Catatan Umrah: Miqat dari Ji’ranah

Makkah Al-Mukaramah, 26 Maret 2013.

Setelah menyelesaikan prosesi umrah di Senin dini hari, seharian itu acaranya bebas. Boleh belanja, boleh tidur di hotel, boleh istirahat melepas penat. Hari Selasa, rombongan diajak ziarah kota Mekkah. Kami mengunjungi Jabbal Tsur, bukit dimana terdapat goa yang dipakai Rasulullah untuk menghindar dari kejaran pemuda Quraisy yang diiming-imingi hadiah 100 ekor unta jika berhasil menangkap Rasulullah. Di sini kami sekadar lewat saja tidak sampai naik bukitnya. Pagi masih jam 09:00, tapi panasnya itu bo, sudah menyilaukan.

Kami kemudian menuju ke padang Arafah, tempat jamaah haji melaksanakan Wukuf. Kami mengunjungi Jabbal Rahmah, tempat Rasulullah menyampaikan khotbah panjangnya di Haji Wada’. Di bukit ini banyak yang melakukan vandalisme dengan mencorat-coret batu. Juga banyak yang meratap di tugu penanda. Hati-hati. Hati-hati. Lagipula, Arafah ada di luar areal tanah haram, bukan tempat yang mustajabah, kata ustadz. Tempat ini mustajab hanya tanggal 9 Dzulhijah saja waktu wukuf dilaksanakan.

Muzdalifah, tempat jamaah haji bermalam dan mengumpulkan batu sebelum bertolak ke Mina untuk melontar jumrah adalah tempat yang berdekatan. Suasananya sepi jika bukan bulan haji. Di sana banyak kontainer-kontainer untuk toilet yang difungsikan setahun sekali. Saya berdoa semoga kelak saya kembali ke sini untuk menunaikan ibadah haji bersama isteri.

Dari Mina, rombongan menuju ke Ji’ranah untuk melakukan miqat. Umrah kedua. Menurut ustadz, dalil yang dipakai adalah hadits “Antara umrah menuju umrah berikutnya menjadi penghapus (dosa) di antara keduanya”. Karena itu kita bisa bolak-balik dari Makkah ke tempat-tempat miqat di Ji’ranah, Tan’im, atau Hudaibiyah untuk melaksanakan umrah pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pertama kali yang melintas di pikiran adalah, wah panas dong umrah dan sai siang-siang bolong. Tapi itu hanya sarana pikiran saya untuk mengajak menelaah lebih dulu dalil-dalilnya — tidak langsung ikutan, meskipun kain ihram sudah saya siapkan (tapi belum memutuskan niat atau tidak).

Setelah menimbang-nimbang baik dan buruknya, dan dalil yang mendasarkan umrah kedua ini, saya memutuskan untuk thawaf saja tanpa berniat umrah kedua. Saya memutuskan untuk tidak ikut dengan tidak membawa kain ihram ke bus. Tentu saja saya menghormati travel yang menyelenggarakan. Saya tidak mengatakan pendapat mereka salah, lhawong saya cuma riset sebentar dari apa yang didapat di internet. Saya juga tidak punya agenda untuk meng-umrah-badal-kan kerabat.

Pas sampai di sini saya melihat para ustadz pembimbing sangat bijaksana. Menyadari memang ada perbedaan pendapat, para ustadz bersikap memfasilitasi semua jamaah. Yang ingin umrah kedua difasilitasi dengan diantarkan ke sini sementara yang tidak juga tidak dipermasalahkan.

Ji’ranah, Sebuah Sindiran

Di perjalanan dari ziarah Arafah-Muzdalifah-Mina sampai Ji’ranah, ustadz pembimbing bercerita mengenai wanita Ji’ranah di Al-Qur’an surat An-Nahl 92.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, … (dst)

Seorang wanita bernama Ji’ranah kerjaannya memintal benang, lalu sesudah menjadi kain diuraikannya kembali, lalu dipintal lagi, begitu seterusnya.

Ini adalah sindiran untuk semua jamaah Umrah. Ketika di tanah suci, semua adalah untuk beribadah. Sejam bahkan dua jam sebelum waktu shalat sudah standby khusuk di shaf depan. Tak ada shalat sunnah yang tak ditunaikan — rawatib, tahajud, dhuha. Tadarus dan tilawah…

Apakah itu akan hilang tak berbekas ketika kembali ke tanah air?

Ustadz Sugiarto, ustadz pembimbing kami, mengingatkan supaya kita semua tidak seperti Ji’ranah yang mencerai-beraikan benang yang sudah dipintal menjadi kain. Supaya ibadah umrah kali ini berbekas dan tingkat ibadahnya sama dengan waktu di tanah suci. Tak ada lagi shalat sendirian di rumah, harus di masjid berjamaah. Itulah umrah yang mabrur…

Berat… Tapi Insya Allah bisa!

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *