Akuisisi dan Monetisasi

Akuisisi oleh raksasa bisnis terhadap sebuah web 2.0 yang user-generated-content hampir selalu membuat luka di kalangan pengguna setianya. Pengguna merasa dikhianati oleh owner/founder yang mendapatkan guyuran uang. Seperti yang saya baca hari ini melalui Feedly, Goodreads diakuisisi oleh Amazon. Saya jadi ingat ketika Kaskus diakuisisi Djarum. Owner nya yang masih muda menjadi Mark Zuckerberg-nya Indonesia. Seketika itu pula banyak moderator dan donatur Kaskus yang hengkang karena merasa dikecewakan (atau karena tidak kebagian?). Atau Koprol ketika diakusisi Yahoo!

Pengguna memang patut merasa dikhianati. Setiap web 2.0 besar karena diramaikan dan dikayakan oleh pengguna setia. Web 2.0 tidak ada harganya ketika tidak ada komunitas yang terlibat aktif di dalamnya. Memang beginilah salah satu model bisnis web 2.0, melakukan monetisasi dengan harta yang paling berharganya yaitu komunitas. Facebook, Twitter, Kaskus, tidak akan bernilai ketika semua penggunanya meninggalkannya. SalingSilang pernah mencoba membuat sangat banyak web user-generated-content dengan harapan yang sama — dan mereka gagal.

Permasalahannya, siapa yang berhak memiliki kekayaan intelektual ini? Idealnya tentu ada di setiap pengguna dan pemilik tidak berhak memiliki. Tetapi setiap web 2.0 yang besar membutuhkan biaya operasional yang sangat besar pula. Juga tidak adil jika itu dibebankan ke pemilik. Nggak fair jika setiap pengguna bersenang-senang di atas penderitaan pemilik yang susah payah mempertahankan agar layanan itu tetap jalan. Sudah gak dibayar, dimaki-maki user pula.

Idealisme tentu memiliki batas. Melakukan monetisasi dengan cara diakuisisi adalah salah satu jalan keluar agar layanan bisa tetap jalan. Masalahnya sejauh apa monetisasi mengintervensi idealisme? Investor tentu saja mengharapkan keuntungan tertentu atas sebuah akuisisi bisnis.

Makanya Wikipedia memilih untuk menggalang dana dari penggunanya sendiri untuk mempertahankan idealismenya.

Kembali ke Goodreads, Damar Juniarto, seorang moderator Goodreads mengajak untuk membangun rumah sendiri untuk komunitas Goodreads Indonesia. Kalaulah nanti rumah itu jadi dan besar, tentu mereka akan mengalami masalah yang sama. Ini tentang idealisme melawan realita.

Saya sendiri untungnya tidak terlalu terlibat dengan Goodreads, meskipun saya sendiri adalah seorang Goodreads Librarian. Tetapi dengan hilangnya Posterous, kemudian hilangnya independensi Goodreads, saya sedang berpikir apakah saya punya cukup waktu untuk memindahkan semua koleksi buku dan review saya ke www.galihsatria.com. Saya pernah punya konsep perpustakaan digital yang penggunanya bisa saling pinjam. Sayangnya, keluangan waktu adalah sebuah kemewahan bagi saya sekarang.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Hmm…
    Ada untungnya saya punya blog buku sendiri ya.

    Menurutmu, apa yang kamu pertahankan jika saja kamu jadi Otis, realita atau idealisme?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *