The Next Step

Saya sedang di tugas lapangan di Muara Badak ketika mendapat kabar membahagiakan itu. Isteri saya positif hamil. Ia menunjukkan kalau alat test pack-nya menunjukkan hasil positif. Saya segera memintanya ke dokter kandungan untuk mengkonfirmasikan. Untung mama mertua weekend itu datang khusus untuk menemani isteri saya ke dokter sehingga ia tidak sendirian — agak aneh to kalau ke dokter kandungan tapi tanpa suami.

Dokter yang dipilih isteri saya adalah dr. Waluyo Turatmo di Rumah Sakit Puri Cinere. Awalnya karena saya bilang pilih rumah sakit yang dekat dengan rumah saja (rumah kami di Ciganjur, Jakarta coret yang selemparan batu lagi sudah kawasan Depok). Rumah sakit terdekat yang menjadi rekanan kantor saya adalah RS Puri Cinere. Rupanya setelah Googling, ada dokter yang direkomendasikan banyak orang di situ, yaitu dokter Waluyo itu. Isteri saya nampaknya cocok. Ya sudah selanjutnya kami konsultasi ke dokter Waluyo ini.

Perasaan saya kontan bahagia gembira cemas campur aduk. Gembira karena kami dikaruniai dan akan diamanahi menjadi orang tua dalam waktu yang relatif singkat setelah pernikahan kami. Kami tidak pernah mempercepat atau menunda punya anak, nrimo apa yang menjadi skenario Allah. Cuma ya begitu, kalau masih single pertanyaannya, “Kapan menikah? Mana calonnya? Apa lagi yang ditunggu? Jangan terlalu banyak kriteria dan pemilih”, baru sebulan menikah pertanyaannya ganti, “Sudah isi apa belum? Jangan terlalu capek bekerjanya biar segera jadi bla bla bla…” Nggak habis-habis ya?

Siapkah saya menjadi seorang ayah? Sepertinya kalau menunggu siap tidak akan siap ya? Siap-siap menjadi seorang ayah yang terbaik seperti idola saya sepanjang masa: ayah saya sendiri. Semoga nanti saya bisa menjadi seorang family man yang baik.

Saya jadi mengerti mengapa surga ada di telapak kaki ibu. Di bulan-bulan awal ini, isteri saya sudah berjuang menjadi ibu. Muntah-muntah dan mual-mual setiap hari, dan ada seabrek obat yang perlu diminum setiap hari. Saya tidak mau sok pintar dengan memprotes mengapa dokter banyak memberi obat. Ini bukan bidang saya dan Google hanya akan menjadikan saya orang yang sok tahu. Bismillah, semoga Allah melindungi kami.

Ketika isteri saya kecapekan dan jatuh kena flu, kami datang ke dokter sekalian USG. Alhamdulillah janin-nya tetap sehat wal afiat. Sudah bergerak-gerak, kepala tangan dan kakinya mulai terbentuk. Kata dokter dia kepanasan karena ibunya demam. Waktu di-USG, kelihatan ia seperti menyapa ayah ibunya. Kata suster, “Kepalanya besar, kayak bapaknya!” How come saya merasa bangga sekali dan senang sekali, padahal usia janin-nya masih dua bulan. Pasti menyenangkan sekali ketika ia membesar dan akhirnya lahir dan tumbuh besar.

Tetap sehat ya nak, kami menantikanmu.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. Subhanallah… masa-masa yang sangat membahagiakan dan rasa kasih sayang ke istri jadi berlipat ganda. itulah yang saya rasakan dulu ketika istri positif hamil. dan sekarang pengen merasakan hal itu lagi 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *