Resmi Jadi Penduduk DKI

Begitulah, akhirnya proses pindah kami selesai juga terhitung sejak pertengahan Desember 2013 lalu. Sebenarnya birokrasinya tidak terlalu ruwet, hanya saja menyiapkan berkas-berkas yang menjadi persyaratan itu yang ribet, apalagi kami tidak terlalu bisa bolak-balik ke tempat asal.

Prosesnya panjang, mari kita mulai dari tempat asal:

  • Meminta surat pengantar ke pak RT
  • Meminta surat pengantar ke pak RW untuk kemudian dibawa ke kantor kepala desa
  • Mendapatkan surat keterangan pindah dari kepala desa setempat
  • Berangkat ke kecamatan, meminta surat pengantar untuk pembuatan SKCK dari Polres

Nah, SKCK ini yang menghambat karena harus cap jempol di tempat. Jadi saya harus mengatur jadwal supaya bisa pulang ke Tulungagung untuk mengurus SKCK. Isteri juga begitu. Jadilah kami misah mudiknya, satu ke Bandung satunya lagi ke Tulungagung. Memburu selembar surat keterangan bahwa kami adalah orang biasa, orang baik yang senantiasa mengamalkan Pancasila dan Butir-Butir P4.

Untungnya yang menangani SKCK di Polres Tulungagung adalah kawan lama satu angkatan di SMA. Alhamdulillah (thanks to Sitik :-D), sehingga hari itu juga, berkas yang sudah ada dimasukkan ke Dinas Catatan Sipil untuk diproses dan dijadikan Surat Keterangan Pindah WNI. Sayangnya baru seminggu baru bisa jadi suratnya. Si ibu yang mengurusi penerimaan permohonan ini sempat nyeletuk, “Walah mas, kok pindah ke Jakarta, lha wong di sana banjir begitu.” — Hehehe, demikianlah kini citra ibukota negara kita.

Jadi yang mengurus kelanjutannya adalah bapak (seperti yang sudah-sudah, hehehe…). Seminggu kemudian, berkas lengkap saya terima di meja kerja saya di kantor dengan amplop bertuliskan besar: “Kepada, Ananda Galih Satriaji” dan pengirim bertuliskan singkat: “Ayah”. So sweet… ^_^

Langkah selanjutnya adalah mengurus kepindahan di tempat kedatangan, yaitu di kelurahan Cipedak, Jagakarsa, antara lain:

  • Meminta surat pengantar ke Pak RT dan Pak RW
  • Perlu adanya KK penjamin, yaitu KK yang beralamatkan di kelurahan yang sama. Thanks to Knip, yang ternyata sudah duluan tinggal di kelurahan yang sama, jadi ga perlu sungkan repot-repot pinjam KK-nya pak RT

Setelah itu, semua berkas difotokopi rangkap 4 dan diserahkan ke kelurahan. Di sana dibuatkan surat pindah datang untuk dilanjutkan ke Dinas Catatan Sipil.

Seminggu kemudian, saya dihubungi oleh orang kelurahan bahwa kami sudah bisa foto KTP. Alhamdulillah, akhirnya punya KK sendiri dan resmi jadi penduduk DKI Jakarta. Jadi nanti kalau ada keperluan untuk administrasi sudah tidak repot lagi, misalnya pengurusan akta kelahiran si kecil nanti, atau ngurus perpanjangan SIM saya yang sudah expired sejak tahun lalu.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Wohohoho… jadi teringat sekitar 2 tahun lalu pas ngurus pindah ke Surabaya. Prosesnya mungkin sama, hanya saja di sini gak perlu KK penjamin, cukup mengisi surat keterangan tempat tinggal (bikin dewe dengan melampirkan bukti akta jual beli rumah) dan surat keterangan pekerjaan (bikin dewe, distempel dewe, pake kop surat perusahaan dewe)

    Lengkapnya pernah saya ceritakan di sini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *