Trading Tools

Terus terang saya tidak terlalu sering lagi membuka grafik saham. Pertama karena waktu yang tidak mengizinkan saya melihat pasar — meskipun paling sekitar 15 menitan di pagi hari setelah pembukaan dan sore hari jelang penutupan, kedua karena tidak punya peluru alias modal, hehehe. Sekarang saya lebih suka menyisihkan tabungan saya di akhir bulan untuk membeli reksadana. Apa reksadananya? Masih sama seperti yang dulu-dulu juga: Panin Dana Maksima dan Schroder Dana Istimewa.

Meskipun demikian, paling tidak indikator-indikator chart ini menunjukkan kondisi pasar. Dan memang sesungguhnya hanya itulah yang bisa ditunjukkan oleh chart. Dari sana chart membantu untuk mengambil keputusan apakah kita akan hold, sell, atau buy.

Saya menggunakan software free ChartNexus untuk melakukan analisis teknikal. Saya bukanlah analis yang baik karena kebanyakan saya salah menebak arah saham. Kebanyakan orang hanya share kisah suksesnya saja kan? Nanti biar saya yang cerita kesalahan-kesalahan saya. Sekarang saya mau share dulu alat bantu yang saya pakai.

Ini adalah tool set saya. Ada candle stick yang menunjukkan harga harian. Lalu ada Simple Moving Average untuk 20 hari, 50 hari, dan 100 hari. Di bawah ada Volume harian dan moving average-nya yang mengambil interval 14 hari.

Kemudian dua tools di bawah adalah osilator harga. Indikator yang membantu kita mengetahui tren pasar, yaitu MACD dan Stochastic. Ini memberi tahu saya untuk hati-hati jika saya membeli pada saat osilator menunjukkan overbought (jenuh beli) — karena harga cenderung untuk turun karena orang cenderung akan menjual.

Semua parameter yang ada adalah default dari ChartNexus tidak saya ubah-ubah.

Nah, sekarang dimana kesalahan saya menebak harga? Jadi kemarin waktu IHSG turun dalam, saya bersorak karena saya sedang tidak punya barang. Seperti yang sudah saya ceritakan, saya berjualan ketika IHSG menembus level 5000. Feeling saya harganya sudah terlalu mahal dan rawan koreksi. Juga karena tuntutan kebutuhan (BU kalo istilah Kaskusnya). Nyatanya IHSG terus meluncur sampai 5200. IHSG saja meluncur sebanyak itu apalagi saham-sahamnya. Ketinggalanlah saya, hehehe… Saya konsentrasi di acara pernikahan selama bulan Mei dan Juni.

Ketika IHSG jebol support MA50, saya mulai melihat chart lagi. Saya belum berani averaging down. Seorang investor seharusnya mulai beli-beli waktu harga turun. Tapi saya kan investor galau, gak jelas mau invest apa trading. Jadi saya mencoba menebak di mana IHSG akan menyentuh dasarnya dan akan membal kembali. Ketika IHSG rebound dari 4600, saya anggap itu sudah di bottom. Saya mulai beli reksadana setelah sejak April tidak top-up. Ketika IHSG menyentuh resistance MA100 di 4800, saya mulai berpikir saya sudah ketinggalan kereta dan bersorak untung sudah beli, hehe…

Nyatanya IHSG turun lebih dalam lagi ke 4400. Waktu keesokan harinya IHSG rebound kilat ke 4600, saya akhirnya beli saham BBRI di harga 7500. Waktu itu pilihannya antara BBRI dan PGAS, dua saham yang menurut saya paling potensial untuk naik. Saya tidak punya peluru sebanyak itu agar saya beli dua sekaligus, saya harus pilih salah satu. Dan akhirnya pilihannya BBRI karena kemarin BBRI turun lebih dalam daripada PGAS. Per hari ini harga BBRI ada di 7700 dan sedang saya hold (setelah ada di posisi tertinggi di 8000). Saya nggak tahu besok akan kemana BBRI ini.

Saya tidak berharap teman-teman di sini mempercayai analisis saya lho ya. Lebih baik ikuti analis yang sudah berpengalaman. Saya masih baru di dunia pasar saham dan masih menggalau sana sini, belum bisa dijadikan patokan. Kalau masih berminat, nanti saya share bagaimana saya membaca dan menemukan sinyal beli/jual pada indikator MACD dan Stochastic yang dikonfirmasi volume. Saya belum bisa baca candle stick karena error-nya masih tinggi buat saya.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a Reply to pakgit Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *