WordPress vs Joomla vs Drupal

Saya pernah menulis, bahwa untuk membangun sebuah website dengan cepat, sudah bukan waktunya lagi membuat dari awal (don’t reinvent the wheel). Semua sudah dilakukan oleh sistem Content Management System (CMS). Apa CMS terbaik dan terpopuler saat ini? Saya pikir, yang terpopuler pasti CMS-CMS berbasis PHP karena begitu luasnya penggunaan PHP. PHP adalah standar public webhosting yang murah sewanya. Bedakan dengan Java yang harus sewa Virtual Private Server (VPS) sendiri. Atau bahkan Sharepoint yang harus sewa Microsoft Office 360. Harga sewanya pastinya jauh lebih mahal.

Tentu banyak yang setuju jika tiga CMS terbaik yang berbasis PHP adalah WordPress, Joomla, dan Drupal. Pertanyaannya, siapa yang terbaik? Menjawab pertanyaan ini seperti menjawab pertanyaan, “Bagusan Nikon atau Canon?” atau “Pilih mana, Linux, Windows, atau Mac?”

WordPress

WordPress adalah blogging platform. Tetapi dalam perkembangannya, WordPress bisa dipakai sebagai CMS website yang fokus pada content publishing. Dengan dukungan theme dan plugin yang gratis/murah dan banyak macamnya, maka WordPress adalah pilihan pertama saya untuk membuat pesanan website. WordPress juga gampang dimodifikasi. Alur belajarnya pendek, siapa yang mengerti PHP, MySQL, dan cara kerja website akan bisa memodifikasi WordPress. Sayangnya, kemudahan WordPress membuatnya sulit untuk dikembangkan lebih jauh. Istilahnya skalabilitas. WordPress tidak bisa digunakan untuk content yang lebih kompleks selain artikel, berita, dan halaman statis saja.

Joomla

Joomla adalah pilihan saya berikutnya jika WordPress tidak mampu menangani content yang lebih kompleks. Namun dalam perjalanan saya belajar Joomla (saya belajar dengan cara memasang Joomla di site www.galihsatria.com dan bermain-main dengannya), saya melihat mayoritas ekstension (baik theme dan plugin) Joomla berbayar. Hampir tidak menemukan ekstensi yang bagus yang gratis. Ini membuat saya tidak bisa mempelajari Joomla lebih jauh lagi. Mungkin Joomla lebih cocok untuk website yang fokus kepada e-commerce dan media sosial yang melibatkan banyak pengguna yang harus log in.

Drupal

Ketika saya membutuhkan sesuatu yang lebih scallable dari WordPress, saya membayangkan sebuah platform yang bisa dibuat apa saja. Bahkan kalau bisa aplikasi. Saya berharap saya tidak perlu lagi menulis bahasa PHP, membuat koneksi data ke MySQL, dan memanipulasi data untuk menjadi informasi yang diperlukan dengan menyusuri baris demi baris kode. Saya kalau bisa tinggal klik sana klik sini, konfigurasi sana sini, dan apa yang saya inginkan jadi.

Apakah rocket science seperti ini sudah ada? Ternyata sudah. Pengalaman saya dengan sistem Maximo versi 7, saya mengagumi kemudahannya dalam membuat aplikasi bisnis. Hampir seluruh pekerjaan adalah konfigurasi. Menulis script hanya jika kita butuh membelokkan proses dan mengotomatisasi proses, bukan untuk tulang punggungnya.

Saya melihat Drupal seperti bahan-bahan bangunan — pasir, batu bata, semen. Perlu usaha dan pengetahuan lebih dalam untuk bisa menjadikannya sebuah rumah yang bisa ditinggali. Sepertinya, Drupal menjanjikan sebuah platform CMS yang bisa dijadikan apa saja. Mudah-mudahan, saya sedang mulai mempelajarinya dengan agak serius, hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 thoughts

  1. Keren pak review-nya… Sebelumnya saya adalah pengguna Blogcepot, lalu ke WordPress. Tapi sekarang malah kecanduan Drupal… Yang jelas buat saya yang orang awam, gegara belajar Drupal, secara tidak langsung saya dididik buat mandiri untuk memahami alur suatu sistem, koding, DLL…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *