Diversifikasi Saham

Buat yang pernah membaca topik investasi, tentu pernah mendengar istilah Don’t put your eggs into one basket. Jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang yang sama karena kalau keranjangnya jatuh, semua telur akan pecah. Ini tentang manajemen risiko. Jika suatu instrumen investasi jatuh nilainya, diharapkan instrumen investasi yang lain tidak ikut jatuh. Misalnya, ketika harga saham jatuh, biasanya harga emas akan merangkak naik. Dengan demikian sering disarankan untuk berinvestasi di saham dan emas logam mulia.

Saham sendiri juga bisa di-diversifikasi mengikuti prinsip menaruh telur. Saham kan banyak sektor, ada sektor pertambangan, perkebunan, infrastruktur, dan sebagainya. Setiap pergerakan harga saham dipengaruhi sangat banyak faktor. Belum lagi jika suatu perusahaan A dimiliki oleh perusahaan B yang sama-sama ada di pasar saham BEI. Contohnya, United Tractor (UNTR) dimiliki oleh Astra International (ASII). Sehingga, pergerakan ASII sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pergerakan UNTR. Artinya, tentu tidak sesuai dengan prinsip menaruh telur jika kita sama-sama punya saham UNTR sekaligus ASII. Pertanyaannya, sebesar apa pengaruhnya?

Ilmu Statistik bisa menjawab pertanyaan ini dengan konsep korelasi. Keterhubungan satu sama lain dalam data. Waktu saya googling, ternyata sudah ada yang meriset korelasi sektor saham satu dengan sektor saham yang lain. Tentu saja bisa dihitung juga korelasi saham satu dengan saham yang lain.

Riset yang bagus ini ada di situs The President Post. Saya capture-kan tabel hasil korelasi antar sektor saham tersebut di sini:

Semakin kecil korelasi, maka hubungannya semakin jauh. Korelasi negatif menunjukkan hubungan lawan.

Jika kita mematok bahwa korelasi kecil itu di bawah 0.45, maka sektor saham yang tidak saling berkaitan adalah sebagai berikut:

  • Sektor pertambangan dengan infrastruktur
  • Sektor pertambangan dengan konsumsi
  • Sektor pertanian/perkebunan dengan konsumsi

Untuk sektor yang lain, misalnya jika anda punya saham properti, maka mungkin pilihan saham berikutnya buat anda adalah saham-saham di sektor infrastruktur, karena korelasinya paling kecil dengan yang lain. Kira-kira begitu cara bacanya.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. If you want to diversify, you should do the research yourself. Dan berhati2 dengan blackswan.

    Eniwei, kalau mau hedging resiko, bukannya lebih baik beli option juga?

  2. Sejak dulu saya selalu bertanya-tanya bagaimana cara melakukan diversifikasi saham yang efisien. Saya rasa artikel ini menjawabnya. Terima kasih sudah menulis ini ya, Gal.

    Tapi sayang Wawan Hendrayana yang menulis ini di President Post tidak menyebutkan jurnal mana yang menulis penelitian ini.

  3. kalo mau invest yang aman, dan ini sudah turun temurun sejak jaman dulu: belilah tanah

    kalo yang ini put your egg in one basket, masih ndak masalah rasanya. cuman likuiditasnya memang jadi problem kalo orangnya gampang butuh uang :d

    1. Ngga semua orang mampu beli tanah mas Dion. Uang lima ratus ribu ga bisa buat beli tanah, sementara kalau nabung dulu ga bisa ngejar harga tanah. Pakai KPR bunganya akan makan kenaikan nilai tanah itu sendiri. Saya pikir bisnis investasi properti bukan untuk semua orang dan perlu modal yang kuat untuk berbisnis di situ.

      1. nah itu juga jadi problem bro. persepsi saya kalo sudah bicara investasi via saham mestinya duitnya sudah ratusan juta sampe milyaran

        1. Wah ya ndak mas bro. Buat investor mikro seperti saya ini itungannya cuma ratusan ribu. Uang lima ratus ribu sudah bisa beli saham bagus kok, ya satu lot dua lot ga apa-apa.

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *