Mencari Figur Sang Ratu Adil

Sang Ratu Adil adalah seorang pemimpin yang membawa wahyu untuk memberikan sentuhan sehingga semua yang awalnya porak poranda menjadi teratur. Seperti sulapan, ia bisa membuat sesuatu yang rusak menjadi bagus. Semua orang menurut titahnya. Negeri yang kacau akan berubah menjadi negeri yang loh jinawi tata tentrem karta raharja.

Saya melihat bangsa saya Indonesia masih mencari figur pemimpin seperti itu. Padahal figur sang ratu adil tidak akan pernah ada di dunia nyata. Sang ratu adil tak akan mampu bekerja sendirian di zaman sekarang. Saya sedang membicarakan sistem. Seorang pemimpin harus bisa membuat atau memperbaiki sistem menjadi sistem yang bagus sehingga menggerakkan orang yang ada di sistem itu bergerak bersama-sama ke arah tujuan bersama. Seorang manajer harus bisa membuat anak buahnya bekerja dalam SOP yang baik. Seorang presiden, harus bisa membuat sistem yang setiap elemen pemerintahan dari pusat hingga desa bergerak dalam irama yang sama.

Dan itu bukan kerja yang mudah satu atau lima tahun saja. Ketika Jokowi jadi gubernur DKI, semua orang, baik fans dan hater-nya, berekspektasi tinggi semua masalah bisa diselesaikan dalam waktu singkat, kalau bisa setahun saja, atau 100 hari saja kinerjanya sudah bisa dinilai — dipuji atau dicemooh habis. Padahal sehebat apapun gubernur DKI, jika warganya tetap buang sampah di kali, tetap buang bungkus permen atau puntung rokok keluar jendela mobil mewahnya, banjir tetap akan ada. Sehebat apapun gubernur DKI, jika orang tetap naik dan membeli kendaraan pribadi, macet akan semakin menggila tanpa bisa dicegah, termasuk dengan sumpah serapah di atas mobil pribadinya.

Makanya, bisnis pencitraan menjamur bak jamur di musim hujan. Siapa yang dulu mengira presiden kita, SBY, akan sedemikian lemah dan galaunya waktu Pemilu 2004? Saat itu ia adalah seorang figur ratu adil dambaan setiap orang. Seorang jenderal militer yang bijaksana. Tim pencitraannya sukses besar.

Saya khawatir, fenomena Jokowi sekarang juga bentukan tim pencitraan. Mulai dari kisah mobil Esemka-nya hingga berita-berita yang begitu gencar mengenai kesuksesan awal-awal pemerintahannya di DKI. Jika secara jujur menurut saya pribadi, Jakarta masih belum berubah. Kemacetan makin menggila, transportasi publik semakin buruk. MRT sudah sangat terlalu terlambat dimulai pembangunannya. Janji 1000 busway tersandung kasus dugaan korupsi.

Karena memang masalah di DKI bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh sang ratu adil. Apalagi masalah negara segede Indonesia. Butuh waktu. Butuh kerjasama dari setiap elemen bangsa. Halah. Merdeka!

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. gak konsisten XD
    katanya kemarin berdasar sepotong trit kaskus tentang perubahan mau yakin ….. xixixixi
    kok sekarang khawatir 😀

    kecap, tahu, tempe, susu soya, bongkrek, kripik, peuyeum, mendoan, stick tahu, burger tempe, dan masih bnyk yg lain product olahan bhn dasarnya sama = kedelai dan kedelai itu kacang, dan kacang itu kakean …. heuheuheuheu

  2. Setuju, setidaknya jangan sampai langkah pemimpin kita seperti presiden sebelumnya, hebat karena disanjung media massa, tapi keok saat menghadapi berbagai permasalahan bangsa. Tapi kita juga tidak bisa berpangku tangan pada satu sosok, kita semua harus mengubah sikap untuk kemajuan bersama.

Leave a Reply to Hanif Mahaldi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *