We Stand on The Right Side

Pasca debat Capres-Cawapres episode satu, akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya ke pasangan capres nomor 2: Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dengan mantap.

Pak Jokowi sebetulnya belum siap jadi presiden, beliau masih junior dan berpengalaman di wilayah kecil kota. Di lingkup DKI yang besar masih banyak yang harus diselesaikan. Beliau masih butuh mengembangkan visi kenegaraan yang lebih luas lagi. Tetapi ya kita cuma punya pilihan dua, kalau ga Pak Prabowo, ya Pak Jokowi.

Sebagai warga DKI, tentu saya mengharapkan Pak Jokowi jadi presiden, lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk Jakarta. Masalah Jakarta tidak bisa dibebankan ke Pemprov saja. Dan selama ini, inisiatif dari pemprov selalu kandas oleh kebijakan pusat. Dan yang kena getahnya tentu adalah Gubernur yang tidak bisa menyelesaikan masalah lima puluh tahun dalam dua tahun. Siapa pun tak akan bisa. Tak ada Ratu Adil semacam itu.

Bagaimana dengan Prabowo-Hatta? Pertanyaannya sebenarnya simpel, apa yang dimiliki Pak Prabowo yang bisa membuat saya memilih beliau? Ternyata pertanyaan simpel ini tidak bisa dijawab dengan memuaskan. Sebagai seorang tentara, Pak Prabowo adalah seorang tentara yang luar biasa. Jenderal tempur yang cerdas, patriot bangsa yang mengedepankan keselamatan negara di atas apapun. Tapi tentu ini belum cukup untuk menjadikan beliau presiden.

Tim sukses kader dan simpatisan juga tidak bisa meyakinkan saya untuk memilih Prabowo. Adanya malah semakin menjauh. Kebanyakan yang dilakukan adalah negative (cenderung ke black campaign) ke Jokowi. Saya tidak keberatan kalau yang melakukan itu adalah kader Gerindra atau lainnya, tetapi yang ramai melakukannya adalah kader dan simpatisan PKS.  Partai yang mencitrakan dirinya bersih dan membawa panji dakwah Islam. Black campaign, karena sumbernya seringkali tidak jelas dan banyak yang terkonfirmasi setelah itu tidak benar. Kenapa tidak tabayyun, cross check dulu? Apa saja yang menguntungkan di-viral dan di-retweet. Apakah Islam seperti itu? Nggak, Islam seharusnya tidak seperti itu.

Tetapi memang debat kemarin sangat berpengaruh buat saya. Bagaimana saya bisa memilih Pak Hatta jika beliau bicara tentang kesetaraan hukum, sementara anaknya bebas? Dan maling ayam di pelosok kampung bisa tewas digebuki orang? Bagaimana bisa beliau bicara tentang reformasi birokrasi, jika beliau sudah ada di dalamnya selama bertahun-tahun, memiliki otoritas untuk mengubah sistem dan mereformasi birokrasi tanpa harus menjadi wakil presiden?

Pak Prabowo, yang dicitrakan tegas dan piawai berpidato, ternyata tampil tidak terlalu meyakinkan. Beliau berputar menjawab masalah HAM. Hubungan dengan cawapres-nya juga tidak kompak. Sementara Pak Jokowi di luar dugaan tampil dengan baik, meskipun terasa visi-nya adalah visi seorang kepala daerah dan banyak programmer yang terluka (haha, dua minggu software e-gov selesai, cuma programmer level dewa yang bisa, emploken kui).

Tentang jika Jokowi jadi presiden, Jakarta akan dipimpin oleh non muslim, maafkan saya ya Allah. Jika hal itu untuk kebaikan, karena selama ini para pemimpin muslim jauh dari amanah, kenapa tidak? Seharusnya kita para kaum muslim malu melihat kaum kita kaum muslim seperti ini, jauh dari perilaku islami. Kementerian Agama yang korup? Bagaimana bisa hal itu disebut islami dan apakah kita diharuskan memilih yang demikian? Pemimpin non muslim tidak korupsi sementara pemimpin muslim korupsi? Apakah kita tetap diharuskan memilih pemimpin yang muslim meskipun dia korupsi? Bukankah iman itu tercermin dari perilakunya?

We stand on the right side.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Saya juga merasakan dilema yang sama, mas Galih. Tentang DKI sepeninggal Jokowi, yang akan dipimpin Ahok.

    Juga pendapat yang sama tentang black campaign terhadap mas Joko, yang selama ini saya dapat, dilakukan oleh beberapa teman muslim.

    Ayolah, kenapa kalian tidak main cantik dengan mengunggulkan prestasi mas Bowo (bila ada)? Masa kalian nggak yakin prestasi mas Bowo jauh melampaui mas Joko sehingga kalian tidak perlu susah-susah pakai black campaign?

    Bagaimanapu juga, partai-partai Islam juga menanggung salah dalam hal ini karena tidak mampu menampilkan jagoannya sendiri, sehingga pilihan kita tinggal hanya mas Bowo dan mas Joko.

    1. Betul mas, tidak ada calon yang bagus kalau boleh saya bilang. Nah, dari calon yang buruk itu, saya memilih yang menurut saya lebih sedikit buruknya. Tidak hanya secara personal tetapi juga melihat secara team dan mitra koalisinya.

  2. alasannya kurang lebih sama dengan saya cak. saya sangat sakit hati dengan ucapan fahri hamzah yang menyamakan jokowi dengan ayam yang digosok pantatnya. sangat kasar. sangat tidak pantas keluar dari pentolan partai yang selama ini mengaku paling islam.

    saya sakit hati karena 2 hal sekaligus. karena omongannya yang kasar, dan karena rusaknya citra islam akibat omongan kasar itu

    salam damai indonesia, mantab coblos nomor dua!

  3. Saya juga milih Jokowi tapi dengan alasan yang berbeda, Mas. Tapi ya tak apa. Tidak masalah alasan apa saja, yang terpenting mantap milih nomor 2! 😀

  4. Kita tunggu saja, pak Jokowi memimpin. Mudah-mudahan segala issyu yang memojokkan beliau dan orang-orang di belakang beliau betul-betul tidak benar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *