Satu Lagi Beres

Cak Dion benar, pencarian rumah adalah salah satu hal yang paling menguras emosi. Dan saya dengan pedenya menyatukannya dengan kegiatan yang tak kalah menguras tenaga dan emosi: yaitu persiapan pernikahan. Walhasil, berat badan saya turun sampai 6 kilo (lumayan… sekali dayung tiga pulau terlampaui :p).

Cari rumah mungkin sebaiknya santai dan pelan-pelan sampai kita nemu jodoh yang baik ya, tetapi rasanya ini tidak berlaku di Jakarta. Harga tiap tiga bulan sekali merangkak naik. Selain itu, saya juga ingin keluarga baru saya bisa menempati rumah yang baru ini. Kemampuan finansial saya tidak mungkin bisa mengejar kenaikan harga properti.

Prosesnya memang unik, selama saya mengaduk-aduk kawasan Jagakarsa dan sekitarnya, dengan batas Ragunan, Lenteng Agung, Cipedak, Cilandak. Ada satu lokasi yang cocok karena tanahnya luas sampai 160 meter. Eh, pas besoknya mau dibook, agennya bilang kalau itu sudah laku. Ya sudah belum berjodoh.

Lalu kami bertemu dengan rumah yang di Jl. Sirsak. Sebenarnya kami sreg dengan rumah dua lantainya, tapi sayang sudah laku. Kami cukup naksir dengan lokasi di mini townhouse ini karena selain strategis dekat dengan stasiun Lenteng Agung, juga dekat dengan musholla dan masjid. Lagipula, Astika lebih sreg dengan rumah kecil satu lantai — mudah mengurusnya katanya.

Karena saya bukan negosiator yang baik (karena cinta damai dan cenderung mengalah), Astika berinisiatif mendatangkan ibunya yang sudah berpengalaman. Maka di suatu sore yang gerimis, kami bermobil menuju ke lokasi ini. Sampai di lokasi ini, ternyata susah buat mobil masuk ke kompleks. Haduh. Terus diketahui depan kompleks ini ada pangkalan kayu. Walhasil, ibunda mem-veto pilihan ini.

Kami lalu menuju ke lokasi berikutnya di dekat Brigif. Sudah masuk ke kelurahan Cipedak, Jagakarsa. Sampai sana sudah Maghrib. Di sini rumah yang ditawarkan luasnya 79m dua lantai. Kesannya memang sempit karena banyak kamar. Dan semua tanah habis untuk bangunan dan carport. Ibunda cuma melihatnya sekilas saja. Wah, alamat kena veto lagi, pikir saya.

Ada satu lagi rumah di depan kompleks itu. Dua lantai, luas 130m. Secara lokasi cocok. Di dekat kompleks ada musholla dan masjid. Tapi melirik saja saya tidak berani karena harganya memang di luar kemampuan. Lagi-lagi si Mamah masuk ke rumah dan tanya-tanya. Saya sih suka, tapi ya itu, harganya di luar kemampuan. Beliau cuma tanya pendek ke kami, “Suka nggak?”, “Suka sih, tapi… bla bla bla”. Tanpa buang waktu, beliau sudah pasang harga pertama. Negosiasi sudah dimulai. Buset…

Tapi mungkin karena sudah jodoh ya, pada akhirnya rumah itu harga deal-nya masuk ke kemampuan saya — yah… dengan mengencangkan ikat pinggang. Setelah itu bagian saya untuk mengurus permohonan loan ke kantor, pemeriksaan surat-surat, dsb. Alhamdulillah semua lancar dan selesai hari Senin kemarin.

Sekarang harus siap-siap pindah dari kos-kosan di tengah kota ke pinggiran kota Jakarta. Benar-benar hidup yang baru. Bismillah!

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. mantab… cedak knip berarti ya.
    Klo aku pure dewean sama desy. gak pake mertua & orang tua. Lha nun jauh disana hahaha.
    Seru juga kok tapi.
    Berbekal antena, belalang tempur(N 3508 NO), cenayang dan logika..hahaha.

  2. alhamdulillah.. akhirnya sudah ketemu jodoh bro, barokallah.. semoga tinggal di rumah itu hati menjadi adem ayem rukun bahagia sama istri dan anak-anak..

    yakinlah, gak lama setelah tinggal di rumah itu akan timbul keinginan untuk punya rumah berikutnya 🙂

    btw rumahnya gede, lebih gede dari rumahku, dan sudah 2 lantai. jan manteb tenan ini. kalo di keputih, ini minimal 750 bro. di situ kena berapa? (penasaran)

  3. wahh,,,ga sengaja pada saat mencari tentang suasana lingkungan jagakarsa, saya menemukan blog ini. kebetulan bulan ini saya akan pindah di kompleks di yang didatangi pertama itu mas hehe…sayang ya ga jd di ambil, klo jd bisa jadi tetangga kita hehe…

    memang yg jadi minus dr kompeks pertama adalah jalan nya yang sempit. kalau untuk pabrik kayu di depan justru saya ga jd masalah sih mas, karena pintu pabriknya pun jarang terbuka sih. kalau boleh tahu knp langsung di veto sama ibunda nya mas???

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *