Tentang Calon Presiden Kita

Pemilu legislatif sudah lewat dan hasilnya membuat para politisi berdagang sapi. Kita tahu bahwa tidak ada yang menang tebal (istilah Jokowi) di Pileg ini dan tidak ada yang bisa membawa jagoannya menjadi calon presiden sendirian. Saya pikir PDIP akan menang mudah karena faktor Jokowi, ternyata tidak. Saya sendiri meskipun suka Jokowi, tapi tidak memilih PDIP karena kualitas caleg-nya tidak masuk kriteria saya. Toh sudah banyak yang memilih PDIP, pikir saya. Siapa kira kalau yang berpikir seperti saya jumlahnya jutaan?

Dengan kondisi seperti sekarang, saya pesimistis Indonesia akan lebih baik. Indonesia hanya akan menjadi kue besar yang siap dibagi-bagi untuk para politisi dan kepentingan partai. Lihat tingkah PDIP yang keliling sana sini. Atau PKB yang bangga dengan hasil Pileg dan siap jual mahal. Atau lihat PKS yang meskipun perolehan suaranya sedikit, tapi mensyaratkan koalisi.

Jokowi, yang popularitasnya naik mengingatkan saya pada naiknya popularitas SBY. Dan kita sudah tahu hasilnya jika sang presiden hanya bermodal pencitraan. Visi Jokowi sampai sejauh ini tidak terlihat mau apa dia ketika jadi presiden. Mau blusukan? Indonesia itu sangat luas pak. Bapak dan Ibu di rumah ternyata juga berpendapat kalau dia presiden, dia akan lebih jadi presiden boneka.

Prabowo. Ketika saya semakin ragu-ragu dengan Jokowi, saya kok mulai berpikir Prabowo ya. Dia sepertinya akan lebih tegas daripada SBY karena dia adalah mantan Jenderal lapangan, bukan Jenderal karier. Cuma catatan negatif-nya banyak, seperti kasus penculikan itu. Anehnya, mengapa sekarang banyak aktivis yang diculik itu menjadi caleg Gerindra? Paling tidak ia punya visi yang lebih jelas daripada Jokowi.

Calon-calon presiden konvensi Partai Demokrat. Dengan perolehan Partai Demokrat, konvensi jelas menjadi guyonan yang tidak lucu. Bagaimana nasib Gita Wirjawan, Dahlan Iskan, dan Anies Baswedan? Saya kehilangan respek ke Dahlan Iskan karena pencitraannya juga mulai berlebihan seperti Jokowi. Anies Baswedan yang mungkin hanya dikenal di Twitter, apakah dia seorang yang benar-benar bisa atau hanya orang yang pintar bicara dan menyusun visi tanpa eksekusi? Gita Wirjawan, antiklimaks ya, setelah iklannya dimana-mana sampai di kursi kereta api, tapi hasilnya nol besar.

Masih ada waktu beberapa bulan lagi. Meskipun harapan itu tipis, tapi saya masih berpikir mendingan memilih daripada golput. Setidaknya saya ikut menentukan pilihan ke orang yang saya anggap paling baik. Karena golput buat saya adalah acuh tak acuh. Mau bener ya biarin, mau salah ya biarin. Emang gue pikirin…

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Kalau ada calon lain selain Jokowi dan Prabowo, sepertinya aku lebih memilih calon lain itu deh, Mas. Tapi, kalau tidak ada, ya apa boleh bikin. Kemungkinan terbesar aku pilih Jokowi ketimbang Prabowo.

  2. Prabowo kemungkinan akan dipasangkan dengan Dahlan Iskan atau Pramono Edi.

    Jokowi kemungkinan akan dipasangkan dengan Jusuf Kalla atau Mahfud MD.

    Aburizal Bakrie kemungkinan akan dipasangkan dengan Ahmad Heryawan atau Anis Matta.

    Visi misi belum bisa dibandingkan lah bro, wong belum tahap pencapresan. Bicara visi misi pada saat yang tepat nanti.

    Tapi siapapun yang jadi, tidak akan bisa merubah kondisi saat ini bagai membalik telapak tangan. Prabowo belum tentu bisa. Jokowi belum tentu bisa. Ical belum tentu bisa. Semua serba belum tentu.

  3. masyarakat makin banyak yg penasaran dan menebak2 ya, kira2 bakal pasangan capres-cawapres siapa saja. nampaknya tahun ini seperti thn 2009, hanya ada 3 pasangan calon saja 😀

  4. Iya nih, belum belum jelas siapa yang bakal jadi presiden, masih serba tanda tanya 😀
    Saya sih pengennya pemimpin yang tegas, biar Papua gak sering bergejolak lagi 😀

  5. Pertama kali nih aku mau menggunakan hak pilih mas. Bingung juga mau milih siapa. Ya semoga muncul calon presiden yang benar-benar bisa membawa perubahan 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *