Catatan Pasca Pilpres 2014

Masih seputar copras-capres, banyak orang yang mengira bahwa hiruk pikuk media sosial akan mereda setelah Pilpres selesai. Nyatanya tidak. Perang opini masih berlangsung.

Perang opini ini paling tidak membuat saya mengerti, kenapa kita bangsa Indonesia bisa dijajah sebuah perusahaan kecil dari Belanda bernama VOC, yang diteruskan oleh Belanda, selama 350 tahun. Politik adu domba pecah belah masih relevan hingga saat ini.

Bagaimana tidak? Yang saya tidak habis pikir adalah, bagaimana kawan-kawan saya di media sosial banyak sekali termakan isu kampanye hitam. Langsung main share tanpa verifikasi dan cross chek terlebih dahulu. Langsung share dengan bumbu opininya sendiri. Kalau yang termakan adalah orang-orang yang tidak mendapatkan akses informasi dengan mudah, saya masih bisa mengerti. Tapi mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang mendapatkan banyak informasi — mungkin terlalu banyak.

Dalam isu agama, yang paling membuat saya mengerutkan kening, bagaimana bisa calon nomor satu dipersepsikan sebagai tokoh yang lebih agamis daripada calon nomor dua. Padahal secara latar belakang, seharusnya lebih relevan adalah jika sebaliknya. Kemarin setelah nyoblos, saya publish foto selfie saya dan isteri dengan dua jari kena tinta. Tidak lama kemudian, ada pesan Facebook masuk. Tanpa basa-basi, langsung menuduh, “Pooooh, penganut liberalis!”

Saya, yang tidak mau berpolemik, menimpali, “Neoliberalis pak.” Lha iya, sejak saya dikenalkan dengan Adam Smith di SMP di pelajaran berjudul Ekonomi Koperasi, jelas saya telah bermahzab Ekonomi Liberal.

Tetapi jawaban lanjutan teman saya tersebut yang membuat saya murung, “Berarti sudah sepakat negara kita akan dipimpin partai seperti itu. Astagfirullah. Semoga kita semua diampuni Allah SWT.”

Saya jawab saja, Amin. Jika memang pilihan saya salah, ampuni saya ya Allah. Saya hanya memilih berdasarkan hati nurani dan mempertimbangkan banyak faktor secara masak-masak. Pas mencoblos saya juga mengucap Bismillah.

Bayangkan kalau saya tidak terima dituduh seperti itu. Tentu hasilnya jadi debat kusir tak berguna seperti yang sudah sering saya lihat di media sosial. Di sinilah menurut saya, kita bangsa Indonesia belum dewasa dalam berbeda pendapat. Begitu ada yang berbeda pilihan, langsung cenderung diserang, dituduh macam-macam. Salah wis pokoknya.

Padahal menurut saya, pendukung Jokowi-JK tidak hanya kaum liberalis pendukung LGBT itu, tapi sangat majemuk dan bermacam-macam. Islam Liberal, Islam moderat, para ulama, cendekiawan, Jawa, Cina, Papua, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dll. Dan seperti itulah Indonesia bukan? Indonesia, dengan penduduk muslim terbesar dengan berbagai macam suku, menurut saya tidak akan cocok dengan model khilafah seperti di Timur Tengah begitu. Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan kita.

Jika seandainya nanti hasil KPU sama dengan quick count, saya pikir itulah kemenangan Indonesia. Kemenangan kita semua yang berbhineka tunggal ika. Bukan kemenangan Joko Widodo, bukan kemenangan PDIP. Karena beliau bukanlah seorang Ratu Adil yang akan membawa Indonesia, sendirian, one man show, menjadi Macan Asia. Tetapi seorang pemimpin yang akan mendorong kita semua melakukan perubahan. Jika kita tak mau berubah, jika masih begini-begini saja, jika masih korupsi, malas-malasan, Jokowi tidak akan mampu. Prabowo tidak akan mampu. Tidak ada yang mampu. Dan biasanya kita akan menyalahkan pemimpin bak seorang Ratu Adil itu…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 thoughts

  1. Pendapat sampeyan masih saya acungi jempol sebagai pendapat yang paling cerdas, mas Galih 😀

    Yang membuat saya miris adalah, mengemukakan opini setelah main share dengan bumbu-bumbu “Allahu Akbar!!”. Ini bukan perang suci antara para ksatria putih melawan setan bukan?

    Memperdagangkan agama dengan hal yang murah seperti ini hanya akan membuat kaum Muslim makin mudah dilecehkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *