Review Novel: Codex dan Novus Ordo Seclorum

Liburan di Bandung, saya sempat membaca novel punya adik ipar saya, Iqbal, yaitu Codex: Konspirasi Jahat di Atas Meja Makan Kita (Penulis:  Rizki Ridyasmara) dan Novus Ordo Seclorum (Penulis: Zaynur Ridwan). Dua novel ini mirip temanya, yaitu tentang konspirasi jahat Yahudi/Zionis untuk menciptakan tata dunia baru. Adik saya ini, seorang aktivis keagamaan di kampusnya memang menggandrungi hal-hal yang berbau konspirasi wahyudi dan remason begini, hehehe.

Secara alur cerita, saya anggap Codex lebih berhasil menyajikan cerita yang enak dibaca daripada Novus Ordo Seclorum. Meskipun terasa mencontek novel-novel Dan Brown, ceritanya menarik. Codex bisa menghidupkan karakter tokoh protagonis yang ala-ala Rambo dan kejar-kejaran dengan CIA yang cukup seru. Sedangkan Novus Ordo Seclorum seperti baca makalah ilmiah saja. Penulis belum berhasil menghidupkan tokoh dan menciptakan karakter. Tokoh profesor yang diciptakan menjadi penyambung lidah penulis yang ingin menyampaikan pesan. Ego penulisnya sangat terasa sehingga “legitimasi akademis” si tokoh profesor menjadi kabur.

Dua-duanya punya kelemahan yang juga terasa mencolok. Tokoh-tokoh bule bersetting lokasi di luar negeri itu harus menjelaskan istilah-istilah prokem/gaul. Misalnya SOB, singkatan dari son of bitch. Tokoh-tokoh itu harus menjelaskan dengan bahasa halus apa itu SOB, seperti ingin menjelaskan kepada pembacanya di Indonesia. Jadinya si tokoh lagi-lagi dijajah penulis untuk menyampaikan pesannya ke pembaca.

Saya jadi ingat novel Memoars of a Geisha, penulis Arthur Golden harus repot-repot membuat cerita tambahan seolah-olah bahwa novel itu adalah novel terjemahan, dengan alasan si tokoh utama tidak perlu menjelaskan apa arti istilah-istilah khusus. Tapi di tulisan terjemahan, si penulis bisa keluar sebentar dari tokoh untuk menjelaskan apa maksud dari si tokoh. Itu yang tidak terjadi di novel Codex dan Novus Ordo Seclorum.

Doktrinasi tentang konspirasi Yahudi-Zionis-Freemason akan selalu punya penggemar khusus-nya. Tapi untuk menyebarkan pesan ke kalangan yang lebih luas, penulis harus lebih halus lagi menyampaikan pesannya. Tanpa tendensi dan subjektivitas. Seperti novel The Da Vinci Code, saya akan selalu menganggap bahwa Sir Leigh Teabing lah yang punya pesan Holy Grail, bukan Robert Langdon, apalagi Dan Brown.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 comments

    1. Saya sudah baca Memoirs of Geisha. Keren sekali! Arthur Golden menjelaskannya dengan lugas, spesifik, dan gampang dimengerti. Eh ya, saya baca versi terjemahan Indonesia-nya lho.

      Tapi ngomong-ngomong, saya nggak ngerti, Freemason itu apa? *udah googling tapi tetep aja nggak ngerti*

    1. Iya, seperti nyontek Langdon. Ada tokoh protagonis dikejar-kejar, lalu bersembunyi di rumah profesor, yang kemudian profesor itu menjelaskan detail konspirasi wahyudi yang dimaksud penulis.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *