Catatan Umrah: Al-Haram

Makkah Al-Mukaromah, 25 Maret 2013.

Saya menginap di hotel Fairmont, Zam-Zam Tower. Ini hotel buagus banget tetapi kalau dibandingin dengan hotel-hotel di Jakarta, ya jauh kemana-mana dalam hal keramahannya. Di sini, pelayan hotel bagus begini saja gak bisa senyum dan melayani. Pelayan hotel Indonesia memperlakukan tamunya seperti raja, celemek aja dipasangin sama dia. Di sini, boro-boro, nuangin teh aja yang dikasih tekonya sekalian — dan tidak pakai senyum.

Hajar Aswad

Mencium hajar aswad itu sunnah, menyakiti orang lain itu haram. Tapi mengapa banyak orang terobsesi menciumnya? Kalau ga salah ingat Umar bin Khattab pernah berkata (kurang lebih) “Kalau saja Rasulullah tidak menciumnya, batu itu tidak kucium.” Artinya hal ini bukan sesuatu yang urgen untuk dilakukan, harus melihat situasinya. Bahkan konon ada jasa yang mengantarkan orang mencium hajar aswad, jasa untuk mencari jalan dengan berdesak-desakan.

Hati-hati syirik! Setan di tanah haram katanya tidak ada yang pangkatnya kopral. Hati-hati. Sikap yang berlebihan terhadap Ka’bah dan Hajar Aswad, seperti meratap ke dinding, mencium hajar aswad karena percaya itu membawa berkah, bisa berarti mengkultuskan benda mati dan itu adalah syirik. Cukuplah kita memberi penghormatan yang secukupnya. Thawaf untuk menghormati ka’bah dan mencium atau sekadar melambai ke hajar aswad.

Mekkah, kota yang modern. Mekkah jauh berbeda dengan Madinah. Kota ini telah mengalami modernisasi ala barat. Sekarang pelataran masjid Al-Haram dihiasi mall ala mall di Jakarta. Starbucks, tersedia.

Suasana masjid Nabawi jauh lebih berkesan. Pelatarannya diramaikan oleh pasar tradisional. Sekilas cukup mengganggu tapi ternyata jadi ngangenin melihat suasana masjid Nabawi yang syahdu. Bukan berarti suasana di masjid Al-Haram tidak syahdu ya, saya bilang sekitarnya.

Hari Senin adalah hari raya. Masjidil Haram sangat penuh. Ada acara buka bersama raksasa, jamaah dibagi-bagikan kurma sukari lima butir dan air zam-zam sebelum shalat maghrib berjamaah. Penuh dan kebersamaan dalam berbagai bangsa ini membuat saya trenyuh kalau ingat masjid-masjid di tanah air yang hanya penuh di bulan Ramadhan — bahkan termasuk Istiqlal.

Saat shalat berjamaah, saya merasa suara imam begitu familiar. Subhanallah, imam pada hari Senin itu diimami Syekh Abdul Rahman Al-Sudais, yang suaranya ada di murotal saya. Dalam sambutannya, beliau cukup uring-uringan dengan handphone dan kamera yang ada. Ini tanah suci, hormati dengan tidak menggunakan alat itu, begitu katanya. Tau dari mana saya beliau bilang begitu? Yang nerjemahin ustadz pembimbing hehehe…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

One thought

  1. subhanallah diimami ust. Al-Sudais? pasti cetarrrr ulala suara dan feelingnya ya mas 🙂

    pengetahuan baru nih mengenai Hajar Aswad. thx for keep sharing! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *