombang, saya serasa kembali ke tur itu dan merasa sangat akrab dengan deskripsi daerah Sianjur Mula Mula, tempat sang tokoh utama, Thomas Alfa Edison Sagala, berasal.

Di Gelombang ini, ketersambungan serial Supernova mulai jelas. Jika sebelumnya terkesan sebagai novel yang keterkaitannya cenderung dipaksakan, maka di Gelombang ini mulai jelas apa itu maksudnya Supernova. Tetapi saya malah tidak terlalu suka bagian utama ini. Seperti saya lebih menyukai kisah usaha warnet-nya Elektra di Petir, kisah karir fotografi wild life-nya Zarah di Partikel, saya lebih menyukai kisah sukses Alfa sebagai trader di Wallstreet. Bukan pencarian maksud mimpinya yang merupakan garis utama serial Supernova.

Tahun 2014 ini, minat baca saya menurun drastis, mungkin karena semakin susah menemukan novel yang cocok dengan selera saya. Novel-novel best seller sekarang ini sepertinya sedang tren ala ala Tere Liye atau Asma Nadia begitu. Andrea Hirata juga sepertinya tidak bisa membuat cerita di luar kisah Laskar Pelangi. Lagian saya juga jadi lebih suka baca kultwit dan twitwar, hal yang merusak kemampuan membaca buku.

*) Di ujung lembah nun jauh di sana, itulah Tanah Karo, tempat suku Batak bermula, tempat daerah Sianjur Mula-Mula selengkapnya ada di essay foto saya, Horas Medan!, di blog foto di sini.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. aku sedari dulu suka dengan sosok Isthtar Summer, makanya seri yg paling aku suka adalah Akar, selain Partikel di urutan berikutnya 😀

  2. Review yang menarik! Salam kenal, saya juga penggemar serial Supernova dari Dewi Lestari dan juga karya – karya Dee yang lain. Secara personal saya paling suka dengan karakter Bodhi di Akar tapi kalau cerita paling seru mungkin ceritanya Zarah di Partikel. Kalau Alfa suka karena secara implisit dibilang menarik sama Dee dan karena dia keseluruhan keliatan seperti orang yang super cerdas. Sekali lagi salam kenal.

    Oh ya, pernah baca buku berjudul Pulang karangan Leila S. Chudori?

Leave a Reply to warm Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *