Memperkenalkan, Waze

Jika Anda, para sidang pembaca, tinggal di Jakarta, pasti sudah menganggap bahwa kemacetan adalah bagian hidup yang harus diterima apa adanya sebagai suatu keniscayaan tinggal di kota besar yang sibuk. Atau jika tidak, cobalah baca timeline Twitter di hari Jumat sore, di hari hujan. Topik kemacetan adalah trending topic yang biasa.

Kalau bisa jangan sampai terjebak di tengah kemacetan, karena itu akan sangat stres. Mobil cuma bisa diam sambil terus menghabiskan bahan bakar di jalan. Motor? Kalau dulu sepeda motor adalah raja jalanan anti macet, sekarang sama lambatnya dengan mobil. Tidak ada celah lagi yang bisa diterobos oleh motor. Bedanya, motor masih menggeremet dibandingkan mobil yang parkir di tengah jalan. Tapi mungkin tingkat kelelahan dan stresnya sama.

Information is the key! Mengetahui kondisi jalanan yang akan dilalui adalah syarat utama untuk menghindar dari kemacetan. Karena itu banyak cara yang digunakan orang untuk mengakali kemacetan. Ada radio selalu mengabarkan kondisi jalanan. Kemudian ada lewatmana.com yang menampilkan beberapa sudut kota melalui CCTV. Kemudian yang terbaru: peta berbasis GPS yang mulai menampilkan informasi kemacetan.

Waze adalah aplikasi peta atau GPS untuk perangkat smartphone. Tersedia buat iOS, Android, dan Windows Phone. Berbeda dengan Google Maps yang menampilkan informasi lalu lintas sendiri, Waze dibangun dari komunitas. Jadi dia user generated content seperti media sosial macam Foursquare. Dengan seizin pengguna, Waze akan mengirimkan informasi posisi dan kecepatan ke server untuk diolah bersama-sama menjadi sebuah informasi kemacetan.

Supaya menarik dan mendorong pengguna mengirimkan informasi, ada bonus poin untuk mendapatkan stiker (seperti Plurk atau Foursquare gitu). Poin lebih banyak akan diberikan jika kita men-share detail informasi, seperti tingkat kemacetan, razia polisi, dan sebagainya. Untuk memperkaya peta, pengguna juga bisa menambahkan dan mengedit peta untuk menambahkan lokasi ATM, pom bensin, dsb.

Kalau melihat jumlah pengguna, nampaknya banyak juga pengguna Waze berlalu lalang di jalanan Jakarta ini. Cuma saya belum membandingkan lebih akurat mana informasi kemacetan Waze dengan punya Google Maps.

Waze bisa dikunjungi di sini, atau di masing-masing toko aplikasi di ponsel (Apps Store, Google Play).

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *