Potongan Puzzle

Hidup itu seperti potongan puzzle, setiap kejadian adalah potongan-potongan puzzle yang pada awalnya nampak tidak beraturan, tetapi lama kelamaan bersusun-susun sendiri menjadi mozaik yang sempurna. Cuma kadang-kadang potongan puzzle ini adalah potongan yang menyedihkan dan mengecewakan, yang itu diperlukan untuk menyusun kesempurnaan mozaik.

Bilang apa saya ini? Begini, kalau saya melihat ada dimana saya sekarang ini, betapa hari ini adalah susunan mozaik sempurna dari potongan puzzle tahun-tahun sebelumnya. Dan hari ini adalah potongan puzzle yang menyusun mozaik di masa depan.

Terus terang saya membenci ungkapan semua akan indah pada waktunya. Sebagai makhluk Tuhan yang sombong, saya menuntut keindahan pada setiap waktu, bukan harus menunggu. Saya meminta dan berdoa pada Tuhan supaya mengabulkan keinginan saya pada saat itu juga. Padahal Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi. Pada setiap titik kekecewaan, saya mempertanyakan, apa ada rencana yang lebih baik lagi? Kapan? Sabar, semua akan indah pada waktunya. Kapan? Ya sabar saja.

Saya yang selalu gagal dalam ujian psikotest sampai saya membenci setiap psikolog industri yang menangani rekrutmen. Saya trauma kalau disuruh datang lagi ke gedung lembaga psikologi UI di Salemba. Saya melamar ke Chevron Indonesia, ExxonMobil Indonesia, PT. Badak NGL, Total E&P Indonesie — mayoritas saya gagal di tahap psikotest. Di BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) semua calon atasan saya (baik Kadiv dan Kadin) sudah menyalami saya memberi ucapan selamat datang, tetapi lagi-lagi psikotest keparat menggagalkan saya. Terakhir, saya melamar ke HESS, juga perusahaan minyak, saya lolos sampai ke tahap terakhir sebelum wawancara dengan VP Regional Asia-Pacific — gara-gara tidak ada psikotest, dan saya tidak dihubungi lagi setelah tahap terakhir itu.

Hanya di VICO Indonesia, tempat saya pertama kali memulai karier sebagai junior petrotechnical programmer, saya lolos psikotest dan lancar sampai akhirnya diterima sebagai employee permanen. Ini puzzle yang pertama. Mas Dennis, kakak saya si pemilik sahabatcantikmu.com, waktu saya gagal di HESS bilang, takdirmu memang di VICO.

Sekarang, saya tahu bahwa setiap kegagalan saya itu, hanya untuk mengantarkan saya ke rencana terbaik yang telah disiapkan Allah kepada saya.

Jika saya masuk BPMIGAS, saya tidak akan pernah memiliki gelar master, karena saya sudah merasa cukup dan tidak merasa butuh sekolah lagi. Jika saya masuk BPMIGAS, saya akan merasakan kepanikan luar biasa ketika BPMIGAS dilikuidasi pemerintah. Sampai sekarang, BPMIGAS masih menjadi satuan kerja di kementerian ESDM — katanya paling nggak baru akan ada kepastian setelah Pemilu 2014. Jadi mainan politikus.

Kemarin saya mendengar berita, HESS hengkang dari blok Laut Jawa karena hasil eksplorasinya tidak sesuai ekspektasi. Saya cuma melongo saja mendengar berita itu. Subhanallah.

Dan yang paling luar biasa tentu puzzle terakhir ini. Saya bertemu dengan insya Allah jodoh dunia-akhirat saya di kantor. Apa yang terjadi kalau saya resign sebelum 2012? Saya seperti ditahan di sini untuk menunggu the-one menyelesaikan kuliah dan masuk bekerja di sini.

Masih terbayang setiap patah hati kepada setiap wanita yang pernah saya kejar, saya lamar, saya dekati. Kalau nggak ditolak ya sudah punya pasangan. Dan saya itu cinta damai, daripada merusak hubungan orang lain, mendingan saya mundur. Pria lembek yang tidak mau memperjuangkan cintanya? Bukan, saya adalah pria yang realistis.

Ternyata setiap titik kekecewaan adalah pembelajaran untuk menjadi pria yang lebih dewasa dari waktu ke waktu. Allah sedang mempersiapkan saya untuk menyambut kedatangan wanita yang telah Dia siapkan untuk saya. Dan wanita yang mau menerima saya ini, adalah yang terbaik yang pernah saya temui, insya Allah. Allah benar-benar mengabulkan doa saya, “Ya Allah, saya itu tidak mau mencari pacar, saya ini mencari isteri.” Dan Allah memberikan seseorang yang sangat kompeten menjadi isteri, bukan pacar.

Tentu saja jalan tidak selalu mulus. Namanya cowok dan cewek mencoba jalan bareng, ada saja masalahnya. Dan saya memilih untuk menyimpannya saja. Karena itulah saya undur diri dari Twitter. Saya tidak mau adegan berantem kami disaksikan semua orang. Twitter itu tempat umum, dan bertengkar di tempat umum itu tidak menyelesaikan masalah. Saya sudah sering melihat adegan balas-balasan twit sinis tanpa mention ke orangnya, tapi sangat jelas siapa yang dituju.

Jadi begitulah, setiap hal akan indah pada waktunya. (And I still hate this f***’ statement).

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 thoughts

  1. Jujur: baru aja ngepoin TL mas Galih, kenapa jarang banget nongol akhir2 ini 🙂

    And yes, itu sikap yang menurut saya bijak kok. Saya yakin itu. Soalnya mas Galih sudah tua, maaf maksud saya, dewasa.

    Dan tentang psikolog industri dan organisasi… Apakah anda juga membenci saya, mas? Jelas sekali pernyataan anda di artikel di atas :))))

  2. Sama cerita kita mas, saya juga trauma psikotest, kebetulan saya lagi dipanggil buat psikotest vico. Yah kali aja mujur atau bahkan lebih sial lagi, haha. Sekalian kalo ada tips test vico bisa dijabarin mas. Thx.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *