Rangkaian Elektronika

Saya masih SD ketika saya dikenalkan rangkaian elektronika. Adalah kakak saya yang waktu itu mendapatkan pelajaran Elektronika di sekolah, dibelikan solder dan timah. Mencoba membuat PCB (Printed Circuit Board) sendiri dengan cara sablon — menutupi jalur sirkuit dengan spidol marker tahan air dan merendamnya di larutan ferric chloride (FeCl3). Setelah larut dengan air dan menyisakan jalur sirkuitnya, PCB diamplas dan dilumuri gondorukem (entah apa nama ilmiahnya) supaya timah solder gampang menempel.

Sebagai adik usil yang sok tahu, saya ingin ikutan coba-coba (Sekarang saya menyadari kalau banyak dari hobi saya copy-cat dari kakak saya itu). Rangkaian pertama saya adalah lampu flip-flop. Rangkaian sederhana itu gagal karena kualitas solderan yang buruk.

Lanjutan ceritanya, beberapa tahun kemudian ketika di SMP, saya dikenalkan dengan teman Ayah yang guru elektronika, Mas Herry. Beliau lah yang mengajari saya teknik nyolder yang benar sehingga beberapa project elektronika saya berhasil. Lampu flip-flop, lampu berjalan, kemudian berkembang ke sistem audio seperti tape deck (pemutar kaset), power amplifier, dan equalizer. Saya pernah mau bikin audio mixer juga, dengan imajinasi yang luar biasa. Saya fokus di LED display-nya, bukan kualitas audio-nya (karena saya suka melihat sistem hi-fi Ayah yang kelap kelip bagus).

Kenapa saya jadi cerita ini? Karena hari ini saya menemukan website yang menerangkan komponen yang dulu sering digunakan, yaitu IC (Integrated Circuit). Ada IC tipe 555 dan 4017. Saya jadi bisa connecting the dots apa yang saya dulu utak-atik tanpa tahu fungsi dasar dari IC tersebut.

Ternyata IC 555 itu sebuah IC timer pembuat clock. Istilah clock ini saya dapatkan waktu saya kuliah Sistem Digital — kuliah dasar Ilmu Komputer. IC 555 ini adalah clock generator yang mengeluarkan arus ke pin tertentu secara bergantian. Arus ini kemudian sekadar disambungkan ke LED sehingga menyala dan mati secara bergantian. Jadilah lampu flip-flop. Bagus buat mainan, hehehe…

Begitu juga dengan IC 4017 adalah IC yang mengeluarkan arus secara berurutan di setiap kaki outputnya. Makanya dia bisa dimanfaatkan menjadi lampu berjalan. Dan ternyata 4017 memerlukan input clock hidup mati di salah satu kakinya. Ini membuat saya jadi mengerti kenapa dulu setiap rangkaian yang memanfaatkan IC 4017 selalu membutuhkan IC 555.

Penjelasan ini semua saya dapatkan dari sini. Teknik Elektronika arus lemah memang bukan bidang saya sekarang, tetapi saya jadi lumayan mengerti, hehehe…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. hihi kalo project elektronikaku yang paling prestisius adalah membuat pemancar FM bro, bikinan sendiri pas masih SMP bermodalkan PCB Ronica dan Saturn (pasti tahu kan merek PCB ini?) yang diutak-atik sehingga keluar power 1 watt. lalu dibuatkan booster hingga jadi 10 watt. diperbesar terus hingga sukses bikin yang 200 watt. buat siaran bisa tembus sampai madiun, magetan, ngawi. istilah waktu itu: mlayune buanter! hwkwkwkw..

    saya ingat, dananya habis jutaan (sekarang mungkin teras seperti ratusan juta) buat eksperimen, dan untungnya bapak sangat mendukung hobiku waktu itu :d

    Dan percayalah, kita akan ketemu orang-orang sehobi tanpa sengaja. sekarang tetanggaku di marina sini adalah pembuat pemancar FM profesional standard broadcast, dan sayapun kembali mengenang kelakuan masa SMP itu hwhwhw…

    1. Wah, dulu sampai Tulungagung ga? Di Tulungagung selatan ada id Foxie yang ngider di frekuensi 80 – 87 MHz. Tapi pemancarku sih kecil, ga bakal sampai Ponorogo, hehehe…

  2. saya jadi inget rumah abah, sampai sekarang masih penuh rangkaian gitu, berhubung beliau tukang servis alat2 elektronik 😀

    sayang anak2nya ga ada yg ngikutin jejak beliau

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *