Review Singkat: Inferno

Judul buku: Inferno (versi ebook SCOOP)
Penulis: Dan Brown

Inferno adalah buku terbaru Dan Brown yang menceritakan petualangan si profesor Robert Langdon. Review terakhir saya tentang The Lost Symbol, saya merasa bahwa buku itu sudah ada di titik jenuh-nya tokoh Langdon. Tidak ada yang menarik lagi dari petualangan sang profesor simbologi yang gemar memakai jas Harris Tweed.

Ketika Inferno hadir di toko buku, saya memutuskan untuk tidak beli. Harganya yang 100 ribuan membuat buku ini terlalu mahal untuk dibaca. Sampai hingga saya dikirimi email dari SCOOP. Inferno diskon hingga jadi 30 ribu saja. Ini terlalu menggoda untuk tidak dibeli. Akhirnya saya beli juga dari SCOOP.

Dan Brown sepertinya sudah punya template cerita ya kalau soal Langdon. Garis besar temanya sama. Perburuan “harta karun” dengan cara memecahkan teka-teki dari sebuah karya seni (Anagram selalu ada). Perburuan ini diwarnai dengan kejar-kejaran seru oleh pihak yang ingin membunuh Langdon. Dan selalu, Langdon selalu ditemani perempuan sebagai bahan yang bisa diberi penjelasan detail-detail sejarah seni dan simbologi selama pelarian mereka. Bahkan opening-nya pun sama: Langdon sedang bermimpi.

Saya tidak mengerti kenapa Dan Brown tidak bisa kreatif lagi dalam membuat alur cerita untuk Langdon. Padahal di Digital Fortress atau Deception Point, alur ceritanya bisa berbeda dengan seri Langdon. Angels and Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, sampai Inferno memakai template yang sama.

Yang menyisakan buku ini cuma suspense-nya saja yang masih menarik, khas Dan Brown. Keahlian membuat alur yang cepat, detail plot dan lokasi, kombinasi alur maju mundur, dan kepiawaian menyembunyikan siapa yang menjadi protagonis dan antagonis adalah khas Dan Brown. Sampai akhir cerita, saya tetap masih meragukan, siapa sebenarnya pihak yang “benar” dalam cerita ini. Meskipun, Inferno adalah novel yang memiliki ending paling buruk dari semua petualangan Langdon. Flat. Datar. “Lho, sudah habis? Begini tok?”

Seperti Mas Warm, saya menghabiskan buku ini cuma dalam sehari semalam karena memang alur ceritanya sangat cepat dan tidak mengizinkan pembaca untuk istirahat meninggalkan cerita sejenak. Novel ini hanya akan menjadi cerita yang enak dibaca, tapi sebagai penggemar lama Langdon, saya kecewa.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. wah.. akhrinya flat ya? padahal sudah seneng di blog mas galih bilang ada buku barunya, eng ing eng.. beli ga yo? itu yang 100 ribu versi bahasa indonesia apa inggris mas?

    saya termasuk pembaca setia Dan brown tp versi buku fisiknya. semua saya punya. yang lost symbol juga terakhirnya kan mbingungi, lost symbol nya mana? apa? apa saya saja yo yg ga ngerti, hehe.

  2. horeee.. Jadi nggak nyesel deh kemarin batal beli.. :))

    Abisnya mau beli ragu, soalnya buku2 setelah angels & demons menurutku kurang oke. Mana harganya mahal pula.. 🙁

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *