Dari Hati

“Masih eksis mas?”

Begitu kata rekan sebelah meja saya ketika menemukan saya sedang menulis blog. Saya tahu maksud dia, jaman sekarang lebih jamak menulis status di Facebook, Twitter, atau Path (dan ask.fm mungkin?).

“Masih, ya begini ini kalau dari hati, bukan karena ingin mendapat pembaca,” jawab saya. Mungkin kalau malah terlalu banyak pembaca, sudah berhenti menulis sejak dulu.

Krenteg, bahasa Jawa-nya. Keinginan yang tidak terbendung. Kalau cuma ingin, mungkin bisa ga jadi tulisan. Apalagi kalau diharuskan menulis, bisa jadi konsistensi menulis itu tidak bertahan lama. Saya bilang ke atasan saya ketika berdiskusi tentang knowledge management systemΒ yang baik, kita tidak memaksa orang untuk membagi pengetahuannya. Kita harus bisa membuat orang menulis karena ia ingin menulis, karena ia ingin berbagi, dengan dorongan dari dalam hati, bukan karena diharuskan, bukan karena insentif sesaat. Hasilnya akan jauh lebih berkualitas.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Semoga tetap ngeksis ya, Mas. πŸ™‚

    Dan memang betul, ngeblog dari hati itu lebih awet. Makanya aku juga sampai sekarang masih betah ngeblog. Yah, meski ada tujuan lain juga sih… Tujuannya jadi kepingin lebih pintar menulis. πŸ˜†

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *