Berusaha Tidak Golput

Terus terang, saya cukup miris melihat kualitas caleg-caleg 2014 ini. Bagian buruk demokrasi adalah, apapun latar belakang anda, anda bisa menjadi wakil rakyat jika punya massa pendukung. Entah itu pengangguran yang suka nongkrong sehingga dia punya kharisma, kepala preman, tokoh masyarakat. Apalagi ketika kemudian sebagian besar kaum intelektual memilih lebih ke jalur bisnis dan industri daripada “mengabdi” di dunia politik praktis.

Golput, menurut saya, bukan pilihan yang bijaksana. Golput adalah memilih untuk tidak menggunakan hak pilih dan bersikap acuh tak acuh terhadap proses pemilihan. Siapapun yang terpilih ia tidak peduli. Lalu, bagaimana bisa dia protes terhadap negara kalau dia memilih bersikap acuh? Karena sebesar apapun suara Golput, itu tidak berarti apa-apa. Jika ada 100 penduduk, 90-nya memilih Golput, maka suara diambil dari 10 suara.

Mengutip salah satu selebtwit, kurang lebih, ketika parlemen diisi oleh orang-orang yang kualitasnya rendah, dan kelas menengah yang berpendidikan memilih menyingkir dan golput…

Jadi, di Pemilu kali ini, saya akan berusaha tidak Golput dan tidak asal-asalan memilih. Memang mayoritas kualitas caleg cukup memprihatinkan, tetapi mestinya masih ada mutiara tersembunyi di balik pasir debu. Dengan kemudahan akses terhadap data dan informasi, saya pikir kondisinya lebih mudah memilah-milah mana yang bagus mana yang tidak jelas. Setidaknya itu yang bisa dilakukan oleh kita, golongan kelas menengah, untuk berpartisipasi memperbaiki negara ini. Karena jika alat negara ini korup semua, itu semua salah pemilihnya

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. masih blank mesti milih sapa, mestinya cari info ya biar gak golput, tapii … kan gak kenal ~.~” semakin kenal sama orangnya, semakin mempercayakan masalah kita padanya …

  2. Dulu saya nyoblos partainya. Sekarang mau nyoblos orang yang saya kenal saja. Ada tetangga di Keputih nyaleg DPRD Jawa Timur, ada kawan LSM nyaleg DPRD Surabaya, ada rekanan bisnis nyaleg DPR RI, lalu ada tetangga di Ponorogo nyalon DPD. Wes iku ae.. partainya beda-beda sih..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *