Auto Pilot

Dow Theory, sebuah teori dasar analisis teknikal pergerakan harga saham, menyatakan bahwa price discount everything. Artinya semua hal yang mempengaruhi harga saham telah tercermin dalam pergerakan harga. Semua hal, termasuk fundamental perusahaan, rumor, berita, aksi korporasi, dsb. Oleh karena itu, menurut Dhow Theory, analisis fundamental terhadap suatu saham tidak diperlukan karena itu semua sudah tercermin pada harganya. Ini bertentangan dengan teori para fundamentalis yang menyatakan bahwa pergerakan harga itu sama sekali tidak berarti apa-apa, hanya sebuah kejadian yang random.

Dow Theory lebih sering digunakan oleh para trader — yaitu investor yang lebih fokus pada perubahan harga saham sebagai basis profitnya, atau istilah kerennya capital gain, bukan fokus pada dividen.

Seperti yang pernah saya tulis, aktivitas trading sebenarnya adalah menetapkan sebuah sistem dan aturan kapan beli dan kapan menjual saham berdasarkan indikator-indikator statistik yang diambil dari harga kemarin-kemarin (historical price). Keputusan beli dan jual bisa diambil murni statistik. Oleh karena itu aktivitas trading sebenarnya bisa dilakukan oleh mesin secara autopilot. Ini membantu trader melepaskan diri dari beban psikologis untuk disiplin, utamanya ketika harga bergerak melawan prediksinya.

Katanya, software seperti MetaStock bisa melakukan analisis teknikal, menetapkan aturan-aturan beli dan jual, melakukan backtesting atau melakukan simulasi aturan tersebut dengan harga-harga yang telah terjadi. Tapi pas saya download versi trial software ini saya nggak ngerti cara pakainya, hahaha… Sudah harganya mihil, trainingnya juga mihil… 😀

Saya jadi pengen bikin software itu sendiri. Ketertarikan saya terhadap trading sebenarnya bukan keuntungan atau ruginya, tapi analisis dan forecasting-nya yang menggunakan ilmu statistik. Mungkin menyenangkan sekali jika saya punya mesin yang memantau harga di lantai bursa, melakukan analisis sendiri, dan memberi tahu saya ketika ada saat yang tepat untuk melakukan positioning.

Saya sendiri jarang punya waktu untuk memantau harga di lantai bursa. Saya berinvestasi dengan reksadana dan jika di akhir bulan masih ada sisa anggaran, saya pakai untuk belajar trading.

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

  1. entah apa yang terjadi dalam dunia jual-beli saham sekarang ini, ada banyak yang request vps windows buat dipasangi metatrader, yang katanya bisa autopilot jugak, tapi kemudian bulan depan gak diperpanjang karena sudah ‘kalah banyak’ 🙂

    dan hal-hal seperti ini selalu menjadi peluang bagi penyelenggara training :d

    1. Kalau Metatrader itu software buat forex mas bud, sodaranya Metastock. Kalau forex saya tidak berani, sepertinya teori Dow tidak berlaku di forex, pergerakannya terlalu liar. Selama riset saya sebulan pakai account dummy, sistem trading yang saya pakai di saham tidak jalan. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *