Ketika Pengalaman pun Menjadi Tidak Berguna

Dunia kerja tidak bisa dilepaskan dari politik kantor, suka atau tidak suka. Bukan hanya untuk mendaki posisi yang lebih tinggi, tetapi juga untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih tinggi terhadap perusahaan. Posisi tawar untuk naik jabatan, naik gaji, dan sebagainya. Tentu saja ada politik kantor yang tidak sehat seperti menjatuhkan rekan sekerja untuk kepentingannya sendiri. Tetapi saya tidak mau membahas itu, saya mau membahas tentang pengalaman.

Pengalaman kerja, sering dipakai sebagai senjata. Ada yang pelit membagi pengetahuan khususnya kepada juniornya hanya karena khawatir posisinya tidak sekuat sekarang kalau ada alternatif selain dia. Di kuliah Knowledge Management sangat detail membahas ini. Tapi di dunia IT, pengalaman itu tidak terlalu ada harganya.

Saya merawat sistem manajemen aset dan pengadaan sejak saya masuk di pabrik ini. Posisi pertama saya adalah junior programmer, berada di bawah koordinator tim dan kepala seksi aplikasi. Sistem ini namanya Maximo. Pabrik saya memakai versi 5.2 sejak 2004 sampai sekarang. Saya rupanya bukan karyawan yang terlalu semangat untuk menjadi kutu loncat. Jejak karier saya yang masih tinggal di satu perusahaan sejak saya lulus ini sempat dinilai seorang pewawancara kerja sebagai sifat negatif karena tidak mau keluar zona nyaman.

Jadi dapat dibilang, pengalaman saya merawat sistem Maximo v5.2 ini cukup banyak. Setiap kali ada email komplain, saya sudah hapal penyakitnya ada di mana.

Lalu pabrik saya memulai proyek upgrade sistem mulai tahun lalu. Upgrade-nya melompat cukup jauh, yaitu dari versi 5.2 ke versi 7.5. Arsitektur, struktur data, dan metodologi sistemnya berubah 180 derajat. Proyek ini akhirnya sampai di puncaknya hari Sabtu kemarin, 30 November 2013, dengan ditandai digantinya sistem Maximo versi 5.2 ke versi 7.5. Pendekatan yang dipakai: metode big bang. Jebret! Langsung ganti sistem tanpa ada transisi.

Lalu inilah yang terjadi. Pengalaman saya bertahun-tahun itu sudah tidak bisa dipakai. Saya menyadari, saya tidak ada bedanya dengan anggota tim yang masih berpengalaman setahun. Seorang fresh graduate yang cerdas dan selalu ingin tahu. Saya dan semua tim harus tertatih-tatih belajar lagi merawat sistem yang baru ini, di tengah arus deras email user yang terkaget-kaget dan tergagap-gagap. Kami kaget. User pun kaget.

Jadi saya pikir, adalah tidak cerdas jika kita membanggakan pengalaman bertahun-tahun itu dan pelit membaginya hanya karena khawatir posisi tawar kita turun. Pengalaman itu sama sekali tidak ada harganya ketika sistem berubah. Bukan saja aplikasinya, tetapi proses bisnisnya, prosedurnya, dan sebagainya. Saya dan tim mulai dari awal, sama-sama belajar dari nol. Seberapa cepat kami beradaptasi dan mendapatkan pengetahuan baru, diukur dari seberapa semangat kami belajar lagi.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. wow… sore ini pulang kerja masih buka versi lawas, besok pagi ujug-ujug sudah pakai versi baru? tanpa ada masa pengenalan terlebih dulu?

    wow…

    perusahaan tentu punya pertimbangan, yang salah satunya mungkin: karyawan mereka orang yang cerdas semua, fast learner 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *