Catatan Umrah, Tentang Travel Penyelenggara

Bandara King Abdulaziz Jeddah, 28 Maret 2013.

Ini akan menjadi catatan terakhir saya mengenai perjalanan umrah tahun ini.

Baiklah, sekarang saatnya membahas tentang EO-nya. Terus terang waktu saya riset tentang travel perjalanan umrah, saya tidak punya referensi travel yang terpercaya. Sekarang ini kan buanyaaakkkk sekali travel umrah secara ibadah ini sedang ngetren — terima kasih kepada artis-artis yang mempopulerkan umrah ini.

Perlu saya garis bawahi di sini, menurut saya, hukum menunaikan ibadah umrah itu sunnah, sementara haji itu wajib. Sehingga seharusnya, mengumpulkan dana untuk ibadah haji lah yang didahulukan. Dalam kasus saya, hukumnya adalah wajib karena ini adalah nadzar yang harus saya laksanakan atas janji saya kepada Allah.

Mari kita bahas dari yang paling sensitif dulu: harga. Saat ini sudah bejibun travel penyelenggara perjalanan umrah. Range harganya sangat luas, mulai dari 15-an juta hingga 30 juta lebih. Paket yang ditawarkan pun bermacam-macam, mulai umrah reguler hingga umrah plus. Plus Mesir, plus Eropa, plus Masjid Al-Aqsa, dsb.

Tentu saja ada harga ada kualitas dong. Paling tidak, komponen biaya-biaya utama dalam perjalanan umrah adalah berikut ini:

  • Pesawat yang dipakai. Maskapai tanah air yang ke Saudi adalah Garuda Indonesia dan Lion Air, keduanya langsung menuju Jeddah. Beberapa travel yang lebih murah menawarkan menggunakan maskapai lain seperti Malaysian Airlines atau Emirates Airlines, perlu dicek apakah pakai transit dulu. Pertimbangkan waktu transit karena perjalanan Indonesia – Saudi Arabia itu perjalanan super panjang. Waktu transit akan menjadi waktu yang cukup melelahkan — apalagi jika sampai di tempat transit harus mengurus sendiri. Bandara luar negeri, bahasa Inggris bukan bahasa utama, belum lagi koper-koper yang harus dibawa. Bayangkan jika kita harus mengurus sendiri transit di bandara di Yaman atau Dubai begitu misalnya.
  • Hotel tempat menginap. Tingkat bintang hotel di sana diukur dari jaraknya ke Masjid. Ada ring satu, ring dua, ring tiga. Cek dimana tinggalnya. Sejauh pengalaman saya, setengah jam sebelum adzan, masjid sudah penuh. Jika kita tiba pas ketika adzan, kita akan dapat tempat di pelataran masjid. Setiap jamaah rebutan posisi shaf terdepan.
    Di Madinah, saya tinggal di Al-Haram Hotel yang ada di ring dua. Perjalanan ke pelataran masjid adalah lima menit, dan sampai shaf terdepan membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit.
  • Akomodasi. Bus yang digunakan, soalnya saya sempat melihat ada rombongan jamaah yang menggunakan bus tua seperti yang dipakai bus Cawang – Grogol.
  • Makan dan minum. Rata-rata rombongan makan di food court hotel. Tapi perlu dicek juga fasilitas ini disediakan oleh travel atau tidak.

Jadi bagaimana kriteria saya memilih travel?

Satu: Google. Kepada siapa lagi anak IT ini harus bertanya? Saya sudah terlalu terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan Google. Jadi daftar travel saya ambil dari Google untuk disortir. Travel yang memiliki website akan saya nilai lebih. Tetapi website yang asal-asalan akan saya nilai kurang. Terupdate atau tidak juga faktor yang sangat penting.

Dua: Cek apakah travel tersebut memiliki pengalaman yang sudah lama. Apakah travel tersebut terdaftar di Kementerian Agama? Berapa kali dalam sebulan ia memberangkatkan jamaah umrah? Semakin sering jadwalnya tentu saja menandakan ia profesional.

Sebenarnya saya hanya memeriksa itu saja. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih NRA Tour (http://www.nra-tour.com). Yang jelas setiap kali pulang kantor saya itu selalu melewati kantor biro jasa umrah ini dan kok sepertinya kena di hati. Waktu saya datang dan tanya-tanya sepertinya juga menyakinkan. Jadi saya bismillah saja.

Perjalanan saya kurang lebih seperti ini:

  • 20 Maret 2013. Manasik Umrah di Wisma Umrah dan Haji Warung Buncit. Saya izin untuk pulang setengah hari. Hari itu koper besar dikumpulkan. Acara manasik dilakukan di ballroom dan dijamu dengan menu prasmanan dipandu oleh dua orang ustadz pembimbing, Ustadz Sugiarto dan Ustadz Agung MA (Makassar Asli). Saya menjadi yang paling aneh sendiri karena berangkat sendirian, hehe…
  • 21 Maret 2013. Berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia GA0980 menuju ke Bandara King Abdulaziz Jeddah. Rombongan berkumpul di terminal 2D untuk menerima Paspor, Visa, dan boarding pass. Boarding jam 11 siang, saya menghabiskan waktu di BNI Lounge. Tiba di Jeddah pukul 17:30 waktu setempat. Rombongan baru bisa meninggalkan bandara menuju ke Madinah pukul 21:00.
  • 22 Maret 2013. Dini hari rombongan tiba di Madinah dan menginap di Al-Haram Hotel.
  • 23 Maret 2013. Ziarah kota Madinah, menuju masjid Quba, Kebun Kurma, Bukit Uhud, dan Percetakan Al-Qur’an.
  • 24 Maret 2013. Mandi ihram, memakai pakaian ihram, dan selepas shalat Dzuhur, check out. Rombongan meninggalkan Madinah dan menuju ke Makkah dengan mampir di Dzul Hulaifah atau Bir Ali untuk mengambil miqat dan berniat umrah. Labbaik Allahumma Umratan.
  • 25 Maret 2013. Rombongan menginap di Makkah Clock Tower Hotel (Fairmont) di Zam-Zam Tower. Dini hari itu menyelesaikan thawaf, sai, dan tahallul. Hari itu acara bebas.
  • 26 Maret 2013. Ziarah kota Makkah, menuju ke Jabbal Tsur, Padang Arafah dan Jabbal Rahmat, Muzdalifah, Mina, Jabbal Nur, dan akhirnya berhenti di masjid Ji’ranah. Mengambil miqat bagi yang melaksanakan umrah kedua.
  • 27 Maret 2013. Acara bebas.
  • 28 Maret 2013. Thawaf Wada’, perpisahan dengan Masjidil Haram. Bertolak menuju ke Jeddah. Di Jeddah mampir di Balad dan shalat Dzuhur di masjid terapung di tepi Laut Merah (yang airnya ternyata berwarna biru juga hehehe). Lepas dari situ langsung menuju ke Bandara King Abdulaziz untuk siap-siap pulang.
  • 29 Maret 2013. Pukul 09:00, pesawat GA0981 Boeing 747-800 mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Segala urusan koper bagasi imigrasi dan lain-lain selesai pukul 10:30. Sampai di luar terminal disambut oleh senyum ceria sang calon isteri. Alhamdulillah, hehehe…

Terakhir, dalam hal umrah ini, saya rasa yang paling perlu diperhatikan adalah niat. Luruskan niat. Memilih travel yang sedikit lebih mahal supaya bisa fokus dan khusyuk dalam beribadah saya rasa bukan hal yang salah, setidaknya itu pertimbangan saya waktu memilih travel.

Semoga nanti bisa balik ke sana lagi menunaikan kewajiban ibadah haji. Amiin. Labbaikallahumma labaik!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *